Lima Perempuan Berebut Kursi Sekjen PBB Pengganti Guterres
Persaingan menuju kursi Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mulai memanas. Delapan kandidat resmi dikabarkan siap bersaing mengga
Persaingan menuju kursi Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mulai memanas. Delapan kandidat resmi dikabarkan siap bersaing menggantikan Antonio Guterres, yang masa jabatannya akan berakhir pada 31 Desember 2026. Dari delapan nama yang beredar, lima di antaranya adalah perempuan dan tiga lainnya laki-laki, sebuah komposisi yang dinilai mencerminkan tekanan kuat agar organisasi dunia itu dipimpin oleh perempuan untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Nama-nama yang telah mengemuka di publik mencakup Rebeca Grynspan dari Kosta Rika dan Maria Fernanda Espinosa dari Ekuador. Grynspan dikenal sebagai ekonom senior yang kini memimpin Konferensi Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD), sementara Espinosa pernah menjabat Presiden Majelis Umum PBB ke-73 dan Menteri Luar Negeri Ekuador. Keduanya masuk dalam bursa calon kuat, terutama karena tradisi rotasi kawasan yang menempatkan Amerika Latin dan Karibia sebagai giliran berikutnya.
Kronologi Menuju Kursi Nomor Satu PBB
Perjalanan menuju posisi Sekjen PBB tidak pernah singkat. Berikut kronologi yang membawa dunia pada bursa calon kali ini:
- Pada 2016, Antonio Guterres, mantan perdana menteri Portugal, terpilih sebagai Sekjen PBB ke-9 dan mulai menjabat pada 1 Januari 2017.
- Pada Juni 2021, Majelis Umum PBB kembali mengangkat Guterres untuk periode kedua, dengan masa tugas 2022–2026.
- Sejak awal 2026, proses pencarian calon pengganti berjalan seiring batas akhir masa jabatan Guterres pada 31 Desember 2026.
- Sejumlah negara, terutama dari kawasan Amerika Latin dan Karibia, mulai mencalonkan tokohnya, menghasilkan daftar delapan kandidat dengan lima perempuan dan tiga laki-laki.
- Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar jajak pendapat informal (straw poll) untuk mengukur dukungan terhadap setiap kandidat sebelum merekomendasikan satu nama.
"Sekretaris Jenderal diangkat oleh Majelis Umum atas rekomendasi Dewan Keamanan." — Pasal 97 Piagam PBB
Dua Nama yang Sudah Dikenal Publik
Dari delapan kandidat, dua nama sejauh ini paling sering disebut. Rebeca Grynspan adalah wakil presiden Kosta Rika pada 1994–1998 dan kini mengepalai UNCTAD sejak 2021. Pengalamannya di panggung global dinilai mumpuni, dan posisinya sebagai perempuan dari Amerika Latin memperkuat daya tariknya. Maria Fernanda Espinosa adalah diplomat Ekuador yang memimpin Majelis Umum PBB pada 2018–2019 dan pernah dua kali menjabat Menteri Luar Negeri. Ia juga mantan Menteri Pertahanan dan Menteri Warisan Budaya Ekuador.
Adapun enam kandidat lainnya belum seluruhnya dikonfirmasi secara resmi ke publik, meski laporan menyebut komposisi akhir lima perempuan dan tiga laki-laki. Para analis menilai kandidat dari kawasan Asia, Afrika, dan Eropa Timur juga masih mungkin ikut serta jika negara-negara anggota memutuskan menantang tradisi rotasi kawasan.
Tradisi Rotasi Kawasan Jadi Kunci
Salah satu faktor terbesar dalam bursa calon kali ini adalah tradisi rotasi kawasan. Meski tidak tertulis dalam Piagam PBB, praktik ini telah berjalan lama: Sekjen dari Eropa Barat (Guterres), sebelumnya dari Asia (Ban Ki-moon dari Korea Selatan, 2007–2016), dan dari Afrika (Kofi Annan, 1997–2006).
Terakhir kali Amerika Latin memimpin PBB adalah Javier Pérez de Cuéllar dari Peru pada 1982–1991. Sejak itu, lebih dari tiga dekade berlalu tanpa wakil kawasan itu di posisi puncak. Karena itulah, Amerika Latin dan Karibia disebut-sebut "gilirannya" tiba, dan ini menjadi modal besar bagi Grynspan maupun Espinosa.
Proses Panjang dan Hak Veto
Jalan menuju kursi Sekjen tidak cukup dengan dukungan publik. Prosesnya berlapis: Dewan Keamanan merekomendasikan satu nama, lalu Majelis Umum mengangkatnya. Dalam praktiknya, Dewan Keamanan menggelar serangkaian jajak pendapat tertutup. Setiap anggota tetap Dewan Keamanan — termasuk lima negara pemegang hak veto: Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, Inggris, dan Prancis — bisa memveto kandidat.
Tekanan lain datang dari seruan global agar Sekjen berikutnya adalah perempuan. Sejak 2016, Majelis Umum dan berbagai kelompok masyarakat sipil terus mendorong kandidat perempuan. Dengan lima dari delapan calon adalah perempuan, dorongan itu tampaknya mulai membuahkan hasil.
Kapan Nama Pemenang Diumumkan?
Jika mengikuti jadwal pemilihan sebelumnya, nama Sekjen baru biasanya diumumkan pada akhir tahun berjalan, setelah Majelis Umum mengangkat hasil rekomendasi Dewan Keamanan. Sekjen baru diperkirakan dilantik dan mulai bertugas pada 1 Januari 2027, menggantikan Guterres yang telah memimpin PBB selama dua periode penuh.
Dunia kini menanti: apakah sejarah baru akan tercipta dengan terpilihnya perempuan pertama pemimpin PBB, atau tradisi rotasi kawasan yang akan berbicara lebih keras? Yang pasti, bursa calon kali ini menjadi salah satu yang paling menarik perhatian dalam satu dekade terakhir.
[SOCIAL_TWEET]: Lima perempuan dan tiga laki-laki bersaing menggantikan Guterres sebagai Sekjen PBB. Grynspan (Kosta Rika) dan Espinosa (Ekuador) jadi yang terkuat? #SekjenPBB #PBB[SOCIAL_TG]: 🚨 Bursa Sekjen PBB memanas! 8 kandidat, 5 di antaranya perempuan. Grynspan dan Espinosa unggul berkat rotasi kawasan Amerika Latin. 🇺🇳
Comments (0)