Bayang-bayang ketimpangan tata ruang era apartheid masih mengintai lanskap perkotaan di Afrika Selatan. Meskipun pemerintah setempat telah berhasil membangun jutaan unit rumah dan infrastruktur fisik dasar dalam tiga dekade terakhir, kenyataan pahit menyelimuti kawasan pemukiman tersebut: kota-kota yang terbangun dinilai belum layak huni secara holistik. Warga sering kali terisolasi di pinggiran kota yang gersang, jauh dari pusat pertumbuhan ekonomi, serta terancam oleh tingginya angka kriminalitas.
Dalam ajang konferensi pemikiran urban The Gathering 2026, pakar tata kota terkemuka Edgar Pieterse menyampaikan pandangan kritisnya. Ia menegaskan bahwa pendekatan konvensional yang hanya berfokus pada pembangunan fisik "dinding dan atap" telah gagal menciptakan komunitas yang berkembang dan berkelanjutan.
Kegagalan Pembangunan Fisik Tanpa Ruang Hidup
Penelusuran terhadap kebijakan tata kota Afrika Selatan menunjukkan adanya jurang pemisah yang lebar antara ketersediaan fisik perumahan dan kualitas hidup penghuninya. Banyak proyek perumahan massal dibangun di lokasi yang amat terpencil dari pusat bisnis utama (Central Business District). Akibatnya, warga harus menghabiskan hingga 40 persen pendapatan harian mereka hanya untuk biaya transportasi menuju tempat kerja.
"Menyediakan atap di atas kepala warga adalah satu langkah awal, tetapi menciptakan ruang di mana masyarakat bisa tumbuh, merasa aman, dan mendapatkan mata pencaharian adalah esensi sejati dari urbanisme modern," ujar Edgar Pieterse di hadapan para pemangku kebijakan.
Kondisi ini memperparah segregasi sosial-ekonomi yang telah berlangsung lama. Kawasan pemukiman kelas bawah sering kali tidak dilengkapi dengan ruang terbuka hijau, fasilitas publik yang memadai, atau akses energi terbarukan, sehingga rentan terhadap dampak perubahan iklim dan degradasi lingkungan.
Tiga Solusi Berani untuk Kota Modern
Untuk keluar dari krisis tata ruang ini, Pieterse merumuskan tiga gagasan utama yang dirancang untuk mengubah wajah kawasan pemukiman di Afrika Selatan menjadi kawasan yang aman, hijau, dan kaya akan lapangan kerja:
- Desain Perkotaan Berbasis Keselamatan Lingkungan: Merancang ulang ruang publik dengan pencahayaan yang memadai, keterbukaan visual, dan integrasi aktivitas warga guna menekan ruang gerak kejahatan secara alami.
- Transisi Infrastruktur Hijau dan Ketahanan Iklim: Mengintegrasikan taman-taman kota, koridor transportasi ramah lingkungan, serta teknologi pengolahan limbah dan energi mandiri di tingkat komunitas.
- Desentralisasi Ekonomi dan Lapangan Kerja Lokal: Mendorong investasi pada pusat-pusat bisnis mikro di dalam kawasan pemukiman agar warga tidak perlu melakukan perjalanan jauh untuk bekerja.
| Parameter Perbandingan | Model Pembangunan Lama | Visi Kota Modern Pieterse |
|---|---|---|
| Fokus Utama | Kuantitas unit rumah fisik | Ekosistem kehidupan yang layak huni |
| Konektivitas Ekonomi | Terisolasi dari pusat kerja | Terintegrasi dengan industri mikro lokal |
| Lingkungan & Keamanan | Minim ruang hijau & rawan kejahatan | Taman publik aman & tahan perubahan iklim |
Menghubungkan Pusat dan Pinggiran
Visi baru yang ditawarkan dalam The Gathering 2026 ini menuntut pergeseran paradigma radikal dari pemerintah setempat dan investor swasta. Tanpa adanya keberanian politik untuk merombak tata ruang yang ada, pengeluaran publik untuk pembangunan rumah publik hanya akan memperpanjang siklus kemiskinan dan isolasi geografis.
Pieterse menekankan bahwa transformasi ini bukan sekadar impian estetis, melainkan "kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan masa depan generasi mendatang". Mengubah kota-kota di Afrika Selatan menjadi ruang yang berkelanjutan akan menjadi ujian terberat sekaligus peluang terbesar bagi pembangunan urban di benua Afrika.
Comments (0)