Isu mengenai sulitnya lulusan perguruan tinggi dalam memperoleh pekerjaan belakangan ini ramai dibahas publik. Salah satu narasi yang beredar luas adalah bahwa penyebab utamanya adalah terlalu banyaknya program studi (prodi) yang dibuka di perguruan tinggi, sehingga jumlah lulusan melimpah ruah dan tidak sebanding dengan ketersediaan lapangan kerja. Berdasarkan verifikasi terhadap sejumlah data resmi dan kajian akademik, klaim tersebut tergolong MENYESATKAN karena menyederhanakan persoalan secara berlebihan.
Klaim yang Beredar
Narasi yang berkembang di ruang publik menyatakan bahwa banyaknya nama program studi di kampus-kampus menjadi biang keladi kesulitan lulusan terserap pasar kerja. Logika yang dibangun sederhana: makin banyak prodi, makin banyak lulusan, makin ketat persaingan, dan akhirnya makin banyak pengangguran terdidik.
Klaim: "Jumlah prodi melimpah membuat lulusan sulit terserap kerja."
Faktanya adalah persoalan penyerapan tenaga kerja lulusan perguruan tinggi tidak dapat disederhanakan hanya menjadi persoalan kuantitas program studi. Data menunjukkan bahwa masalah pengangguran terdidik dipengaruhi oleh berbagai faktor struktural yang jauh lebih kompleks.
Data Resmi yang Membantah Penyederhanaan
Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), angka pengangguran terbuka lulusan universitas memang menjadi perhatian. Namun demikian, tingkat pengangguran terbuka menurut pendidikan tinggi tidak bergerak secara linear mengikuti jumlah program studi yang dibuka. Sejumlah wilayah dengan jumlah prodi relatif sedikit justru mencatat tingkat pengangguran lulusan yang tinggi, dan sebaliknya.
Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui sistem pelacakan lulusan (tracer study) menunjukkan bahwa masa tunggu rata-rata lulusan untuk mendapatkan pekerjaan pertama bervariasi antarwilayah dan antarbidang keilmuan. Hal ini mengindikasikan bahwa faktor lokasi, kondisi industri, dan relevansi kurikulum lebih menentukan dibanding semata-mata jumlah prodi.
Bahkan dalam beberapa laporan resmi, kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia usaha menjadi penyebab utama rendahnya penyerapan. Ketidaksesuaian keterampilan (skill mismatch) dan minimnya pengalaman praktis menjadi faktor yang berulang kali disebut dalam berbagai kajian ketenagakerjaan.
Faktor Struktural yang Sering Diabaikan
Berdasarkan verifikasi terhadap literatur ketenagakerjaan, setidaknya terdapat beberapa faktor dominan yang berkontribusi terhadap sulitnya lulusan terserap kerja:
Pertama, ketidaksesuaian kompetensi. Dunia industri menuntut keterampilan teknis dan nonteknis tertentu yang kerap tidak terpenuhi oleh kurikulum yang kaku.
Kedua, pertumbuhan lapangan kerja formal yang lambat. Struktur ekonomi yang belum sepenuhnya menyerap tenaga kerja terdidik membuat persaingan menjadi tidak seimbang, terlepas dari jumlah prodi.
Ketiga, kesenjangan daerah. Konsentrasi industri yang tidak merata membuat lulusan di sejumlah wilayah kesulitan menemukan pekerjaan yang sesuai, terlepas dari banyaknya prodi di sana.
Keempat, persoalan informasi dan jejaring. Keterbatasan akses terhadap informasi lowongan dan lemahnya jejaring profesional juga menjadi penghambat yang nyata.
Data menunjukkan bahwa jika masalahnya hanyalah jumlah prodi, maka wilayah dengan prodi sedikit seharusnya mencatat penyerapan lulusan yang lebih baik. Kenyataannya, hal itu tidak selalu terjadi, sehingga klaim tersebut bertentangan dengan bukti empiris.
Kesimpulan Verifikasi
Berdasarkan verifikasi terhadap data BPS, tracer study kementerian, serta kajian ketenagakerjaan, klaim bahwa melimpahnya program studi menjadi penyebab utama sulitnya lulusan terserap kerja dinyatakan MENYESATKAN. Persoalan penyerapan lulusan merupakan fenomena multidimensi yang disebabkan oleh ketidaksesuaian kompetensi, lambatnya pertumbuhan lapangan kerja formal, kesenjangan wilayah, serta kelemahan akses informasi dan jejaring.
Menyederhanakan persoalan ini menjadi sekadar angka jumlah program studi tidak hanya tidak akurat, tetapi juga berpotensi mengalihkan perhatian dari akar masalah yang sebenarnya. Verifikasi ini menegaskan bahwa kebijakan pendidikan dan ketenagakerjaan perlu diarahkan pada peningkatan relevansi kurikulum, penguatan kolaborasi kampus-industri, dan pemerataan pembangunan ekonomi, bukan semata-mata pada pengurangan jumlah program studi.
Comments (0)