Badan Energi Atom Internasional (IAEA) resmi mengakhiri status pelanggaran kepatuhan nuklir Suriah yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade. Keputusan konsensus Dewan Gubernur IAEA di Wina menandai babak baru keterbukaan program nuklir Damaskus setelah runtuhnya rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024.
Langkah diplomatik ini diambil menyusul laporan investigasi terbaru yang memverifikasi fasilitas nuklir klandestin peninggalan rezim lama. Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi mengonfirmasi bahwa pemerintah baru Suriah bersikap kooperatif dengan membuka akses ke lokasi-lokasi yang selama belasan tahun dirahasiakan.
Temuan Reaktor Rahasia dan 73 Ton Logam Uranium
Investigasi IAEA mengungkap bukti konkret keberadaan infrastruktur nuklir militer terselubung era Assad. Dalam laporan rahasia pengawas nuklir PBB tersebut, inspektur menemukan sekitar 73 ton logam uranium alamiah yang disimpan di fasilitas rahasia.
Grossi menegaskan bahwa reaktor yang hampir rampung di Deir Ezzor sejatinya dirancang untuk memproduksi material pembuat senjata pemusnah massal. Selain reaktor, tim inspeksi mengidentifikasi pabrik fabrikasi bahan bakar nuklir serta tempat penyimpanan limbah uranium yang sebelumnya tidak pernah dideklarasikan ke komunitas internasional.
"Sangat jelas bahwa pemerintahan sebelumnya menjalankan sejumlah aktivitas klandestin berskala besar. Keputusan otoritas saat ini untuk membuka lokasi yang dirahasiakan adalah langkah yang sangat berani," tegas Rafael Grossi dalam keterangannya di markas IAEA.
Perbandingan Status Program Nuklir Suriah
Keterbukaan rezim transisi Damaskus mengubah peta pengawasan nuklir di Timur Tengah. Berikut perbandingan kondisi pengawasan IAEA terhadap Suriah:
| Parameter Investigasi | Era Rezim Bashar al-Assad (2011–2024) | Pemerintahan Pasca-Assad (2025–Kini) |
|---|---|---|
| Status Resolusi IAEA | Dinyatakan melanggar kewajiban Non-Proliferation Treaty (NPT). | Resolusi pelanggaran 2011 resmi dicabut dan diterminasi. |
| Akses Situs Deir Ezzor | Akses ditutup dan reruntuhan ditimbun selama 18 tahun. | Inspektur IAEA diizinkan melakukan penggalian dan verifikasi lapangan. |
| Deklarasi Material Nuklir | Pemerintah membantah kepemilikan material nuklir terlarang. | Mendeklarasikan temuan 73 ton uranium secara sukarela. |
Kronologi Skandal Nuklir Bawah Tanah Suriah
Penyelidikan panjang terhadap program nuklir rahasia Suriah melewati sejumlah peristiwa geopolitik penting selama hampir dua dekade:
- September 2007: Jet tempur Israel melancarkan serangan udara rahasia (Operation Orchard) yang menghancurkan situs Al-Kibar di Deir Ezzor, lokasi yang diduga kuat membangun reaktor nuklir dengan bantuan teknologi Korea Utara.
- Juni 2011: Dewan Gubernur IAEA mengadopsi resolusi resmi yang menyatakan Suriah bersalah atas ketidakpatuhan terhadap perjanjian pengamanan nuklir.
- Desember 2024: Rezim Bashar al-Assad tumbang, membuka jalan bagi pemerintahan baru untuk mengundang kembali pengawas atom internasional.
- Awal 2025: IAEA memverifikasi dua situs utama, termasuk lokasi penyimpanan material nuklir yang belum pernah terpetakan sebelumnya.
Resolusi penutupan investigasi ini diajukan oleh empat negara Arab, yakni Mesir, Yordania, Maroko, dan Arab Saudi. Kesepakatan ini mendorong otoritas Damaskus untuk terus melanjutkan koordinasi teknis dengan IAEA, terutama dalam proses remediasi dan ekskavasi lanjutan di Deir Ezzor.
Comments (0)