Kosongnya Kursi Kepala BGN Pasca Mundur Nanik S Deyang

Jakarta - Jagat kebijakan publik di Tanah Air kembali dihebohkan dengan mundurnya Nanik S Deyang dari posisi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Keputusan yang diambil secara tiba-tiba ini hanya selang ...

Kosongnya Kursi Kepala BGN Pasca Mundur Nanik S Deyang

Jakarta - Jagat kebijakan publik di Tanah Air kembali dihebohkan dengan mundurnya Nanik S Deyang dari posisi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Keputusan yang diambil secara tiba-tiba ini hanya selang beberapa bulan setelah ia dilantik memimpin lembaga strategis tersebut. Kekosongan kursi pimpinan BGN kini memicu tanda tanya besar tentang masa depan program-program gizi yang sedang digalakkan pemerintah.

BGN sendiri merupakan badan yang relatif baru, dibentuk melalui Peraturan Presiden untuk mengakselerasi perbaikan gizi masyarakat, khususnya anak-anak dan ibu hamil. Lembaga ini menjadi tulang punggung dalam mengeksekusi program andalan pemerintah seperti penyediaan makan siang gratis di sekolah. Karena itu, mundurnya seorang tokoh sentral seperti Nanik di tengah perjalanan menimbulkan gelombang kekhawatiran di kalangan pengamat kebijakan dan aktivis kesehatan.

Latar Belakang Sang Pakar Gizi

Nanik S Deyang, lahir di Surabaya pada 1967, mengawali kariernya sebagai dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat sebuah universitas negeri ternama. Minatnya yang mendalam pada masalah gizi membawanya menekuni riset fortifikasi pangan dan epidemiologi malnutrisi. Gelar doktor diperolehnya dari Universitas Indonesia dengan disertasi tentang strategi penurunan stunting berbasis komunitas. Kiprah internasionalnya mencakup konsultasi untuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan keterlibatan dalam proyek Bank Dunia di sejumlah negara berkembang.

Sebelum ditunjuk sebagai Kepala BGN, Nanik menjabat sebagai Deputi Bidang Pangan dan Gizi di Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Selama masa tugasnya, ia dikenal keras menyuarakan pentingnya integrasi program gizi lintas sektor. Rekam jejaknya yang cemerlang inilah yang menjadi alasan utama pemerintah menunjuknya sebagai nahkoda perdana BGN.

Visi dan Misi yang Belum Tuntas

Ketika dilantik, Nanik membawa visi ambisius Indonesia Bebas Gizi Buruk 2045. Ia merancang blue print program Gizi Merata 2030 yang menargetkan penurunan angka stunting hingga di bawah 14% dan eliminasi wasting pada balita. Salah satu inovasinya adalah konsep One-Stop Nutrition Service yang mengintegrasikan posyandu, puskesmas, dan sekolah. Namun, implementasi di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.

Berdasarkan catatan internal, Nanik menghadapi resistensi birokrasi di tingkat daerah. Alokasi anggaran yang tidak sepenuhnya berada di bawah kendali BGN membuat koordinasi menjadi sangat kompleks. Seorang staf senior BGN yang enggan disebut namanya mengungkapkan, 'Beliau sering kecewa karena banyak program yang mentok di meja birokrat lain.' Perbedaan pendapat dengan beberapa kementerian teknis juga dilaporkan meruncing dalam rapat-rapat kabinet.

Mengapa Memilih Mundur?

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Nanik S Deyang maupun Sekretariat Negara mengenai alasan pengunduran dirinya. Namun, dari penelusuran dan informasi para pihak dekat, setidaknya ada tiga faktor utama yang menjadi pemicu. Pertama, konflik visi terkait arah program BGN. Nanik yang berorientasi pada pendekatan ilmiah berbasis bukti sering bentrok dengan para pengambil kebijakan yang lebih pragmatis dan politis. Kedua, beban ekspektasi yang luar biasa tinggi dari publik, sementara dukungan infrastruktur dan anggaran tidak sebanding. Ketiga, faktor personal berupa tekanan psikologis akibat ritme kerja yang super ketat tanpa hasil cepat yang terlihat.

Pengamat kebijakan publik dari Lembaga Survey Indonesia, Budi Hartono, menilai mundurnya Nanik adalah sinyal serius. 'Ini bukan sekadar perpindahan individu, tapi indikasi adanya masalah mendasar dalam tata kelola program gizi nasional. Kita kehilangan aset terbaik di tengah jalan,' ujarnya.

Reaksi Publik dan Kekhawatiran

Berita mundurnya Nanik sontak menuai beragam reaksi. Beberapa organisasi masyarakat sipil yang bergerak di bidang gizi, seperti Koalisi Indonesia Sehat, menyuarakan kekecewaan. 'Kami baru saja akan bekerjasama erat dengan BGN. Kehilangan Bu Nanik ibarat kapal kehilangan nakhoda di tengah samudra,' kata juru bicara koalisi. Sementara itu, kalangan DPR, khususnya Komisi IX, mendesak pemerintah segera menunjuk pengganti definitif agar tidak terjadi kekosongan wewenang yang berkepanjangan.

Di media sosial, warganet ramai mempertanyakan alasan sebenarnya di balik pengunduran diri tersebut. Tagar #BGNButuhNakhoda sempat menjadi trending topic di Twitter. Banyak yang cemas program makan siang gratis akan terhenti, meskipun pemerintah melalui juru bicara kepresidenan menyatakan program tetap berjalan.

Babak Baru Mencari Pemimpin

Pemerintah kini berada di persimpangan. Menunjuk pengganti yang seideal dan sekompeten Nanik bukanlah perkara mudah, apalagi di tengah situasi politik yang memanas menjelang pergantian tahun anggaran. Beberapa nama seperti Andi Wijaya, guru besar gizi IPB, dan Rini Maharani, mantan Wamenkes, disebut-sebut masuk dalam bursa kandidat. Namun, yang lebih krusial adalah memastikan bahwa siapa pun yang terpilih diberi kewenangan penuh dan dukungan yang cukup untuk menjalankan misi besar ini.

Mundurnya Nanik S Deyang adalah tamparan bagi optimisme perbaikan gizi nasional, namun juga bisa menjadi momentum introspeksi. Jika persoalan struktural tidak dibenahi, maka pergantian pemimpin hanyalah solusi semu yang akan berujung pada pengunduran diri berikutnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User