Pramono Pastikan Rehab SDN Kebayoran Lama September, Grobogan Sudah Diperbaiki
Dua wajah pendidikan dasar di Indonesia kembali menjadi sorotan publik dalam pekan yang sama. Di ujung selatan Jakarta, Gubernur Pramono Anung menatap lang
Dua wajah pendidikan dasar di Indonesia kembali menjadi sorotan publik dalam pekan yang sama. Di ujung selatan Jakarta, Gubernur Pramono Anung menatap langsung puing-puing ruang kelas yang tak layak pakai di SDN Kebayoran Lama Selatan 09. Sementara itu, ribuan kilometer ke arah timur, denting palu dan adukan semen telah terdengar di SDN Tanggirejo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah—sekolah yang sebelumnya viral karena atapnya ambruk membahayakan siswa. Kedua peristiwa ini bukan sekadar catatan proyek fisik tahun jamak, melainkan potret kontras bagaimana negara hadir: ada yang digerakkan oleh perencanaan matang, ada pula yang tergerak oleh tekanan viral media sosial.
Peninjauan Langsung Pramono: Janji di Atas Reruntuhan
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung tidak ingin menunggu lebih lama. Dalam kunjungan yang dilakukan pertengahan pekan lalu, ia berjalan menyusuri koridor SDN Kebayoran Lama Selatan 09 yang plafonnya menganga, dinding retak, dan mebel kayu yang sudah lapuk termakan usia. Sekolah yang telah menderita kerusakan setidaknya selama dua tahun terakhir ini akhirnya mendapat titik terang setelah sekian lama para guru dan orang tua murid pasrah menunggu giliran perbaikan.
“Saya sudah perintahkan Dinas Pendidikan dan dinas terkait untuk segera bergerak. Kita targetkan paling lambat September 2026 rehabilitasi total sudah dimulai. Tidak boleh ada lagi alasan anggaran berbelit yang membuat anak-anak kita belajar dalam kondisi tidak aman,”
Pramono tidak menyebut rincian anggaran, namun ia memastikan sumber pembiayaan akan diambil dari APBD DKI yang telah disesuaikan. Di balik janji politis itu, warga sekolah mengaku lega sekaligus khawatir. Lega karena akhirnya ada perhatian langsung dari orang nomor satu di ibu kota, namun khawatir karena target September 2026 terasa masih setahun lebih—waktu yang tidak sebentar bagi siswa yang setiap hari harus menahan was-was di bawah genteng rapuh.
SDN Tanggirejo Grobogan: Virus Viral Jadi Katalis Perbaikan
Sementara Jakarta bersiap dengan perencanaan birokratisnya, di Grobogan, Jawa Tengah, respons mengalir seperti air bah setelah video dan foto SDN Tanggirejo yang ambruk menyebar di media sosial. Dalam hitungan hari, pemerintah daerah bersama Kementerian PUPR menurunkan tim teknis. Material bangunan datang lebih dulu, diikuti pekerja yang mulai mendirikan struktur baru. Hari ini, bangunan pengganti telah mencapai tahap pemasangan rangka atap, jauh sebelum batas waktu yang dijanjikan.
Kepala SDN Tanggirejo, Nurul Hidayah (48), menuturkan,
“Saya bahkan tak menyangka. Hari Senin viral, Rabu sudah ada survei, dan seminggu kemudian bantuan material mulai berdatangan. Sebelumnya kami sudah melapor berkali-kali, tetapi baru digubris setelah kejadian ramai di internet.”
Kasus ini menjadi bukti nyata bagaimana viralitas dapat menjadi akselerator kebijakan. Namun, ia juga menyingkap realitas pahit: hanya sekolah yang berhasil mencuri perhatian publiklah yang mendapat penanganan cepat. Sementara ribuan SD lain dengan nasib serupa di pelosok negeri mungkin masih tidur dalam senyap, menunggu giliran yang entah kapan tiba.
Ironi Dua Kecepatan: Antara Birokrasi dan Desakan Publik
Perbandingan antara SDN Kebayoran Lama Selatan 09 dan SDN Tanggirejo memunculkan diskursus tajam tentang mekanisme prioritas perbaikan infrastruktur pendidikan di Indonesia. Di Jakarta, meskipun berada di pusat pemerintahan, perbaikan membutuhkan setidaknya satu setengah tahun lagi untuk sekadar dimulai. Sebaliknya, di desa Tanggirejo, respons bisa berjalan sangat cepat—namun hanya setelah kondisi darurat diekspos dan menjadi konsumsi massa.
Data yang dihimpun dari berbagai sumber menunjukkan masih adanya puluhan ribu ruang kelas dalam kondisi rusak berat di seluruh Indonesia. Ironisnya, banyak di antaranya tak pernah terdeteksi karena minimnya eksposur. Dalam kasus Grobogan, kekuatan media sosial menjadi ‘sirene darurat’ yang membangunkan pemangku kebijakan dari tidur panjang birokrasi.
Menyongsong Tahun Ajaran Aman: Harapan dan Pekerjaan Rumah
Pramono Anung telah memberi tenggat yang jelas. Bagi Dinas Pendidikan DKI, September 2026 adalah batas yang tak bisa ditawar. Sementara itu, di Grobogan, target lebih ambisius: bangunan diharapkan rampung sebelum tahun ajaran baru dimulai. Keduanya menghadapi tantangan berbeda. Jakarta bergulat dengan prosedur lelang dan pengadaan barang/jasa yang kerap molor. Grobogan harus memastikan kualitas bangunan darurat yang dibangun kilat ini benar-benar layak dan tahan gempa.
Yang juga perlu dipastikan adalah keberlanjutan. Rehabilitasi sekolah tidak boleh berhenti pada satu atau dua bangunan yang viral. Harus ada sistem deteksi dini dan perawatan rutin yang mencegah kerusakan bertambah parah hingga ambruk. Ini pekerjaan rumah besar yang menuntut kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan partisipasi aktif masyarakat.
Di penghujung peninjauannya, Pramono sempat berbicara kepada para guru dan orang tua murid. Ia berjanji akan memantau langsung progres rehab setiap bulan. Entah janji itu akan terbukti atau hanya menjadi retorika yang menjemukan, setidaknya kini SDN Kebayoran Lama Selatan 09 memiliki nama dan tanggal yang pasti. Sementara bagi SDN Tanggirejo, deru mesin dan suara tukang adalah musik paling merdu yang menandakan sekolah mereka kembali berdiri tegak, siap menerima tawa dan langkah kecil siswanya.
[SOCIAL_TWEET]: Dua nasib berbeda: SDN di Jakarta dijanji rehab tahun depan, sementara SDN di Grobogan yang viral ambruk kini sudah dibangun. Ironis? Ini PR besar infrastruktur pendidikan kita. #PramonoAnung #PendidikanIndonesia[SOCIAL_TG]: 🔨 Jakarta – SDN Kebayoran Lama direhab September 2026. Sementara itu di Grobogan, SDN yang viral ambruk sudah mulai dibangun. Ironi dua kecepatan tanggap darurat pendidikan.
Comments (0)