Oct 22, 2026
factcheck

BI Tegaskan Stabilitas Rupiah Tetap Prioritas Pascamundur Perry

Jakarta – Kepemimpinan di Bank Indonesia (BI) mengalami transisi setelah Gubernur Perry Warjiyo mengundurkan diri. Pasar sempat dihinggapi spekulasi liar, namun bank sentral bergerak cepat meredakan...

BI Tegaskan Stabilitas Rupiah Tetap Prioritas Pascamundur Perry

Jakarta – Kepemimpinan di Bank Indonesia (BI) mengalami transisi setelah Gubernur Perry Warjiyo mengundurkan diri. Pasar sempat dihinggapi spekulasi liar, namun bank sentral bergerak cepat meredakan ketidakpastian. Pelaksana tugas (Pjs) Gubernur BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa arah kebijakan moneter tidak akan bergeser, dan stabilitas nilai tukar rupiah tetap menjadi pilar utama.

Transisi dan Reaksi Awal Pasar

Pengunduran diri Perry terjadi di tengah dinamika global yang masih rapuh. Investor mewanti-wanti potensi perubahan sikap bank sentral, terutama dalam intervensi pasar valuta asing dan penyesuaian suku bunga. Dalam hitungan jam setelah kabar beredar, rupiah sempat melemah tipis di pasar spot, mencerminkan sentimen hati-hati pelaku pasar. Volume perdagangan meningkat seiring pelaku hedging yang mengambil posisi aman.

Meski begitu, sinyal dari Gedung Thamrin langsung muncul. Destry, yang juga menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior, memberikan pernyataan pers yang terukur. Ia menyebut bahwa BI memiliki kerangka kebijakan yang solid dan tidak bergantung pada figur tunggal. "Institusi ini dibangun di atas sistem, bukan personal. Stabilitas rupiah akan terus kami jaga melalui bauran kebijakan yang telah terbukti adaptif," ujarnya, tanpa memberikan indikasi perubahan drastis pada stance moneter saat ini.

Bauran Kebijakan yang Jadi Andalan

Komitmen pada stabilitas rupiah bukan sekadar retorika. Destry merujuk pada strategi triple intervention BI di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) yang telah menopang nilai tukar dalam beberapa kuartal terakhir. Data BI menunjukkan cadangan devisa Indonesia masih berada di level yang memadai, yaitu sekitar 140 miliar dolar AS, cukup untuk membiayai lebih dari enam bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Ini menjadi jangkar psikologis yang meyakinkan pasar.

Lebih lanjut, Destry menyoroti bahwa inflasi inti tetap terkendali di kisaran target 2,5% plus-minus 1%, memberi ruang fleksibilitas bagi BI untuk mempertahankan suku bunga acuan pada level yang mendukung stabilitas, tanpa harus mengorbankan momentum pemulihan ekonomi domestik. Penguatan koordinasi dengan pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah juga ditekankan sebagai pendekatan holistik yang tetap berjalan.

Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik dan arah kebijakan Federal Reserve memang masih menjadi risiko utama. Destry mengakui bahwa arus modal asing sensitif terhadap perubahan persepsi risiko. Namun, instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan term deposit valas akan terus dioptimalkan untuk menyerap likuiditas dan menarik aliran masuk modal portofolio, sehingga tekanan terhadap rupiah dapat diminimalkan.

Kredibilitas dan Tantangan ke Depan

Pengamat ekonomi mencatat bahwa masa transisi kepemimpinan di bank sentral selalu menjadi ujian kredibilitas. Tanpa menyebut nama, sejumlah analis independen menilai bahwa pesan awal dari pejabat sementara sangat krusial untuk membentuk ekspektasi pasar. Dengan menempatkan stabilitas rupiah sebagai prioritas utama yang tidak bisa ditawar, BI ingin meyakinkan semua pihak bahwa independensi dan konsistensi kebijakan tetap utuh.

Namun, tantangan tidak ringan. Tekanan dari penguatan dolar AS diperkirakan masih akan tinggi sepanjang sisa tahun ini, terutama jika data tenaga kerja Amerika terus solid dan The Fed menunda pelonggaran. Di sisi lain, permintaan domestik terhadap valas dari korporasi yang melakukan pembayaran dividen dan utang kuartalan juga bisa menambah volatilitas. Destry menyatakan bahwa BI telah menghitung potensi tekanan ini dan memiliki amunisi kebijakan yang cukup, termasuk kemungkinan penyesuaian suku bunga jika diperlukan, meskipun opsi itu akan menjadi langkah terakhir yang dipertimbangkan secara matang.

Yang menarik, Destry juga menyelipkan pesan optimis tentang fundamental ekonomi nasional. Ia menunjuk data pertumbuhan kredit yang masih berekspansi di atas 10% secara tahunan, surplus neraca perdagangan yang berlanjut, dan pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan tetap di atas 5% pada 2025. Semua indikator itu, menurutnya, memperkuat ketahanan eksternal dan daya tarik aset Indonesia di mata investor global. "Kami mengimbau seluruh pelaku pasar untuk melihat data dan fundamental, bukan terpancing spekulasi sesaat. BI akan selalu hadir sebagai penjaga stabilitas, dalam situasi apa pun," tegasnya menutup pernyataan.

Dengan redanya kepanikan awal, fokus kini beralih pada siapa yang akan menjadi gubernur definitif dan apakah transisi ini akan berjalan mulus tanpa gejolak berarti. Untuk saat ini, pasar tampaknya menerima jaminan bahwa rupiah tidak akan dibiarkan bergerak liar, dan BI di bawah kendali Destry akan melanjutkan misi yang sama: menjaga kepercayaan terhadap mata uang nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User