Sep 17, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Cek Fakta

DPR AS Jegal Trump, Biaya Perang Iran Tembus Rp 668 Triliun

Lorong-lorong Capitol Hill di Washington D.C. kini diselimuti ketegangan politis yang membara. Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk terus

DPR AS Jegal Trump, Biaya Perang Iran Tembus Rp 668 Triliun

Lorong-lorong Capitol Hill di Washington D.C. kini diselimuti ketegangan politis yang membara. Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk terus melancarkan aksi militer di Iran berujung pada krisis fiskal dan politik dalam negeri yang tak terelakkan. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS bergerak cepat mengambil langkah mengejutkan dengan menjegal alokasi anggaran militer tambahan yang diajukan Gedung Putih. Langkah dramatis ini memicu keretakan dahsyat di panggung politik Negeri Paman Sam, terutama setelah estimasi pengeluaran konflik tersebut membengkak hingga menembus angka fantastis, yakni lebih dari Rp 668 triliun.

Keputusan drastis parlemen tersebut bukan sekadar gertakan dari kubu oposisi, melainkan cerminan dari riak ketidakpuasan mendalam yang meluap ke permukaan. Penggelembutan dana operasi militer di tengah tekanan ekonomi yang menghimpit warga sipil telah mengubah konstelasi politik di Washington secara mendasar dan menciptakan jurang pemisah yang kian lebar antara eksekutif dan legislatif.

Pemberontakan dari Dalam Benteng Republik

Hal yang paling memukul Gedung Putih bukanlah gempuran kritik dari kubu Demokrat, melainkan munculnya pemberontakan internal dari para politisi Partai Republik—partai yang mengusung Trump sendiri. Sejumlah legislator sayap kanan dan kelompok konservatif fiskal secara terbuka menyatakan menolak meratifikasi paket bantuan militer darurat tersebut. Mereka menilai bahwa membengkaknya defisit anggaran nasional demi membiayai perang di luar negeri adalah bentuk pengabaian terhadap janji prioritas ekonomi domestik.

"Kami tidak bisa terus-menerus menulis cek kosong untuk konflik tak berkesudahan di kawasan Timur Tengah sementara rakyat kami di dalam negeri tertatih-tatih menghadapi lonjakan harga kebutuhan pokok," tegas seorang anggota senior Komite Anggaran DPR AS dalam rapat tertutup di Capitol Hill.

Keretakan internal ini menjadi penanda krisis kepemimpinan terberat bagi kepresidenan Trump. Penolakan dari internal partai menandakan tingginya kejenuhan publik serta elite politik terhadap intervensionisme militer yang menguras kas negara tanpa memiliki indikator kemenangan atau strategi keluar yang terukur secara jelas.

Anggaran Membengkak dan Bayang-Bayang Inflasi

Berdasarkan dokumen analisis anggaran independen, pengeluaran militer AS untuk eskalasi konfrontasi dengan Iran telah jauh melampaui kalkulasi awal Gedung Putih. Pengeluaran masif ini mencakup pengerahan armada tempur laut, konsumsi amunisi berpresisi tinggi, serta penyiapan logistik pertahanan udara yang menyedot biaya miliaran dolar per minggu.

Sektor Pengeluaran Militer Estimasi Dolar AS Ekuivalen (Rupiah)
Operasi & Logistik Tempur $12 Miliar Rp 192 Triliun
Pengadaan Amunisi & Rudal $15 Miliar Rp 240 Triliun
Pengamanan Jalur Pasokan Energi $14 Miliar Rp 224 Triliun
Total Anggaran Konflik $41 Miliar Rp 668 Triliun

Dampak finansial dari perang ini berimbas langsung pada ekonomi riil masyarakat AS. Gejolak di pasar keuangan global serta gangguan jalur distribusi minyak internasional memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di tingkat konsumen secara tajam. Akibatnya, angka inflasi domestik terkerek naik dan memicu efek domino terhadap lonjakan harga barang-barang pokok yang mencekik daya beli publik.

Dilema Geopolitik dan Kebijakan Luar Negeri

Kondisi ini menempatkan Gedung Putih dalam dilema yang sangat rumit. Di satu sisi, Trump berupaya keras mempertahankan dominasi militer dan citra ketegasan geopolitik AS di Timur Tengah. Namun di sisi lain, ketidakmampuan untuk mengamankan dukungan anggaran dari DPR AS mengancam keberlanjutan seluruh operasi tempur di lapangan.

Para pengamat politik luar negeri menilai penolakan anggaran oleh DPR AS sebagai penanda perubahan arah angin politik di Washington. "Krisis fiskal akibat perang Iran ini memperjelas batas kemampuan ekonomi Amerika Serikat ketika harus membiayai ambisi geopolitik yang agresif di tengah ancaman resesi domestik," ungkap seorang analis senior dari lembaga wadah pemikir ekonomi di Washington D.C.

Apabila DPR AS tetap pada pendiriannya untuk menahan dana perang, militer Amerika Serikat berisiko harus mereduksi skala operasinya secara signifikan di Iran. Langkah tegas parlemen ini tidak hanya berpotensi merombak arah kebijakan politik luar negeri Trump, tetapi juga dapat menentukan ulang konstelasi stabilitas ekonomi global dalam jangka panjang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User