Gunung Karangetang Kembali Erupsi, Lava Pijar Malam Minggu

Gunung Karangetang di Pulau Siau, Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang mengkhawatirkan pada Minggu malam (12/7). Gunung api yang dikenal sebagai salah satu pal...

Jul 13, 2026 - 21:07
0 0

Gunung Karangetang di Pulau Siau, Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang mengkhawatirkan pada Minggu malam (12/7). Gunung api yang dikenal sebagai salah satu paling aktif di Indonesia itu memuntahkan lava pijar dan aliran lava dari kubah pusat, menciptakan pemandangan dramatis namun sekaligus ancaman bagi permukiman di sekitarnya. Warga di lereng-lereng terdekat mendengar gemuruh kuat yang mengiringi muntahan material pijar, sementara pos pengamatan melaporkan terjadinya peningkatan aktivitas kegempaan sejak sore hari.

Kronologi Erupsi dan Data Visual

Berdasarkan laporan dari pos pengamatan Gunungapi Karangetang, erupsi utama tercatat pada pukul 19.14 WITA. Kolom asap berwarna kelabu hingga hitam tebal membubung setinggi ratusan meter di atas kawah utama, disertai semburan lava yang mengalir ke arah selatan dan tenggara. Beberapa titik api terlihat jelas dari kaki gunung, menandakan lava masih aktif mengalir beberapa kilometer ke bawah. Rekaman seismograf menunjukkan adanya tremor menerus dengan amplitudo yang meningkat tajam, sebuah sinyal bahwa dapur magma sedang mengalami tekanan tinggi. Petugas pos langsung menaikkan status gunung ke level Siaga (Level III) dan memperingatkan adanya potensi luncuran awan panas jika kubah lava tidak stabil.

Data visual yang dihimpun dari CCTV pengamatan dan laporan warga menunjukkan bahwa aliran lava pijar terfokus di dua lembah sungai kering di sektor selatan dan tenggara. Jarak luncur lava pada malam pertama diperkirakan mencapai 2,8 kilometer dari kawah. Meskipun tidak ada letusan eksplosif besar, ancaman guguran lava pijar dan material vulkanik lepas tetap tinggi. Hujan abu tipis dilaporkan mengguyur Desa Bebali dan Desa Lelipang, dua permukiman terdekat di kaki selatan gunung.

Dampak terhadap Warga dan Lingkungan

Ratusan warga yang tinggal di radius 4 kilometer dari puncak—zona bahaya utama—langsung meningkatkan kewaspadaan. Beberapa keluarga di Dusun Kola-Kola, yang berada tepat di jalur aliran lava historis, memilih mengungsi mandiri ke rumah kerabat yang lebih aman di bagian utara pulau. Meskipun belum ada perintah evakuasi massal dari pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sitaro telah mendirikan posko pengungsian sementara dan mendistribusikan masker untuk mencegah gangguan pernapasan akibat abu vulkanik.

Sejauh ini belum ada laporan korban jiwa. Namun, lahan pertanian kebun pala, cengkih, dan kelapa—komoditas utama warga Pulau Siau—terancam rusak oleh timbunan abu dan aliran lava. Akses jalan menuju desa-desa di lereng selatan terputus sementara karena material vulkanik yang memenuhi badan jalan. Tim reaksi cepat TNI dan polisi setempat sudah dikerahkan untuk memantau jalur evakuasi dan memastikan logistik dasar tersedia.

Sejarah Aktivitas Gunung Karangetang

Gunung Karangetang, dengan ketinggian 1.784 meter di atas permukaan laut, termasuk dalam kategori stratovolcano tipe A—yakni gunung api yang mengalami erupsi magmatik setidaknya satu kali setelah tahun 1600. Data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat, Karangetang telah meletus puluhan kali dalam dua dekade terakhir, menjadikannya laboratorium alam bagi para ahli vulkanologi. Erupsi besar pada tahun 2019 menghasilkan aliran lava sepanjang 3,5 kilometer dan awan panas yang mengharuskan ribuan warga mengungsi. Karakter letusannya cenderung efusif dengan pertumbuhan kubah lava, yang sewaktu-waktu bisa longsor dan menghasilkan aliran piroklastik mematikan.

Pakar geologi dari Universitas Sam Ratulangi, dalam publikasinya, menyebut bahwa posisi tektonik Pulau Siau di zona subduksi ganda menjadikan magma di bawah Karangetang sangat aktif dan kaya gas. Hal ini menjelaskan mengapa gunung ini hampir tidak pernah surut total; aktivitas hembusan asap dan gempa vulkanik selalu terjadi sepanjang tahun. Masyarakat setempat telah terbiasa hidup dengan ancaman erupsi, namun peningkatan status ke Siaga selalu memicu refleks siaga bencana yang terlatih.

Imbauan dan Langkah Mitigasi

PVMBG merekomendasikan agar masyarakat dan wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 4 kilometer dari puncak, serta memperluas larangan hingga 5 kilometer di sektor selatan dan tenggara mengikuti arah aliran lava. Pendaki dilarang keras mendekati area kawah karena risiko semburan gas beracun dan lontaran material mendadak. Pemerintah Kabupaten Sitaro telah mengeluarkan imbauan agar kapal-kapal penyeberangan ke Pulau Siau menginformasikan kondisi terkini kepada penumpang, mengingat pelabuhan utama di Ulu Siau dapat terkena dampak hujan abu jika angin bertiup ke timur.

Para petugas terus memantau perkembangan kegempaan dan visual gunung selama 24 jam. Masyarakat diimbau mengikuti informasi resmi dari PVMBG dan tidak mudah percaya kabar bohong yang bisa memicu kepanikan. Jika intensitas erupsi meningkat dan mengarah pada potensi awan panas berskala besar, status Awas (Level IV) dapat diberlakukan dalam hitungan jam, yang berarti evakuasi massal wajib dilakukan. Saat ini, Karangetang kembali membuktikan bahwa tidurnya hanyalah jeda di antara siklus letusan yang selalu ditunggu oleh magma di perut bumi Siau.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
ramadiansyah

Editor Investigasi. Pemenang penghargaan jurnalisme investigasi. Spesialisasi: korupsi, kolusi, dan maladministrasi.

Comments (0)

User