Aroma dupa yang membumbung tinggi menyatu dengan lantunan kidung suci dan ketukan gamelan bleganjur di kawasan Desa Adat Bebalang, Kabupaten Bangli, Bali. Di tengah arus modernisasi yang kian deras melanda Pulau Dewata, krama adat Banjar Tegal tetap teguh memelihara warisan leluhur. Mereka menggelar upacara spiritual berskala besar, yakni Karya Agung Ngusaba di Pura Dalem Lagaan. Upacara sakral ini bukan sekadar ritual rutin, melainkan manifestasi mendalam untuk memelihara harmonisasi alam nyata (*sekala*) dan alam gaib (*niskala*) sesuai prinsip Tri Hita Karana.
Pelaksanaan upacara sakral yang berlangsung khidmat ini dipersiapkan melalui konsolidasi warga yang matang. Kelian Adat Jagat Tegal, I Putu Ganda Wijaya, mengungkapkan bahwa perhelatan spiritual ini merupakan kali ketiga yang digelar secara berkala dalam siklus lima tahun sekali. Persiapan maraton telah dilakukan oleh warga (*krama*) Banjar Tegal selama kurang lebih tiga bulan sebelum puncak ritual dilaksanakan.
Harmoni Sekala-Niskala dan Ritual Nyengker Setra
Sebagai pura yang berkaitan erat dengan pemujaan Dewa Shiva dalam manifestasinya sebagai Prajapati serta tempat bersemayamnya roh leluhur, Pura Dalem Lagaan memiliki posisi spiritual yang sangat vital. Dalam pelaksanaan karya kali ini, panitia menerapkan aturan ketat berupa prosesi nyengker setra—sebuah pembatasan atau penutupan sementara kawasan pemakaman adat. Langkah ini diambil guna menjaga tingkat kesucian benteng spiritual selama rangkaian karya berlangsung.
"Kami krama Banjar Tegal selaku Pangamong Pura Dalem Lagaan menggelar karya agung ngusaba. Karya ini sudah ketiga kalinya dan persiapannya dilakukan sekitar tiga bulan sebelumnya. Karena berkaitan dengan Pura Dalem, rangkaian karya juga disertai nyengker setra untuk menjaga keseimbangan sekala dan niskala," ujar Kelian Adat Jagat Tegal, I Putu Ganda Wijaya.
Penyempurnaan ritual pada pelaksanaan tahun ini juga menjadi fokus utama warga adat. Evaluasi dari upacara lima tahun sebelumnya dijadikan pijakan untuk memastikan setiap tahapan yadnya berjalan tanpa cela, baik dari segi pemenuhan sarana banten maupun aspek ketertiban keterlibatan krama.
Integrasi Enam Banjar dalam Sinergi Kahyangan Tiga
Meskipun Banjar Tegal bertindak sebagai pengempon atau pengelola utama Pura Dalem Lagaan, keterikatan sejarah dan tata nilai spiritual menjadikan upacara ini milik bersama. Pura ini merupakan bagian tak terpisahkan dari struktur Pura Kahyangan Tiga di wilayah Desa Adat Bebalang. Oleh sebab itu, kehadiran sesuhunan dan perwakilan krama dari enam banjar adat di sekitarnya menjadi elemen penting keberlangsungan ritual ini.
Berikut adalah ringkasan parameter utama pelaksanaan Karya Agung Ngusaba di Pura Dalem Lagaan:
| Parameter Pelaksanaan | Rincian Detail |
|---|---|
| Periodesasi Upacara | Digelar setiap 5 (lima) tahun sekali (Pelaksanaan Ke-3) |
| Durasi Persiapan | Kurang lebih 3 (tiga) bulan secara intensif |
| Pengempon Utama | Krama Banjar Tegal, Desa Adat Bebalang |
| Cakupan Wilayah | 6 Banjar Adat di lingkungan Desa Adat Bebalang |
| Prosesi Penataan Khusus | Nyengker Setra (Penyucian dan penutupan sementara areal makam) |
Puncak Upacara Dipuput Sulinggih Lintas Kabupaten
Puncak Karya Agung Ngusaba mencapai klimaks spiritual ketika sejumlah sulinggih (pendeta Hindu berkedudukan tinggi) dari berbagai griya terkemuka di Bali hadir untuk memimpin (*muput*) jalannya upacara. Kehadiran para pemuka agama dari berbagai kabupaten ini mempertegas betapa pentingnya kedudukan Pura Dalem Lagaan dalam peta keagamaan di Bali.
Para sulinggih yang memimpin ritual puncak tersebut antara lain Ida Pedanda Buwana Putra dari Griya Tulikup (Gianyar), Ida Pedanda Gede Ngejung Peling dari Griya Bongaya (Karangasem), Ida Pedanda dari Griya Soka Bangli, Ida Pedanda Budha Swabawa Karang dari Griya Karangasem, serta Ida Ratu Sri Bhagawan Kedatuan Alang Sanja.
Melalui pelaksanaan yadnya yang tulus dan terstruktur ini, krama Banjar Tegal dan Desa Adat Bebalang membuktikan bahwa keseimbangan sekala dan niskala bukanlah sekadar konsep teoritis, melainkan komitmen nyata dalam menjaga keselarasan kosmis dan kebersamaan sosial.
[SOCIAL_TG] 🛕 **Banjar Tegal Gelar Karya Agung Ngusaba Pura Dalem Lagaan Bangli** Masyarakat Banjar Tegal, Desa Adat Bebalang, Bangli, sukses menggelar Upacara Karya Agung Ngusaba yang dilaksanakan 5 tahun sekali. Ritual ini melibatkan penataan *nyengker setra* serta sinergi 6 banjar adat demi menjaga keseimbangan sekala dan niskala. Puncak upacara dipuput langsung oleh para Sulinggih dari Gianyar, Karangasem, hingga Bangli. Baca artikel selengkapnya di Lurusin.com!
Comments (0)