Anak Korban Pemukulan Polisi di Palembang Alami Sakit Kepala dan Trauma Berat

Dugaan tindak kekerasan oleh seorang aparat kepolisian terhadap anak di bawah umur kembali mencuat di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Seorang bocah berinisial LK dikabarkan menjadi korban pemukulan ...

Anak Korban Pemukulan Polisi di Palembang Alami Sakit Kepala dan Trauma Berat

Dugaan tindak kekerasan oleh seorang aparat kepolisian terhadap anak di bawah umur kembali mencuat di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Seorang bocah berinisial LK dikabarkan menjadi korban pemukulan oleh oknum polisi saat sedang asyik bermain layang-layang di sekitar tempat tinggalnya. Insiden yang terjadi beberapa hari lalu itu kini meninggalkan luka fisik dan psikologis yang cukup dalam bagi sang anak.

Kronologi Kejadian di Lapangan

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, peristiwa bermula ketika LK bersama sejumlah teman sebayanya menerbangkan layang-layang di sebuah lapangan terbuka di wilayah Palembang pada sore hari. Tanpa diduga, seorang pria berseragam polisi mendatangi mereka. Saksi mata di lokasi menyebutkan bahwa polisi tersebut tampak marah dan langsung menghampiri LK. Tanpa banyak bicara, oknum itu diduga melayangkan pukulan ke arah kepala anak tersebut. “Saya tidak tahu alasannya, tiba-tiba teman saya dipukul,” ujar salah seorang saksi yang enggan disebutkan namanya.

Setelah kejadian, LK langsung terdiam dan tampak kesakitan. Beberapa warga yang berada di sekitar lokasi segera menghampiri dan mencoba menenangkan anak yang masih shock itu. Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa yang memicu kemarahan polisi tersebut. Namun, dugaan sementara menyebutkan bahwa petugas mungkin menganggap aktivitas bermain layangan di area itu melanggar aturan atau membahayakan, meski kekerasan dinilai tidak dapat dibenarkan dalam situasi apa pun.

Kondisi Kesehatan dan Psikis Korban

Pasca-insiden, kondisi LK cukup memprihatinkan. Menurut penuturan pihak keluarga, bocah tersebut mengadu mengalami sakit kepala hebat yang tak kunjung reda. Ia juga merasakan pusing berat yang membuatnya sulit beraktivitas seperti biasa. Bahkan, untuk berjalan sebentar saja, LK harus berpegangan karena merasa sempoyongan.

Tak hanya keluhan fisik, dampak psikologis pun mulai terlihat. LK dilaporkan mengalami trauma yang cukup serius. Ia menjadi sangat ketakutan dan cenderung menghindar setiap kali melihat orang yang mengenakan seragam kepolisian. “Anak saya sekarang jadi penakut. Kalau ada polisi lewat, dia langsung sembunyi. Padahal sebelumnya dia anak yang pemberani,” ungkap seorang kerabat dekat korban. Keluarga memutuskan untuk membawa LK ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan medis serta pendampingan psikologis guna mengurangi dampak traumatisnya.

Respons Keluarga dan Langkah Hukum

Melihat penderitaan yang dialami LK, pihak keluarga tidak tinggal diam. Mereka telah mendatangi kantor kepolisian setempat untuk melaporkan dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh oknum aparat. Keluarga berharap agar pelaku dapat segera diidentifikasi dan diproses secara hukum. “Kami ingin keadilan. Anak saya tidak bersalah apa-apa, tapi dia harus menanggung rasa sakit dan trauma seperti ini,” kata salah satu orang tua korban dengan nada lirih.

Selain itu, keluarga juga membawa LK ke rumah sakit untuk menjalani visum. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan adanya tanda-tanda benturan di area kepala, yang menguatkan dugaan bahwa kekerasan fisik benar terjadi. Laporan resmi ini diharapkan menjadi dasar yang kuat dalam proses penyelidikan.

Penyelidikan Internal Kepolisian

Sementara itu, jajaran Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Palembang dikabarkan telah menaruh perhatian pada kasus ini. Meskipun belum ada pernyataan resmi dari humas, sumber internal menyebutkan bahwa Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) sedang melakukan penyelidikan internal untuk mengonfirmasi identitas oknum yang diduga terlibat. Jika terbukti bersalah, polisi tersebut terancam sanksi disiplin berat, termasuk pemberhentian tidak dengan hormat jika unsur pidana terpenuhi.

Pihak kepolisian diimbau untuk transparan dalam mengusut kasus ini guna menjaga kepercayaan publik. Sejumlah elemen masyarakat sipil dan pemerhati anak juga mulai menyuarakan keprihatinan mereka, mendesak agar pelaku kekerasan terhadap anak mendapatkan hukuman yang setimpal sesuai Undang-Undang Perlindungan Anak.

Dampak Sosial dan Harapan Pemulihan

Kasus ini menambah panjang daftar dugaan penyalahgunaan wewenang oleh aparat yang seharusnya menjadi pelindung masyarakat. Aktivis hak anak menilai bahwa tindakan kekerasan terhadap anak bukan hanya melukai fisik, tetapi juga dapat merusak kepercayaan generasi muda terhadap institusi penegak hukum. Trauma yang dialami LK dikhawatirkan berdampak pada perkembangan mentalnya di masa depan.

Masyarakat sekitar berharap agar kejadian serupa tidak terulang. Mereka mendorong adanya edukasi bagi aparat tentang pendekatan humanis, terutama ketika berhadapan dengan anak-anak. Sementara itu, keluarga korban terus fokus pada proses pemulihan LK, dengan harapan sang anak dapat kembali ceria dan bebas dari rasa takut yang kini menghantuinya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User