Argentina Kibarkan Spanduk Las Malvinas Usai Kalahkan Inggris
BUENOS AIRES — Euforia kemenangan Timnas Argentina atas Inggris di semifinal Piala Dunia 2026 berubah menjadi sorotan geopolitik. Bukan sekadar lolos ke fi
BUENOS AIRES — Euforia kemenangan Timnas Argentina atas Inggris di semifinal Piala Dunia 2026 berubah menjadi sorotan geopolitik. Bukan sekadar lolos ke final, para pemain Albiceleste mengibarkan spanduk besar bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas" (Kepulauan Malvinas adalah milik Argentina) segera setelah peluit panjang berbunyi di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat. Aksi spontan itu langsung memicu reaksi luas, menghidupkan kembali sengketa teritorial berusia hampir dua abad antara Buenos Aires dan London.
Kronologi Insiden Spanduk
Momen itu terjadi pada 16 Juli 2026. Argentina baru saja mengalahkan Inggris dengan skor meyakinkan 3-1. Saat para pemain melakukan selebrasi di tengah lapangan, kapten Lionel Messi dan beberapa pemain senior membentangkan spanduk putih berukuran sekitar 3×2 meter. Tulisan hitam tebal dalam bahasa Spanyol itu terbaca jelas oleh puluhan kamera televisi yang menyiarkan langsung ke lebih dari 200 negara. Penonton Argentina yang memadati tribun pun bersorak histeris.
Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) tidak memberikan komentar resmi pada malam itu. Namun, beredar video di media sosial yang menunjukkan pelatih Lionel Scaloni tersenyum saat spanduk dibentangkan. Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) segera mengirimkan surat protes kepada FIFA, menuduh Argentina melanggar aturan disiplin yang melarang pernyataan politik di dalam lapangan.
Sejarah Konflik Kepulauan Malvinas/Falklands
Untuk memahami sensitivitas isu ini, kita harus mundur ke tahun 1833. Inggris secara militer menduduki kepulauan yang terletak sekitar 500 km di lepas pantai selatan Argentina itu. Buenos Aires tidak pernah mengakui kedaulatan London dan menyebutnya sebagai "Las Malvinas", sementara Inggris dan sebagian besar dunia mengenalnya sebagai "Falkland Islands".
Konflik ini mencapai puncaknya pada 2 April 1982, saat junta militer Argentina di bawah Jenderal Leopoldo Galtieri menginvasi pulau-pulau tersebut. Perang berlangsung selama 74 hari dan menewaskan 649 tentara Argentina, 255 personel militer Inggris, serta tiga warga sipil Kepulauan Falkland. Kekalahan Argentina berujung pada jatuhnya rezim militer dan lahirnya demokrasi, namun luka nasional tetap membekas.
Pada referendum 2013, sebanyak 99,8% penduduk Kepulauan Falkland memilih tetap menjadi bagian dari Britania Raya. Namun Argentina tetap bersikukuh bahwa penduduk yang mayoritas keturunan Inggris itu adalah "pendatang" dan menyatakan resolusi PBB mendukung negosiasi damai. Ketegangan kembali memanas saat perusahaan-perusahaan minyak Inggris mulai mengeksplorasi perairan sekitar kepulauan pada 2010, yang diperkirakan menyimpan cadangan hingga 8 miliar barel minyak.
Reaksi Publik dan Media
Tabioid Inggris langsung bereaksi keras. "Hand of God 2.0," tulis harian The Sun dalam tajuknya, merujuk pada gol kontroversial Diego Maradona di Piala Dunia 1986. Media Argentina seperti Clarín justru menulis, "Las Malvinas, gritadas desde el alma" (Malvinas, diteriakkan dari jiwa). Sementara itu, FIFA belum mengeluarkan sanksi, dan Spanyol yang akan menjadi lawan Argentina di final berusaha menjaga jarak dari isu politik ini.
Presiden Argentina saat itu, Javier Milei, melalui akun Twitter pribadinya menulis: "Las Malvinas son y serán argentinas. Grande muchachos!" Unggahan ini memicu perdebatan diplomatik, meskipun sumber pemerintah menyebutkan bahwa kemenangan di Piala Dunia dianggap "kemenangan moral bangsa" terlepas dari kontroversi.
[SOCIAL_TWEET]: Spanduk 'Las Malvinas son Argentinas' berkibar di semifinal Piala Dunia 2026 setelah Argentina kalahkan Inggris. Aksi ini hidupkan kembali sengketa berusia 190 tahun. #ArgentinaVsInggris #LasMalvinas #PialaDunia2026[SOCIAL_TG]: ⚽️🇦🇷 Argentina lolos final Piala Dunia 2026 setelah tekuk Inggris 3-1. Tapi selebrasi dengan spanduk 'Las Malvinas' langsung bikin panas hubungan diplomatik.
Comments (0)