Eka Tjipta dan Mochtar Riady Gemar Ziarah ke Gunung Kawi
Di balik megahnya gedung-gedung pencakar langit dan imperium bisnis yang membentang luas, ada kisah spiritual yang jarang terungkap dari dua konglomerat le
Di balik megahnya gedung-gedung pencakar langit dan imperium bisnis yang membentang luas, ada kisah spiritual yang jarang terungkap dari dua konglomerat legendaris Indonesia. Eka Tjipta Widjaja, pendiri Sinar Mas Group, dan Mochtar Riady, pendiri Lippo Group, dikenal memiliki satu kebiasaan yang sama: berulang kali menapaki jalan menuju kawasan Gunung Kawi di Malang, Jawa Timur.
Gunung Kawi bukan sekadar destinasi wisata alam biasa. Di lereng gunung ini terdapat kompleks pemakaman Eyang Djoego dan Eyang Iman Soedjono — dua tokoh spiritual yang makamnya menjadi pusat ziarah bagi masyarakat, khususnya warga Tionghoa-Indonesia dan para pelaku bisnis yang mencari keberkahan. Tradisi ini telah berlangsung selama puluhan tahun dan diyakini menjadi salah satu faktor yang membawa keberuntungan dalam perjalanan karier para pengusaha besar.
Jejak Spiritual Eka Tjipta Widjaja di Gunung Kawi
Eka Tjipta Widjaja, yang lahir dengan nama Oei Ek Tjhong, memulai bisnis dari nol. Ia berjualan biskuit keliling di Makassar sebelum akhirnya mendirikan Sinar Mas, konglomerasi yang kini merambah sektor kertas, kelapa sawit, properti, hingga keuangan. Dalam berbagai kesempatan, rekan-rekan dekatnya menceritakan bahwa Eka Tjipta adalah sosok yang sangat menghormati tradisi leluhur dan kerap melakukan ritual spiritual.
"Beliau selalu bilang bahwa keberhasilan bukan hanya soal kerja keras, melainkan juga restu dari yang di atas dan para leluhur. Gunung Kawi menjadi salah satu tempat beliau 'numpang doa' sejak era 1970-an," ungkap seorang kolega dekat keluarga Widjaja yang enggan disebutkan namanya.
Eka Tjipta dikenal rajin melakukan ziarah ke makam Eyang Djoego dan Eyang Iman Soedjono. Ritual yang biasa dilakukan meliputi pembakaran dupa, membawa sesaji, dan berdoa dalam keheningan. Dalam tradisi yang berkembang di Gunung Kawi, para peziarah meyakini bahwa kedua eyang ini merupakan penasihat spiritual Pangeran Diponegoro yang melarikan diri ke kawasan timur Jawa. Hingga kini, aura mistis tetap menyelimuti kawasan makam yang ramai dikunjungi peziarah dari berbagai penjuru negeri.
Mochtar Riady dan Ikatan Batin dengan Tanah Jawa
Tak jauh berbeda, Mochtar Riady — pria kelahiran Malang yang kemudian menjelma sebagai pendiri imperium Lippo Group — memiliki hubungan emosional yang kuat dengan Gunung Kawi. Mochtar yang lahir dengan nama Lie Mo Tie ini memahami betul akar budaya Jawa tempat ia dibesarkan. Dalam autobiografinya, ia menyiratkan bahwa perjalanan spiritual merupakan elemen penting dalam membangun fondasi mental seorang pengusaha.
Mochtar Riady kerap menyempatkan diri mengunjungi Gunung Kawi di tengah kesibukannya mengelola bisnis perbankan dan properti. Ia memandang bahwa keberhasilan Lippo Group — yang kini mengelola lebih dari 50 rumah sakit, universitas, dan berbagai proyek properti raksasa — tidak lepas dari keseimbangan antara usaha lahir dan batin.
"Alam dan spiritualitas mengajarkan kita untuk selalu rendah hati. Di Gunung Kawi, saya diingatkan kembali bahwa kekuatan sejati seorang pengusaha bukan hanya dari strategi, melainkan dari kemurnian niat," demikian petikan pernyataan Mochtar Riady dalam sebuah wawancara media tahun 2010-an.
Fenomena Ziarah Pengusaha ke Gunung Kawi
Fenomena pengusaha besar berziarah ke tempat-tempat spiritual bukanlah hal baru dalam lanskap bisnis Indonesia. Gunung Kawi, secara khusus, memiliki daya tarik tersendiri karena legenda yang menyebutkan bahwa siapa pun yang berdoa dengan tulus di makam kedua eyang akan mendapatkan "pintu rezeki" yang terbuka lebar. Meski terdengar mistis, keyakinan ini telah menjadi bagian dari strategi non-konvensional yang dijalankan banyak pebisnis.
Para pengunjung biasanya datang pada malam-malam tertentu, seperti malam Jumat Legi atau malam 1 Suro dalam penanggalan Jawa. Mereka membawa bunga, dupa, dan air untuk dibacakan doa di depan nisan. Suasana semakin terasa khidmat ketika kabut tipis turun menutupi lereng gunung, menciptakan atmosfer yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Kesuksesan Eka Tjipta dan Mochtar Riady kerap dikaitkan dengan ketekunan mereka menjalankan ritual ini. Sinar Mas kini memiliki kapitalisasi pasar lebih dari US$30 miliar, sementara Grup Lippo mengelola aset yang tersebar di Indonesia, Singapura, hingga Korea Selatan. Keduanya menjadi bukti hidup bahwa perjalanan spiritual bisa berjalan beriringan dengan strategi bisnis modern.
Gunung Kawi Kini: Simbol Harapan Pengusaha Muda
Warisan spiritual ini kini tidak hanya dinikmati oleh para konglomerat generasi pertama. Banyak pengusaha muda yang mulai melirik Gunung Kawi sebagai tempat melakukan refleksi dan mencari ketenangan sebelum mengambil keputusan bisnis besar. Kisah Eka Tjipta dan Mochtar Riady menjadi semacam urban legend yang terus hidup dan menginspirasi.
Pemerintah Kabupaten Malang sendiri telah menetapkan kawasan ini sebagai destinasi wisata religi unggulan. Jumlah peziarah terus meningkat setiap tahun, terutama saat libur panjang atau malam-malam yang dianggap sakral dalam kalender Jawa. Perputaran ekonomi di sekitar kawasan Gunung Kawi pun ikut menggeliat, mulai dari pedagang bunga, penginapan, hingga jasa pemandu ziarah.
Kisah dua konglomerat ini mengajarkan bahwa dalam dunia bisnis yang penuh intrik dan persaingan, masih ada ruang untuk spiritualitas dan penghormatan terhadap tradisi leluhur. Gunung Kawi, dengan segala misterinya, tetap berdiri kokoh menjadi saksi bisu perjalanan para raksasa ekonomi Indonesia.
[SOCIAL_TWEET]: Dua konglomerat legendaris Indonesia, Eka Tjipta Widjaja dan Mochtar Riady, ternyata rajin berziarah ke Gunung Kawi. Di balik kesuksesan Sinar Mas dan Lippo Group, ada ritual spiritual yang terus dijalani. #GunungKawi #KonglomeratIndonesia #KisahBisnis [SOCIAL_TG]: 🌄 Gunung Kawi, tempat para konglomerat mencari berkah. Eka Tjipta Widjaja (Sinar Mas) dan Mochtar Riady (Lippo) adalah dua legenda bisnis yang rajin berziarah ke makam Eyang Djoego. Kerja keras + spiritualitas = resep sukses mereka?
Comments (0)