Aug 25, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Anak Disebut Nakal oleh Guru, Bagaimana Sikap Orang Tua yang Tepat?

Laporan dari guru tentang perilaku anak di sekolah kerap menjadi momen yang tidak nyaman bagi orang tua. Ketika sang buah hati disebut sering usil, sulit diatur, atau dianggap mengganggu teman sekelas...

Anak Disebut Nakal oleh Guru, Bagaimana Sikap Orang Tua yang Tepat?

Laporan dari guru tentang perilaku anak di sekolah kerap menjadi momen yang tidak nyaman bagi orang tua. Ketika sang buah hati disebut sering usil, sulit diatur, atau dianggap mengganggu teman sekelasnya, sebagian orang tua langsung dilanda kegelisahan. Rasa malu, khawatir, hingga pertanyaan tentang kualitas pengasuhan di rumah muncul bersamaan. Padahal, cara orang tua merespons momen semacam ini sangat menentukan bagaimana anak memaknai dirinya sendiri.

Laporan Guru Bukan Vonis atas Kepribadian Anak

Penting untuk dipahami bahwa laporan perilaku dari guru bukanlah vonis atas karakter anak secara keseluruhan. Seorang anak yang disebut nakal atau usil dalam satu situasi belum tentu bermasalah dalam segala hal. Perilaku semacam itu sering kali merupakan bagian dari tahap perkembangan, cara anak mengeksplorasi lingkungan, atau respons terhadap situasi tertentu seperti kebosanan, kelelahan, atau kesulitan berkonsentrasi.

Para ahli perkembangan anak menekankan bahwa perilaku dan kepribadian adalah dua hal yang berbeda. Anak yang aktif dan suka bercanda bisa saja dinilai mengganggu oleh satu guru, tetapi dinilai ceria oleh guru lain. Karena itu, orang tua sebaiknya menahan diri untuk langsung melabeli anak berdasarkan satu laporan saja. Label negatif yang terus diulang justru berisiko menjadi ramalan yang terwujud, karena anak mulai menganggap dirinya memang anak nakal.

Langkah Tepat saat Menerima Laporan Guru

Langkah pertama yang dianjurkan adalah menenangkan diri sebelum merespons. Reaksi emosional yang berlebihan, baik marah pada anak maupun pada guru, hanya akan mempersulit komunikasi. Orang tua perlu menyimak dengan saksama penjelasan guru tentang peristiwa yang terjadi: kapan kejadiannya, apa yang memicu, dan bagaimana guru menanganinya saat itu. Informasi yang lengkap membantu orang tua melihat gambaran utuh, bukan potongan cerita yang bias.

Setelah informasi terkumpul, orang tua dapat mengajak anak berbicara dengan tenang. Pertanyaan terbuka seperti "Bagaimana tadi di sekolah?" atau "Apa yang terjadi saat jam istirahat?" lebih efektif daripada pertanyaan yang menekan seperti "Kamu kenapa nakal lagi?". Anak perlu merasa aman untuk bercerita tanpa takut dihukum. Dalam banyak kasus, cerita anak membuka perspektif baru yang tidak terlihat dari laporan guru, misalnya soal perundungan yang ia alami atau kesulitan memahami pelajaran.

Membangun Kerja Sama dengan Sekolah

Alih-alih memposisikan diri sebagai pihak yang saling menyalahkan, orang tua dan guru sebaiknya menjadi mitra dalam mendampingi anak. Pertemuan lanjutan dengan wali kelas atau guru BK dapat dimanfaatkan untuk menyusun langkah bersama, misalnya strategi pendekatan yang konsisten di rumah dan di sekolah. Komunikasi yang terbuka juga memungkinkan guru memahami kondisi anak lebih dalam, termasuk kebiasaan, minat, hingga tantangan yang dihadapi di rumah.

Konsistensi antara pola asuh di rumah dan pendekatan di sekolah adalah kunci. Jika di sekolah anak diminta duduk tenang tetapi di rumah tidak ada batasan sama sekali, anak akan bingung menentukan perilaku mana yang benar. Sebaliknya, aturan yang jelas, penghargaan atas perilaku baik, dan konsekuensi yang wajar atas pelanggaran akan membantu anak belajar mengelola perilakunya.

Kapan Perlu Bantuan Profesional

Tidak semua laporan perilaku harus ditangani sendiri oleh orang tua. Jika perilaku yang dilaporkan berlangsung terus-menerus, mengganggu proses belajar, atau disertai tanda-tanda lain seperti kesulitan bersosialisasi dan ledakan emosi yang sulit dikendalikan, konsultasi dengan psikolog anak patut dipertimbangkan. Penanganan dini selalu lebih baik daripada menunggu masalah membesar.

Pada akhirnya, yang paling dibutuhkan anak bukanlah orang tua yang sempurna, melainkan orang tua yang hadir dan mau memahami. Mendengar laporan guru memang tidak selalu mudah, tetapi cara orang tua menyikapinya akan meninggalkan kesan mendalam pada anak. Anak yang merasa didukung akan belajar dari kesalahannya, sementara anak yang merasa dihakimi hanya akan belajar menyembunyikan masalah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hafiz-rahman

Data Journalist. Mengungkap fakta melalui data. Spesialisasi: analisis forensik digital.

Comments (0)

User