Sutami, Menteri Termiskin yang Hidup Sederhana di Tengah Proyek Raksasa
Namanya mungkin tidak setenar para menteri era pembangunan lainnya, tetapi Ir. Sutami menyimpan kisah yang langka: seorang menteri yang memimpin proyek-pro
Namanya mungkin tidak setenar para menteri era pembangunan lainnya, tetapi Ir. Sutami menyimpan kisah yang langka: seorang menteri yang memimpin proyek-proyek raksasa negara, namun memilih hidup serba sederhana hingga dijuluki "Menteri Termiskin". Julukan itu melekat bukan karena kinerjanya buruk, melainkan justru karena integritas dan gaya hidupnya yang jauh dari gemerlap kekuasaan.
Sebagai Menteri Pekerjaan Umum pada era Presiden Soeharto, Sutami mengelola anggaran pembangunan infrastruktur yang sangat besar. Ia mengawasi pembangunan jalan tol pertama di Indonesia, bendungan-bendungan raksasa, hingga program perumahan rakyat. Namun di balik semua itu, kesehariannya justru bertolak belakang: hidup hemat, tanpa harta berlimpah, dan dikenal sebagai pejabat yang menolak kemewahan.
Kronologi Perjalanan Sang Teknokrat
- 1928 — Sutami lahir di Surakarta, Jawa Tengah, dan tumbuh di masa kolonial yang penuh keterbatasan.
- Ia menempuh pendidikan teknik sipil, lalu mengabdi sebagai dosen di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, membentuk reputasinya sebagai teknokrat murni, bukan politikus.
- 1973 — Sutami diangkat menjadi Menteri Pekerjaan Umum dalam Kabinet Pembangunan II, posisi yang diembannya hingga 1978.
- Pada masa jabatannya, ia memimpin pembangunan Jalan Tol Jagorawi (Jakarta–Bogor–Ciawi), jalan tol pertama di Indonesia yang diresmikan pada 1978.
- Ia juga mengawal proyek-proyek strategis lainnya, seperti pengembangan bendungan dan pembangkit listrik tenaga air, serta perluasan program Perumnas bagi rakyat kecil.
- 1979 — Menurut berbagai catatan sejarah, Sutami berpulang dalam usia relatif muda, tidak lama setelah melepas jabatannya.
Hidup Sederhana di "Lahan Basah"
Jabatan menteri pekerjaan umum sering disebut bekerja di "lahan basah" karena berhubungan dengan anggaran raksasa dan proyek senilai triliunan rupiah. Justru di lingkungan inilah Sutami dikenal tak tergoda. Dikisahkan, ia tidak memiliki tabungan berarti, tinggal di rumah sederhana, dan bahkan kerap kesulitan secara finansial di luar gajinya sebagai pejabat negara.
"Ia lebih memilih hidup prihatin daripada mengorbankan kepercayaan rakyat. Baginya, menjadi menteri adalah amanah, bukan jalan menuju kekayaan," demikian pesan yang kerap diingat dari kisah hidupnya.
Berbeda dengan bayangan publik tentang pejabat proyek yang kerap dikaitkan dengan kemewahan, Sutami justru menolak fasilitas berlebihan. Ia dikenal lebih banyak bekerja pada hal-hal teknis daripada seremonial, dan kerap turun langsung ke lapangan memeriksa proyek. Kedekatannya dengan persoalan teknis membuat para insinyur dan pekerja menghormatinya, bukan karena jabatan, melainkan karena keahlian dan keteladanannya.
Gaya hidup semacam itu menjadi teladan yang langka. Di tengah budaya pejabat yang gemar menumpuk harta, Sutami justru meninggalkan warisan yang jauh lebih berharga: karya infrastruktur yang masih dinikmati jutaan orang hingga hari ini.
Warisan Karya yang Masih Dirasakan
Hampir setengah abad setelah ia menjabat, jejak Sutami masih terasa. Beberapa warisan utamanya antara lain:
- Jalan Tol Jagorawi — cikal bakal jaringan jalan tol nasional yang kini membentang ribuan kilometer.
- Pengembangan bendungan dan irigasi yang mendukung ketahanan pangan, termasuk pengelolaan waduk-waduk besar.
- Program Perumnas yang menjadi cikal bakal penyediaan rumah terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
- Namanya kini diabadikan pada Bendungan Ir. Sutami (sebelumnya Bendungan Karangkates) di aliran Sungai Brantas, Jawa Timur.
Bagi generasi sekarang, nama Sutami mungkin lebih dikenal lewat nama jalan dan bendungan. Namun di balik nama-nama itu tersimpan pelajaran tentang kepemimpinan yang melayani, bukan menguasai. Kisahnya juga menepis anggapan bahwa jabatan publik identik dengan kekayaan pribadi.
Kisah Sutami menjadi pengingat bahwa kemuliaan seorang pemimpin tidak diukur dari harta yang dikumpulkan, melainkan dari amanah yang dijaga dan karya yang ditinggalkan. Julukan "Menteri Termiskin" yang pernah disandangnya kini justru menjadi simbol kekayaan integritas yang tak ternilai.
[SOCIAL_TWEET]: Julukan "Menteri Termiskin" justru jadi simbol integritas: Ir. Sutami memimpin proyek raksasa negara, tapi hidup serba sederhana. Warisannya masih terasa sampai kini. #Integritas #Infrastruktur #SejarahIndonesia[SOCIAL_TG]: Sutami dijuluki "Menteri Termiskin" karena hidup sederhana, padahal mengelola proyek raksasa. Warisannya: tol pertama Indonesia, bendungan, dan perumahan rakyat.
Comments (0)