Gelar Coffee Talks, Solo Book Party Ajak Pelajar Isi Liburan Produktif di
Memadukan Aroma Kopi dan Literasi di Tengah Liburan SekolahSuasana akhir pekan di bilangan Slamet Riyadi terasa berbeda ketika puluhan anak muda berkumpul bukan untuk sekadar bersantai, melainkan terl...
Memadukan Aroma Kopi dan Literasi di Tengah Liburan Sekolah
Suasana akhir pekan di bilangan Slamet Riyadi terasa berbeda ketika puluhan anak muda berkumpul bukan untuk sekadar bersantai, melainkan terlibat dalam perbincangan serius yang ditemani secangkir kopi hangat. Pada Sabtu, 11 Juli 2026, sebuah perhelatan unik bernama Coffee Talks with Book sukses digelar, menjadi titik temu antara para pencinta buku, pegiat literasi, dan remaja yang tengah menikmati masa jeda sekolah. Acara ini menjadi bukti bahwa liburan tidak selalu identik dengan perjalanan wisata, melainkan dapat diisi dengan kegiatan yang merangsang pikiran dan memperluas wawasan.
Inisiatif ini lahir dari kolaborasi strategis antara dua entitas yang memiliki visi sejalan, yaitu The Sunan Hotel Solo yang merepresentasikan ruang publik modern, serta komunitas Solo Book Party yang konsisten mengampanyekan budaya literasi di kalangan generasi muda. Dengan memilih lobi hotel yang disulap menjadi ruang diskusi kasual, acara ini berhasil menghilangkan kesan kaku yang kerap melekat pada forum-forum kepustakaan. Hadirin diundang untuk duduk dalam formasi santai, berbagi pendapat tentang buku-buku favorit mereka, dan menyesap berbagai varian kopi racikan barista hotel yang disediakan secara cuma-cuma selama sesi berlangsung.
Transformasi Ruang Hotel Menjadi Ruang Dialog Kreatif
Manajemen The Sunan Hotel Solo mengambil langkah di luar kebiasaan dengan membuka pintu bagi kegiatan komunitas yang berfokus pada pengembangan intelektual. Tidak hanya menyediakan tempat, hotel juga turut merancang tata letak acara sedemikian rupa sehingga memungkinkan interaksi yang setara antara pembicara dan partisipan. Sofa-sofa empuk ditata membentuk lingkaran-lingkaran kecil, sementara sudut-sudut tertentu dilengkapi rak buku portabel yang memajang puluhan judul dari berbagai genre. Konsep ini, menurut keterangan panitia, sengaja diambil untuk mendobrak batasan antara ruang privat dan ruang publik, menjadikan hotel bukan sekadar tempat menginap melainkan juga simpul pertukaran gagasan.
Di sinilah letak daya tarik utama Coffee Talks with Book: ia menawarkan pengalaman yang merangkum dua kebutuhan esensial manusia, yaitu nutrisi fisik melalui kopi dan nutrisi batin melalui literasi. Para peserta tidak hanya diajak menyimak presentasi satu arah, tetapi diwajibkan membawa satu buku yang sudah mereka selesaikan untuk kemudian direkomendasikan kepada peserta lain dalam sesi "book swap storytelling". Metode ini memaksa setiap orang untuk benar-benar membaca dan memahami isi buku, karena mereka harus mampu menarasikan daya tariknya secara lisan di hadapan orang asing. Beberapa peserta tampak gugup pada awalnya, tetapi suasana yang hangat dan dipandu oleh fasilitator dari Solo Book Party dengan cepat mencairkan ketegangan.
Merayakan Isi Buku, Bukan Sekadar Sampulnya
Salah satu tantangan terbesar dalam membangun budaya literasi adalah melawan mentalitas instan yang hanya mementingkan citra membaca, bukan proses pemahamannya. Acara ini secara sadar menolak godaan itu dengan menghadirkan segmen "Bedah Isi" di mana setiap buku yang direkomendasikan harus dibahas secara substantif. Peserta ditanya tentang karakter yang paling membekas, konflik utama yang menggugah, dan bagaimana buku tersebut mengubah cara pandang mereka terhadap suatu isu. Alih-alih memfokuskan pada jumlah halaman atau popularitas penulis, diskusi diarahkan pada relevansi tema dengan kehidupan sehari-hari, terutama isu-isu kekinian yang dekat dengan dunia remaja seperti kesehatan mental, pencarian jati diri, dan keberanian untuk berbeda.
Lebih dari itu, panitia juga mengundang seorang penulis muda asal Solo yang baru saja menerbitkan novel perdananya untuk berbagi pengalaman tentang proses kreatif di balik layar. Sesi ini menjadi magnet tersendiri karena para peserta, yang sebagian besar masih duduk di bangku SMA dan perguruan tinggi, bisa bertanya secara langsung tentang bagaimana mengubah ide liar menjadi naskah yang layak terbit. Penulis tersebut menekankan bahwa modal utama bukanlah bakat alami, melainkan konsistensi membaca dan menulis setiap hari, sebuah pesan yang diterima dengan tepuk tangan meriah.
Liburan Produktif Tanpa Meninggalkan Kenyamanan
Momen liburan sekolah kerap dimaknai sebagai waktu untuk bermalas-malasan atau menghabiskan uang di pusat perbelanjaan. Coffee Talks with Book menawarkan alternatif yang tidak kalah menyenangkan namun jauh lebih bernilai secara intelektual. Dengan hanya membawa buku dan semangat bertukar pikiran, para peserta bisa memperoleh jaringan pertemanan baru sekaligus wawasan yang tidak akan mereka dapatkan dari bergulir-gulir layar gawai. Salah satu peserta, seorang siswi kelas 11, mengungkapkan bahwa ia awalnya diajak temannya dengan setengah hati, tetapi setelah sesi recommendations, ia justru ketagihan dan langsung mendaftarkan diri menjadi anggota Solo Book Party.
Pihak hotel pun mengakui bahwa animo terhadap acara ini melampaui target awal. Dari rencana yang hanya membatasi 40 pendaftar, nyatanya lebih dari 70 orang mendaftar dalam waktu dua hari, bukti bahwa kebutuhan akan ruang literasi yang inklusif dan nyata sangat tinggi di kalangan muda Solo dan sekitarnya. Manajemen mengindikasikan bahwa ke depannya, format serupa akan diadakan secara berkelanjutan dengan tema-tema spesifik seperti "Fiksi Ilmiah dan Masa Depan Teknologi" atau "Biografi Tokoh yang Mengubah Indonesia".
Menjadikan Kopi dan Buku sebagai Katalis Perubahan
Fenomena Coffee Talks with Book memperlihatkan bahwa kolaborasi antara sektor bisnis perhotelan dan komunitas literasi bisa menciptakan dampak sosial yang konkret. Hotel tidak hanya mendapatkan citra positif sebagai ruang yang mendukung kegiatan intelektual, tetapi juga membuka peluang segmen pasar baru yang lebih peduli pada konten ketimbang kemewahan. Di sisi lain, komunitas mendapatkan akses ke tempat berkualitas tanpa harus memikirkan biaya sewa yang kerap menjadi kendala utama kegiatan serupa.
Acara ini sekaligus menjadi jawaban atas kegelisahan banyak pihak tentang menurunnya minat baca di era digital. Alih-alih mengutuk maraknya media sosial, para pegiat literasi memilih pendekatan yang lebih adaptif: menjadikan aktivitas membaca sebagai bagian dari gaya hidup yang keren, layak dipamerkan, dan layak dirayakan. Dengan mengemas diskusi buku dalam format yang akrab dengan keseharian remaja, pesan-pesan literasi tersampaikan tanpa terasa menggurui. Harapannya, inisiatif semacam ini akan memicu gerakan serupa di kota-kota lain, sehingga liburan sekolah tidak lagi dipandang sebagai periode kosong tanpa pembelajaran, melainkan episode penting dalam pembentukan karakter generasi mendatang.
Baca juga:
Comments (0)