Aug 26, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Cek Fakta

Dampak Asap Karhutla RI ke Singapura: Durasi Khutbah Jumat Dipangkas-F1 Terancam

Dewan Agama Islam Singapura (MUIS) mempersingkat durasi khutbah Salat Jumat mulai pekan ini. Salah satu alasannya karena kiriman asap dari Indonesia.]]>

Dampak Asap Karhutla RI ke Singapura: Durasi Khutbah Jumat Dipangkas-F1 Terancam

Dampak Asap Karhutla RI ke Singapura: Durasi Khutbah Jumat Dipangkas-F1 Terancam

Kualitas udara di Singapura terus menurun akibat kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Dampak negatif ini tidak hanya memengaruhi kesehatan warga, tetapi juga berpengaruh pada berbagai aktivitas di negara Kota Singa, termasuk keagamaan dan acara internasional bergeng seperti balapan Formula Satu (F1).

Badan Lingkungan Hidup Singapura (NEA) mencatat bahwa Indeks Pencemar Udara (PSI) di beberapa wilayah telah mencapai tingkat yang tidak sehat. Pada Kamis (21/9/2023), PSI di wilayah tengah Singapura melonjak tajam hingga mencapai angka 153 pada pukul 15.00 WIB, yang masuk dalam kategori tidak sehat. Angka ini jauh di atas ambang batas normal yang dianggap sehat, yaitu di bawah 50.

Dampak pada Aktivitas Keagamaan

Dampak asap karhutla ini bahkan sampai memengaruhi aktivitas keagamaan di Singapura. Lembaga Agama Islam Singapura (MUIS) mengumumkan akan memangkas durasi khutbah Jumat di seluruh masjid di negara tersebut. Keputusan ini diambil untuk meminimalkan paparan warga terhadap partikel-partikel berbahaya yang terkandung dalam asap.

"Kami meminta para khatib untuk menyampaikan khutbah dalam durasi yang lebih singkat, sekitar 15-20 menit," ujar juru bicara MUIS dalam siaran persnya. "Tujuannya adalah untuk mengurangi waktu warga berada di luar ruangan dan menghirup udara yang tercemar."

Keputusan ini langsung mendapat respons dari masyarakat Muslim di Singapura. Banyak yang memahami alasan di balik pemangkasan durasi khutbah, namun beberapa juga menyatakan kekhawatiran terhadap dampak jangka panjang kualitas udara terhadap kesehatan, terutama bagi anak-anak dan lanjut usia.

Acara Internasional Terancam

Selain kegiatan keagamaan, balapan Formula Satu (F1) yang akan diselenggarakan di Singapura pada akhir September ini juga dikabarkan berpotensi terdampak. Asap tebal yang menyelimuti wilayah Marina Bay, lokasi sirkuit F1, dapat mengancam kelangsungan acara ini.

Para penyelenggara F1 sedang memantau perkembangan kondisi udara dengan sangat cermat. "Kami terus memantau situasi bersama dengan pihak berwenang," kata seorang juru bicara penyelenggara F1. "Keamanan dan kesehatan para pembalap, tim, dan penonton adalah prioritas utama kami."

Skenario terburuk yang dipertimbangkan adalah penundaan atau bahkan pembatalan sesi latihan atau balapan jika kualitas udara memburuk drastis. Namun, hingga saat ini, penyelenggara masih optimis balapan dapat berjalan sesjadwal dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Respons Pemerintah dan Langkah Pencegahan

Pemerintah Singapura telah mengambil sejumlah langkah untuk mengatasi masalah ini. NEA telah meningkatkan jumlah monitor kualitas udara di seluruh negara dan memberikan pembaruan secara real-time melalui aplikasi dan situs web resmi.

"Kami menyarankan warga, terutama yang rentan terhadap pencemaran udara, untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan," kata juru bicara NEA. "Bagi mereka yang harus keluar, disarakan untuk menggunakan masker N95 atau yang setara untuk melindungi diri dari partikel-partikel halus."

Singapura juga telah mengirimkan nota protes resmi kepada pemerintah Indonesia terkait masalah kabut asap ini. Negara tersebut menyoroti bahwa kebakaran hutan dan lahan di Indonesia tidak hanya merusak lingkungan di wilayah tersebut, tetapi juga memiliki dampak transboundary yang signifikan terhadap negara tetangga.

Harapan untuk Kolaborasi Regional

Insiden ini kembali menyoroti pentingnya kolaborasi regional dalam mengatasi masalah kebakaran hutan dan lahan. Para ahli lingkungan menekankan perlunya pendekatan yang lebih komprehensif yang tidak hanya berfokus pada penanggulanan darurat, tetapi juga pada pencegahan jangka panjang.

"Kami perlu bekerja sama dalam mengembangkan teknologi deteksi dini kebakaran, memperkuat peraturan terkait penebangan kayu dan perkebunan, serta mendukung program pembangunan berkelanjutan di daerah rawan kebakaran," ujar sepakat tokoh lingkungan dari Universitas Nasional Singapura.

Sementara itu, pemerintah Indonesia telah menyatakan komitmennya untuk mengatasi masalah ini. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengklaim telah mengirimkan ratusan personel pemadam kebakaran ke provinsi Riau dan Sumatera Utara yang menjadi titik panas kebakaran.

Dampak asap karhutla ini menjadi pengingat nyata bahwa masalah lingkungan tidak mengenal batas negara. Solusi yang berkelanjutan memerlukan kerja sama yang erat antar negara, khususnya dalam ASEAN, untuk melindungi kesehatan dan lingkungan di kawasan ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User