Sep 10, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Cek Fakta

BALI — Tim SAR Evakuasi Dua Pendaki Tersesat di Gunung Agung

Tim SAR Gabungan berhasil mengevaluasi dan mengevakuasi dua pendaki yang sempat dilaporkan tersesat di jalur pendakian Gunung Agung, Kabupaten Karangasem,

BALI — Tim SAR Evakuasi Dua Pendaki Tersesat di Gunung Agung

Tim SAR Gabungan berhasil mengevaluasi dan mengevakuasi dua pendaki yang sempat dilaporkan tersesat di jalur pendakian Gunung Agung, Kabupaten Karangasem, Bali. Operasi penyelamatan yang berlangsung dramatis ini kembali membongkar celah serius terkait prosedur keselamatan pendakian di salah satu gunung berapi paling aktif dan disucikan di Pulau Dewata tersebut. Keduanya ditemukan dalam kondisi selamat namun mengalami kelelahan fisik ekstrem serta gejala hipotermia ringan setelah terjebak di tengah cuaca buruk selama belasan jam.

Insiden bermula ketika Pos SAR Karangasem menerima panggilan darurat dari salah satu korban yang melaporkan bahwa mereka telah kehilangan arah akibat kabut tebal dan hujan deras. Lokasi terakhir korban terdeteksi berada di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), jauh menyimpang dari rute resmi pendakian Pengubengan, Besakih. Medan yang terjal, ditambah minimnya pencahayaan dan suhu udara yang merosot drastis, menyulitkan pergerakan tim penolong pada tahap awal operasi.

Kronologi Operasi Penyelamatan dan Identifikasi Jalur Evakuasi

Berdasarkan laporan resmi Basarnas Bali, proses evakuasi melibatkan koordinasi lintas instansi yang terdiri dari personel Basarnas, TNI, Polri, BPBD Karangasem, serta pemandu lokal (*local guide*). Berikut adalah tahapan kronologis operasi pencarian hingga evakuasi berhasil dilakukan:

  1. Pukul 02.15 WITA: Laporan darurat diterima oleh Pos SAR Karangasem dari pendaki yang terisolasi di lereng bagian barat daya Gunung Agung.
  2. Pukul 03.30 WITA: Tim SAR Gabungan pertama diberangkatkan menuju titik awal pendakian di Pos Pengubengan untuk memulai penyisiran darat.
  3. Pukul 07.45 WITA: Sinyal keberadaan korban berhasil diidentifikasi secara visual dan audio pada koordinat 8°20'31" S 115°30'24" E.
  4. Pukul 10.30 WITA: Tim penolong berhasil menjangkau lokasi kedua pendaki, langsung memberikan pertolongan pertama berupa penanganan hipotermia dan pasokan logistik darurat.
  5. Pukul 15.00 WITA: Rombongan evakuasi tiba kembali di Posko Utama Besakih, di mana korban langsung dirujuk ke fasilitas kesehatan terdekat.

Analisis Risiko dan Evaluasi Standar Keselamatan Pendakian

Fenomena tersesatnya pendaki di Gunung Agung bukan kali ini saja terjadi. Investigasi mendalam memperlihatkan adanya pola berulang yang memicu tingginya angka kecelakaan di kawasan ini. Kurangnya pemahaman atas karakteristik medan vulkanik yang curam, ditambah kenekatan mendaki tanpa pemandu profesional, menjadi faktor dominan penyebab insiden.

"Banyak pendaki yang mengabaikan dinamika cuaca mikro di Gunung Agung. Perubahan cuaca dari cerah ke kabut pekat bisa terjadi dalam hitungan menit. Tanpa pemandu lokal yang menguasai landmark alam, navigasi mandiri menggunakan aplikasi ponsel sering kali gagal karena hilangnya sinyal GPS," ujar Wayan Karta, salah satu penasihat keselamatan aktivitas alam bebas di Bali.

Faktor Evaluasi Pendakian Mandiri (Risiko Tinggi) Pendakian Berpemandu (Standar)
Penguasaan Medan Minim / Mengandalkan Peta Digital Tinggi / Memahami Jalur Alternatif
Kesiapan Logistik Darurat Sering Kali Seadanya Terencana & Sesuai Prosedur SAR
Tingkat Kejadian Tersesat Menyumbang 85% Kasus Evakuasi Menyumbang 15% Kasus Evakuasi

Urgensi Pengetatan Regulasi dan Pengawasan Jalur

Hasil evaluasi operasi pencarian ini menggarisbawahi pentingnya reformasi tata kelola pendakian di Gunung Agung. Catatan Basarnas menunjukkan bahwa sepanjang tahun ini saja sudah terjadi lebih dari 10 kasus emergency response untuk menyelamatkan pendaki mandiri. Beban operasional yang tinggi dan ancaman keselamatan bagi personel SAR menuntut adanya tindakan tegas dari otoritas daerah.

Pemerintah daerah bersama pihak pengelola kawasan adat kini didesak untuk memperketat registrasi di tiap pintu masuk pendakian. Langkah strategis seperti kewajiban penggunaan pemandu resmi, pemeriksaan ketat atas perlengkapan standar minimum, hingga penerapan sistem pelacakan berbasis frekuensi radio (RFID) menjadi opsi konkret yang harus segera diimplementasikan guna mencegah terulangnya tragedi serupa di masa mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User