Menjelang bulan Safar yang jatuh pada Jumat, 24 Juli 2026, banyak masjid di Jawa dan komunitas berbahasa Jawa mulai mempersiapkan khutbah Jumat yang relevan. Bulan kedua dalam kalender Hijriah ini sering kali dikaitkan dengan berbagai mitos dan kekhawatiran di tengah masyarakat. Namun, para khatib dapat mengubah persepsi itu dengan menyampaikan pesan-pesan tauhid yang menenangkan, khususnya tentang amalan tolak bala yang benar menurut syariat.
Mengurai Mitos Bulan Safar
Di masa jahiliyah, masyarakat Arab meyakini bulan Safar sebagai waktu turunnya bala dan kesialan. Keyakinan ini terbawa hingga ke Nusantara dan berpadu dengan kepercayaan lokal. Rasulullah SAW dengan tegas menolak anggapan tersebut. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari, beliau bersabda bahwa tidak ada penyakit menular dengan sendirinya, tidak ada kepercayaan pada tanda-tanda buruk seperti burung, burung hantu, dan juga bulan Safar. Peringatan ini menunjukkan bahwa semua bulan adalah baik, dan bala dapat datang kapan saja jika Allah menghendaki. Khatib dapat menggunakan fakta ini untuk meluruskan pemahaman jemaah.
Konsep Tolak Bala dalam Islam
Islam mengajarkan bahwa upaya menolak musibah bukanlah dengan ritual-ritual takhayul, melainkan dengan memperkuat hubungan kepada Allah. Tolak bala yang hakiki adalah dengan doa, istighfar, sedekah, dan memperbanyak amal saleh. Al-Quran surat Ar-Ra'd ayat 11 menegaskan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Ini menjadi dasar bahwa perubahan nasib harus dimulai dari perbaikan diri. Khutbah berbahasa Jawa dapat menyampaikan ayat ini dengan terjemahan yang menyentuh, misalnya: "Allah ora bakal ngowahi kahanan sawijining kaum nganti kaum iku ngowahi kahanan dhewe-dhewe."
Struktur Khutbah Jumat Bahasa Jawa
Sebuah khutbah Jumat yang baik harus memenuhi rukun-rukunnya, meskipun disampaikan dalam bahasa Jawa. Khatib perlu menyiapkan teks khutbah yang terdiri dari: pembukaan hamdalah, syahadatain, shalawat, pesan taqwa, ayat Al-Quran, hadis, mau'idhoh hasanah, doa penutup. Dalam konteks bulan Safar, pesan taqwa bisa diarahkan pada ajakan untuk tidak takut pada bala tetapi takut kepada Allah. Ayat-ayat pilihan bisa meliputi QS. Al-Baqarah 155-157 tentang ujian dan kesabaran, atau QS. At-Taghabun 11 tentang musibah yang menimpa hanya dengan izin Allah. Hadis tentang larangan thiyarah (meyakini kesialan) juga penting disampaikan untuk mencegah syirik kecil.
Amalan Tolak Bala yang Dianjurkan
Selain meluruskan keyakinan, khatib dapat memberikan contoh nyata amalan tolak bala yang bersumber dari sunnah. Memperbanyak membaca doa perlindungan seperti "Hasbunallah wa ni'mal wakil" yang diucapkan Nabi Ibrahim saat dilempar ke api, atau doa pagi dan sore yang diajarkan Rasulullah. Memperbanyak sedekah karena sedekah dapat menolak bala, sebagaimana sabda beliau: "Bersegeralah bersedekah, karena bala tidak dapat mendahului sedekah." Shalat malam dan istighfar juga menjadi perisai dari berbagai bencana. Semua ini bisa dijelaskan dengan bahasa Jawa yang lugas dan mudah dipahami, terutama bagi jemaah yang mayoritas berbahasa ibu.
Mengapa Bahasa Jawa?
Penggunaan bahasa daerah dalam khutbah bukan sekadar untuk mempertahankan budaya, tetapi juga untuk memastikan pesan agama sampai dengan baik. Di pedesaan dan kalangan tua, bahasa Jawa adalah bahasa pengantar yang paling efektif. Dengan bahasa yang akrab, nilai-nilai tauhid tentang tolak bala bisa diterima tanpa sekat. Ini juga merupakan strategi dakwah yang dicontohkan para wali songo, yang menyampaikan Islam dengan pendekatan budaya setempat. Oleh karena itu, para khatib diharapkan tidak ragu menyusun khutbah Jumat dalam bahasa Jawa, dengan tetap menjaga kesakralan ibadah.
Bulan Safar adalah momentum yang tepat untuk menguatkan iman dan menjernihkan akidah. Melalui khutbah Jumat berbahasa Jawa yang mengangkat tema tolak bala, khatib dapat membimbing umat untuk menghadapi bulan ini dengan penuh tawakal dan amal, bukan dengan rasa takut yang tidak berdasar. Semoga Allah melindungi kita semua dari segala bala, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Comments (0)