Ade Safitri, Mahasiswi S2 Unpad yang Kawinkan Komunikasi dan Teknologi

Jatinangor — Nama Ade Safitri mungkin belum banyak dikenal publik, tetapi di lingkungan akademik Universitas Padjadjaran (Unpad), sosoknya mulai mencuri perhatian. Mahasiswi program Magister Ilmu Ko...

Jul 12, 2026 - 19:59
0 1
Ade Safitri, Mahasiswi S2 Unpad yang Kawinkan Komunikasi dan Teknologi

Jatinangor — Nama Ade Safitri mungkin belum banyak dikenal publik, tetapi di lingkungan akademik Universitas Padjadjaran (Unpad), sosoknya mulai mencuri perhatian. Mahasiswi program Magister Ilmu Komunikasi ini tengah menggarap riset yang diyakini dapat menjembatani kajian komunikasi klasik dengan pesatnya perkembangan teknologi digital. Fokusnya bukan sekadar mengamati fenomena, melainkan merancang model komunikasi yang lebih adaptif.

Dari Ketertarikan Personal ke Riset Strategis

Bergabung dengan Unpad sejak tahun lalu, Ade tidak datang dengan tangan kosong. Sebelum menapaki jenjang magister, ia telah menghabiskan hampir lima tahun bekerja di sektor hubungan masyarakat pada perusahaan rintisan berbasis teknologi. Pengalaman itu memberinya perspektif unik tentang bagaimana pesan digital disusun, disebarkan, dan—yang lebih penting—diterima oleh masyarakat yang semakin terfragmentasi.

Kini, di bawah bimbingan Dr. Rina Hermawati, Ade tengah menyelami topik “Resiliensi Komunikasi di Kalangan Generasi Z dalam Menghadapi Banjir Informasi”. Risetnya menggunakan pendekatan campuran, memadukan analisis jaringan teks dengan wawancara mendalam terhadap 100 responden dari tiga kota berbeda. “Saya ingin tahu, bagaimana anak muda membangun benteng mental di tengah gempuran hoaks dan konten hiperbolik,” ujarnya dalam sebuah diskusi terbatas di kampus.

Model “Saring Sebelum Saring”

Salah satu temuan awal yang ia presentasikan dalam seminar internal program studi adalah apa yang ia sebut Model Saring Ganda. Model ini menggambarkan bahwa Gen Z tidak hanya menyaring informasi di sisi penerimaan, tetapi juga melakukan penyaringan kedua saat akan meneruskan konten kepada jejaringnya. Uniknya, penyaringan kedua ini seringkali dipengaruhi oleh norma kelompok, bukan semata-mata kebenaran faktual.

“Mereka lebih mempertimbangkan citra diri di hadapan teman-temannya ketimbang akurasi data. Ini karena validasi sosial menjadi mata uang utama di era ini,” papar Ade. Model tersebut dikembangkan dari data awal yang dikumpulkan melalui kuesioner daring dan riwayat berbagi konten di platform WhatsApp dan Instagram. Temuan ini mendapat tanggapan positif dari rekan sejawat dan dosen penguji.

Dukungan dan Tantangan Akademik

Sebagai mahasiswi magister, Ade mengaku beban akademik cukup berat, terutama karena ia tetap aktif sebagai konsultan lepas untuk beberapa klien korporat. Namun, fleksibilitas dari sistem pembelajaran Unpad yang menggabungkan kuliah intensif dan penelitian mandiri sangat membantunya. “Saya bisa mengatur ritme. Pagi mengolah data, siang bertemu dosen, malam membaca jurnal,” ujarnya.

Ia juga memanfaatkan laboratorium komunikasi digital yang disediakan fakultas. Dengan perangkat lunak analitik berbasis AI, Ade mampu memproses ribuan twit dan unggahan Instagram dalam waktu singkat, memetakan pola penyebaran dan klaster topik. Teknologi ini menjadi tulang punggung risetnya. “Tanpa dukungan lab, mungkin saya hanya bisa menganalisis 10% dari data yang ada,” imbuhnya.

Rencana Publikasi dan Jangkauan Luas

Riset Ade direncanakan akan diterbitkan dalam dua jurnal: satu jurnal nasional terakreditasi Sinta 2 dan satu jurnal internasional bereputasi. Target ini bukan tanpa alasan. Ia ingin temuannya tak sekadar menjadi tumpukan tesis di perpustakaan, melainkan dapat diakses oleh peneliti lain, pembuat kebijakan, bahkan pelaku industri media.

Lebih jauh, Ade sedang menjajaki kerja sama dengan komunitas literasi digital di Bandung dan Jakarta untuk mengadaptasi model saring ganda menjadi modul pelatihan bagi siswa SMA. “Banyak program literasi digital yang bersifat top-down dan menggurui. Padahal, memahami mekanisme alami yang sudah dilakukan Gen Z akan lebih efektif untuk menguatkan mereka,” jelasnya.

Antara Tradisi Lisan dan Realitas Digital

Menariknya, Ade tidak melulu berkutat pada data angka. Ia menyisipkan pendekatan etnografi dengan menelusuri kebiasaan bertutur di kalangan keluarga Sunda sebagai perbandingan. Ia menemukan bahwa prinsip silih asah, silih asih, silih asuh yang diturunkan secara lisan ternyata memiliki kemiripan dengan skema pengelolaan informasi di era digital: saling mengasah pikiran, saling mengasihi, dan saling mengingatkan.

“Teknologi berubah, tetapi pola dasar manusia dalam menjaga hubungan sosial tetap terwariskan. Hanya saja medianya berbeda,” ungkapnya. Pandangan ini mencerminkan keberhasilan Ade dalam mengawinkan teori komunikasi klasik dengan realitas digital kontemporer, sebuah pendekatan yang mulai langka di tengah dominasi riset kuantitatif murni.

Tanggapan Akademisi dan Praktisi

Dr. Rina Hermawati, dosen pembimbing Ade, mengapresiasi keberanian mahasiswanya dalam memilih topik yang sarat kompleksitas. “Riset ini tidak hanya mendeskripsikan, tetapi juga menawarkan solusi berbasis bukti. Ade menunjukkan bahwa ilmu komunikasi tetap relevan, bahkan krusial, di era disrupsi ini,” katanya. Sementara itu, seorang praktisi humas dari perusahaan teknologi yang menjadi mitra riset menyebut model saring ganda dapat menjadi masukan berharga bagi desain kampanye publik yang lebih etis.

Ade Safitri sendiri tetap merendah. Baginya, semua ini baru permulaan. “Saya hanya berusaha mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan, bukan sekadar mengamati dari balik kaca laboratorium,” tutupnya. Dengan sisa waktu studi kurang dari satu tahun, ia bertekad menyelesaikan tesis sekaligus meletakkan fondasi bagi riset lanjutan di tingkat doktoral.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User