Sep 11, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

Dario Sztajnszrajber Soroti Krisis Eksistensi dan Budaya Produktivitas Modern

Dunia modern kini terjebak dalam pusaran efisiensi semu, di mana nilai seorang manusia kerap kali hanya diukur berdasarkan angka produktivitas dan asas kem

Dario Sztajnszrajber Soroti Krisis Eksistensi dan Budaya Produktivitas Modern

Dunia modern kini terjebak dalam pusaran efisiensi semu, di mana nilai seorang manusia kerap kali hanya diukur berdasarkan angka produktivitas dan asas kemanfaatan ekonomi semata. Menanggapi fenomena tersebut, filsuf terkemuka asal Argentina, Darío Sztajnszrajber, melontarkan kritik tajam terhadap sistem sosial kontemporer yang dinilainya telah mendegradasi makna esensial dari eksistensi manusia.

Dalam investigasi reflektif atas dinamika kehidupan kontemporer, Sztajnszrajber menyoroti bagaimana logika utilitarianisme memaksa individu untuk terus-menerus berproduksi tanpa henti. Menurutnya, filsafat hadir bukan untuk melayani kebutuhan praktis yang instan, melainkan sebagai instrumen radikal guna mempertanyakan mengapa segala sesuatu di dunia ini dituntut untuk selalu "berguna".

Dekonstruksi Konsep Utilitas dan Jebakan Efisiensi

Berdasarkan penelusuran terhadap diskursus yang berkembang, pergeseran nilai hidup masyarakat modern terjadi secara sistematis. Manusia tidak lagi dipandang sebagai subjek yang berdaulat atas kesadarannya, melainkan instrumen ekonomi yang harus menghasilkan laba. Menghadapi situasi ini, Sztajnszrajber menegaskan bahwa kelahiran filsafat bermula ketika individu mampu mengambil jarak kritis dari tindakannya sendiri.

“Momen di mana manusia menjauhkan diri dari dirinya sendiri dan melihat dirinya sedang bertindak, bagi saya, merupakan titik mula kelahiran filsafat,” tegas Darío Sztajnszrajber dalam sesi wawancaranya.

Investigasi atas cara kerja masyarakat modern memperlihatkan sejumlah fase keterasingan manusia:

  1. Standarisasi Nilai Diri: Keberadaan individu direduksi menjadi sekadar metrik performa, kapasitas kerja, dan efisiensi material.
  2. Hilangnya Ruang Kontemplasi: Waktu luang dikomodifikasi menjadi aktivitas produktif terselubung yang meniadakan ruang refleksi mandiri.
  3. Normalisasi Alienasi: Keterasingan dari diri sendiri dianggap sebagai harga wajar yang harus dibayar demi bertahan di era kompetisi global.

Reinterpretasi Keraguan Kartesian dan Kesadaran Diri

Sebagai fondasi perlawanan terhadap pola pikir mekanistik ini, Sztajnszrajber mengkaji ulang diktum klasik René Descartes perihal keraguan dan eksistensi (Cogito, ergo sum). Dalam pembacaan kritisnya, Sztajnszrajber merumuskan kembali gagasan tersebut untuk memvalidasi posisi kesadaran manusia di tengah lingkungan sosial yang serba terprediksi.

Ia menekankan formulasi relasional: “Jika saya tidak berpikir, saya kemudian menyadari bahwa saya pasti sedang mengada, karena jika saya tidak ada, saya tidak berpikir.” Pendekatan ini bukan sekadar permainan logika abstrak, melainkan manuver metodologis untuk memulihkan kedaulatan berpikir manusia yang kerap terdistorsi oleh rutinitas mekanis.

Filosofi Pelarian: Menolak Tuntutan Performa Tanpa Batas

Alih-alih terus tunduk pada imperatif performa yang menindas, Sztajnszrajber menawarkan alternatif yang ia sebut sebagai "filosofi pelarian" (filosofía del escape). Konsep menyerah di sini tidak dimaknai sebagai kekalahan pasif, melainkan sebagai tindakan subversif yang sadar untuk menolak tunduk pada tirani produktivitas berlebih.

Dengan berani keluar dari pola-pola umum dan mempertanyakan realitas yang dianggap mapan, individu dinilai mampu mencapai derajat kebebasan yang lebih tinggi. Bagi sang filsuf, keberanian untuk berhenti, meragu, dan tidak berguna di mata sistem justru merupakan jalan utama untuk menemukan kembali kemanusiaan yang tergerus.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sinta-pradana

Fact-Check Editor. Verifikator bersertifikasi IFCN. Memeriksa klaim viral dan disinformasi.

Comments (0)

User