Sep 17, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Cek Fakta

Densus 88 Rangkul 48 Mantan Anggota Jamaah Islamiyah di Sumsel

Sebuah bayangan masa lalu yang kelam perlahan terkuak di balik pintu-pintu pertemuan tertutup di Sumatera Selatan. Puluhan pria yang dulunya terpapar doktr

Densus 88 Rangkul 48 Mantan Anggota Jamaah Islamiyah di Sumsel

Sebuah bayangan masa lalu yang kelam perlahan terkuak di balik pintu-pintu pertemuan tertutup di Sumatera Selatan. Puluhan pria yang dulunya terpapar doktrin radikal Jamaah Islamiyah (JI) kini berdiri di persimpangan jalan baru. Tim Detasemen Khusus 88 Anti Teror (Densus 88 AT) Polri melalui Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Sumatera Selatan secara konsisten merangkul dan membina sedikitnya 48 mantan anggota Jamaah Islamiyah dalam sebuah program intensif moderasi beragama.

Langkah ini menjadi bagian dari gelombang besar pemulihan ideologi pasca-deklarasi pembubaran organisasi JI yang sempat menggegerkan peta geopolitik radikalisme di Indonesia. Di tanah Sumatera Selatan, proses transformasi tersebut tidak sekadar mengumandangkan janji di atas kertas, melainkan menjadi sebuah pertaruhan panjang untuk mencabut akar-akar ekstremisme hingga ke tatanan terbawah masyarakat.

Strategi Pendekatan Lunak Pasca-Pembubaran Jamaah Islamiyah

Upaya yang dilakukan Satgaswil Sumsel Densus 88 ini menandai pergeseran paradigma yang signifikan dalam penanganan terorisme di Indonesia. Jika di masa lalu penindakan hukum secara represif menjadi garda terdepan, kini soft approach atau pendekatan lunak berbasis dialog keagamaan dan pendampingan psikososial menjadi instrumen utama. 48 mantan pengikut JI tersebut diberikan pembekalan intensif mengenai wawasan kebangsaan serta pemahaman agama yang inklusif.

"Proses deradikalisasi tidak selesai saat seseorang keluar dari jaringan atau menyatakan lepas dari kelompok. Yang terpenting adalah merekonstruksi pemikiran mereka agar mampu melihat keberagaman sebagai rahmat, bukan ancaman bagi keyakinan," ungkap seorang sumber tepercaya dari aparat keamanan yang terlibat dalam pendampingan tersebut.

Pembinaan ini dirancang khusus untuk meluruskan pemahaman doktrin takfiri yang selama bertahun-tahun diinternalisasi oleh para anggota. Melalui diskusi kaji ulang literatur, penanaman pemahaman fikh muamalah yang moderat, serta penguatan kembali rasa kebangsaan, Densus 88 berupaya memastikan bahwa para peserta tidak lagi kembali ke dalam lingkaran radikal yang merusak.

Berikut adalah perbandingan pendekatan deradikalisasi lama dan pendekatan integratif moderasi beragama yang diterapkan saat ini:

Indikator Pendekatan Represif (Lama) Pendekatan Integratif (Saat Ini)
Fokus Utama Penindakan hukum & penahanan fisik Pembinaan ideologi & pemulihan ekonomi
Target Sasaran Individu pelaku kejahatan teror Individu, keluarga, dan simpatisan jaringan
Hasil Akhir Penghentian aksi kekerasan sesaat Moderasi beragama & integrasi NKRI utuh

Integrasi Sosial dan Pemulihan Ekonomi Mantan Anggota

Tantangan terbesar pasca-pembinaan adalah bagaimana 48 mantan anggota JI ini dapat diterima kembali oleh lingkungan sosial mereka tanpa rasa cemas. Stigma negatif dari masyarakat sering kali menjadi penghalang utama yang berisiko mendorong mereka kembali ke komunitas terisolasi. Oleh karena itu, Satgaswil Sumsel Densus 88 tidak bekerja sendirian; mereka menjalin kolaborasi erat dengan pemerintah daerah, tokoh agama, serta Kementerian Agama setempat.

Selain pembekalan secara akademis dan keagamaan, aspek pemberdayaan ekonomi juga menjadi prioritas utama. Banyak mantan simpatisan radikal yang kehilangan mata pencaharian setelah memutuskan keluar dari jaringan. "Kami ingin memastikan dapur mereka tetap ngebul dan keluarga mereka sejahtera, karena keterpurukan ekonomi sering kali menjadi celah masuknya kembali ideologi ekstrem," lanjut sumber tersebut.

Memutus Rantai Doktrin Hingga Akar Rumput

Penyebaran paham radikal di wilayah Sumatera Selatan secara historis memiliki simpul-simpul tersembunyi yang bergerak secara clandestine (bawah tanah). Keberhasilan merangkul 48 mantan anggota ini dinilai sebagai langkah strategis untuk meruntuhkan sisa-sisa struktur sel kecil yang masih bertahan. Pendekatan moderasi beragama diharapkan mampu menjadi benteng pertahanan terbaik melawan infiltrasi paham kekerasan di masa depan.

Meski demikian, para pengamat terorisme mengingatkan bahwa pengawasan serta pembimbingan berkala harus tetap dilakukan secara humanis. Integrasi yang sukses hanya akan tercipta ketika mantan anggota JI ini benar-benar merasa dirangkul oleh negara dan diakui sebagai warga negara yang berdaulat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sebanyak 48 mantan anggota JI mendapatkan pembinaan moderasi beragama dan pendampingan ekonomi dari Satgaswil Densus 88 Sumsel. Langkah ini dilakukan guna memutus rantai radikalisme hingga ke akar rumput pasca-pembubaran organisasi tersebut. Baca artikel lengkapnya hanya di Lurusin.com!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sinta-pradana

Fact-Check Editor. Verifikator bersertifikasi IFCN. Memeriksa klaim viral dan disinformasi.

Comments (0)

User