Oct 14, 2026
Sains

Toto Sugiri Sebut Indonesia Butuh 2,8 GW Kapasitas Data Center

Industri pusat data (data center) nasional berada di persimpangan jalan. Di tengah percepatan transformasi digital, salah satu tokoh paling berpengaruh di

Toto Sugiri Sebut Indonesia Butuh 2,8 GW Kapasitas Data Center

Industri pusat data (data center) nasional berada di persimpangan jalan. Di tengah percepatan transformasi digital, salah satu tokoh paling berpengaruh di sektor teknologi Indonesia, Toto Sugiri, mengangkat isu krusial yang jarang disorot publik: negara ini membutuhkan lonjakan kapasitas data center hingga sekitar 2,8 gigawatt (GW) untuk menopang pertumbuhan ekonomi digital dalam beberapa tahun ke depan.

Angka itu bukan sembarang proyeksi. Jika dibandingkan kapasitas terpasang saat ini, kebutuhan tersebut menuntut penambahan yang nyaris tidak masuk akal bila hanya mengandalkan laju pembangunan eksisting. Inilah pemicu diskusi panas di kalangan pelaku industri infrastruktur digital, penyedia listrik, hingga pembuat kebijakan.

Dari Mana Angka 2,8 GW Berasal?

Lonjakan permintaan itu tidak lahir dari ruang hampa. Sejumlah pendorong utama yang disebut dalam berbagai diskusi industri mencakup:

  1. Ledakan adopsi layanan cloud — baik dari korporasi, UMKM, maupun instansi pemerintah yang bermigrasi ke platform digital.
  2. Pertumbuhan AI generatif yang membutuhkan daya komputasi dan konsumsi listrik jauh lebih besar dibanding server konvensional.
  3. Kebijakan data residency yang mendorong penyimpanan data di dalam negeri, bukan di server luar.
  4. Dominasi trafik lokal — pengguna internet Indonesia yang menembus ratusan juta jiwa menghasilkan volume data harian yang masif.

Kombinasi keempat faktor ini membuat permintaan tidak lagi linier, melainkan eksponensial. "Kalau kita tidak menyiapkan kapasitas sekarang, kita akan bergantung pada infrastruktur negara lain," ujar seorang pengamat infrastruktur digital yang meminta identitasnya disamarkan.

Tantangan yang Jarang Dibahas

Persoalan 2,8 GW bukan sekadar soal membangun gedung dan memasang rak server. Ada dimensi lain yang jauh lebih pelik:

  • Pasokan listrik. Data center modern adalah konsumen listrik raksasa. Satu fasilitas hyperscale bisa menyerap daya setara kota kecil.
  • Ketersediaan lahan strategis. Lokasinya harus dekat sumber listrik, jaringan fiber optik, dan bebas dari risiko bencana.
  • SDM terampil. Operator butuh teknisi jaringan, spesialis keamanan siber, hingga ahli pendinginan energi.
  • Regulasi dan perizinan. Sinkronisasi antara pusat dan daerah kerap menjadi penghambat.

Peta Jalan yang Menuntut Kolaborasi

Dalam berbagai forum, Toto Sugiri dikenal konsisten menyuarakan bahwa pembangunan data center tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, PLN, operator telekomunikasi, dan investor swasta. Tanpa orkestrasi ini, target 2,8 GW berisiko hanya menjadi angka di atas kertas.

Tanpa listrik yang cukup, tanpa lahan yang siap, dan tanpa SDM yang mumpuni, ambisi ini akan berhenti di tahap presentasi.

Perbandingan sederhana bisa menggambarkan skala tantangannya:

AspekKondisi Saat IniKebutuhan Proyeksi
Kapasitas data centerSekitar ratusan MWhingga 2,8 GW
Pasokan listrik khususTerbatas, tersebarButuh infrastruktur khusus
SDM terampilKurang pasokanPerlu pelatihan massal
RegulasiTersebar di banyak kementerianPerlu harmonisasi

Implikasi bagi Ekonomi Digital

Jika kebutuhan ini mampu dipenuhi, Indonesia berpeluang menjadi pusat data regional di Asia Tenggara. Arus investasi bisa masuk, lapangan kerja baru tercipta, dan kedaulatan data lebih terjaga. Namun sebaliknya, kegagalan memenuhi kapasitas akan membuat perusahaan lokal terus bergantung pada infrastruktur Singapura atau Malaysia yang notabene lebih siap.

Pesan Toto Sugiri dengan angka 2,8 GW itu jelas: ini bukan sekadar proyek konstruksi, melainkan pertaruhan posisi Indonesia dalam ekonomi digital global. Waktunya bukan lima puluh tahun lagi, tetapi dalam hitungan tahun yang bisa dihitung dengan jari.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sinta-pradana

Fact-Check Editor. Verifikator bersertifikasi IFCN. Memeriksa klaim viral dan disinformasi.

Comments (0)

User