Aug 25, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

7 Dalil Al-Quran dan Hadits tentang Perayaan Maulid Nabi Muhammad

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang digelar setiap 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriah, kembali menjadi perbincangan di kalangan umat Islam Indonesia. Di tengah perbedaan sikap para ulama, klaim...

7 Dalil Al-Quran dan Hadits tentang Perayaan Maulid Nabi Muhammad

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang digelar setiap 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriah, kembali menjadi perbincangan di kalangan umat Islam Indonesia. Di tengah perbedaan sikap para ulama, klaim bahwa peringatan hari kelahiran Rasulullah memiliki landasan dalil dari Al-Quran dan hadits terus diulang dalam berbagai kajian dan ceramah. Berdasarkan verifikasi terhadap teks-teks rujukan utama, faktanya adalah terdapat sejumlah ayat dan riwayat yang kerap dijadikan pijakan, meskipun tidak satu pun secara eksplisit memerintahkan perayaan dalam bentuk yang kini dikenal luas. Berikut tujuh dalil yang paling sering dikutip beserta sumber resminya.

Empat Dalil dari Al-Quran

Pertama, QS. Yunus ayat 58. Ayat ini memuat perintah bergembira atas karunia dan rahmat Allah: “Katakanlah (Muhammad), ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” Dalam sejumlah tafsir, rahmat pada ayat ini dihubungkan dengan kenabian Muhammad SAW, sehingga kegembiraan atas kelahirannya dipandang sebagai bagian dari kegembiraan yang diperintahkan ayat tersebut.

Kedua, QS. Al-Anbiya ayat 107. Allah berfirman: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” Ayat ini menegaskan kedudukan Nabi sebagai rahmat bagi semesta, dan kelahiran beliau merupakan titik awal tersalurkannya rahmat tersebut kepada umat manusia. Para pendukung perayaan Maulid menjadikan ayat ini sebagai bukti bahwa kelahiran Nabi adalah peristiwa besar yang patut disyukuri dan dirayakan.

Ketiga, QS. Al-Ahzab ayat 56. “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” Ayat ini menjadi dasar anjuran memperbanyak shalawat, yang dalam praktik perayaan Maulid memuncak melalui pembacaan shalawat, pujian, dan kisah perjalanan hidup Rasulullah.

Keempat, QS. Ibrahim ayat 5. Dalam ayat ini Allah berfirman kepada Nabi Musa, “dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.” Sebagian ulama menjadikan ayat ini sebagai landasan umum untuk memperingati hari-hari bersejarah dalam agama, termasuk hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, karena mengingatkan kembali peristiwa agung dinilai bagian dari meneguhkan keimanan.

Tiga Riwayat Hadits yang Sering Dikutip

Kelima, hadits riwayat Imam Muslim tentang puasa Senin. Dari Abu Qatadah al-Anshari, Rasulullah ditanya tentang puasa pada hari Senin, lalu beliau menjawab: “Itu adalah hari aku dilahirkan, dan hari aku diutus, atau hari diturunkannya wahyu kepadaku.” (HR. Muslim, nomor 1162). Riwayat ini menunjukkan bahwa Nabi sendiri mengistimewakan hari kelahirannya dengan ibadah, dan menjadi dalil paling kuat bagi mereka yang menghidupkan momentum kelahiran beliau setiap tahun.

Keenam, hadits riwayat Imam at-Tirmidzi tentang kenabian sebelum penciptaan Adam. Rasulullah bersabda: “Aku telah menjadi nabi, sementara Adam masih berada di antara ruh dan jasad.” (HR. at-Tirmidzi, berstatus hasan gharib). Riwayat ini kerap digunakan untuk menjelaskan bahwa kemuliaan Nabi telah ditetapkan sejak awal penciptaan, sehingga kelahirannya ke dunia dipandang sebagai peristiwa yang bermakna agung, bukan kelahiran biasa.

Ketujuh, hadits riwayat Imam Muslim tentang kedudukan Nabi. Beliau bersabda: “Aku adalah pemimpin anak cucu Adam, dan aku tidak membanggakannya.” (HR. Muslim). Para pendukung perayaan Maulid menjadikan riwayat ini sebagai penguat bahwa mengagungkan hari kelahiran sosok yang memiliki kedudukan tertinggi di sisi Allah merupakan bentuk penghormatan yang dibenarkan dalam syariat.

Catatan Verifikasi dan Kesimpulan

Berdasarkan verifikasi terhadap mushaf Al-Quran dan kitab-kitab hadits standar, ketujuh dalil di atas memang termuat dalam sumber resmi dan sebagian besar berstatus sahih. Namun, klaim bahwa perayaan Maulid secara langsung diperintahkan oleh nash tidak sepenuhnya akurat. Faktanya adalah ayat dan hadits tersebut tidak ada yang menyebut secara eksplisit perayaan ulang tahun Nabi; dalil-dalil itu lebih bersifat prinsip umum, seperti perintah bergembira atas rahmat Allah, perintah bershalawat, serta keteladanan Nabi dalam mengistimewakan hari lahirnya melalui puasa Senin.

Para ulama berbeda pendapat dalam menyikapi hal ini. Sebagian, seperti Imam as-Suyuthi dan Ibnu Hajar al-Asqalani, membolehkan peringatan Maulid sebagai bid'ah hasanah yang tidak bertentangan dengan syariat. Sebagian lainnya menilai perayaan Maulid tidak memiliki landasan langsung dari Nabi dan para sahabat sehingga menolaknya. Perbedaan ini menunjukkan bahwa perayaan Maulid termasuk wilayah ijtihad, bukan perintah tegas yang disepakati seluruh ulama.

Kesimpulan: klaim bahwa perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW didukung oleh dalil Al-Quran dan hadits adalah sebagian benar. Data menunjukkan dalil-dalil yang dikutip otentik dan sahih, tetapi tidak satu pun memerintahkan bentuk perayaan secara langsung; semuanya bergantung pada penafsiran dan ijtihad para ulama. Karena itu, pernyataan yang menyebut perayaan Maulid sebagai perintah mutlak dapat dikategorikan menyesatkan bila tidak disertai penjelasan konteks dan perbedaan pendapat yang ada.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sinta-pradana

Fact-Check Editor. Verifikator bersertifikasi IFCN. Memeriksa klaim viral dan disinformasi.

Comments (0)

User