Jakarta - Polemik seputar pemilihan komisaris di sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih terus bergulir. Banyak pihak mempertanyakan kesesuaian latar belakang dan kompetensi figur yang ditunjuk, terutama ketika rekam jejak mereka dinilai tak selaras dengan inti bisnis perusahaan pelat merah tersebut. Menanggapi hal itu, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, angkat bicara.

Berdasarkan laporan yang dihimpun media kami, Qodari menekankan bahwa keberagaman latar belakang komisaris justru merupakan strategi untuk menyuntikkan perspektif segar dalam mengawal agenda pemerinta

Jul 06, 2026 - 07:36
0 0
Jakarta - Polemik seputar pemilihan komisaris di sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih terus bergulir. Banyak pihak mempertanyakan kesesuaian latar belakang dan kompetensi figur yang ditunjuk, terutama ketika rekam jejak mereka dinilai tak selaras dengan inti bisnis perusahaan pelat merah tersebut. Menanggapi hal itu, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, angkat bicara.
Berdasarkan laporan yang dihimpun media kami, Qodari menekankan bahwa keberagaman latar belakang komisaris justru merupakan strategi untuk menyuntikkan perspektif segar dalam mengawal agenda pemerintah di tubuh BUMN.

Dua Modal Dasar Menurut Bakom

Dalam keterangannya, Qodari mengungkap setidaknya ada dua modal dasar yang membuat seseorang layak menjabat sebagai komisaris meskipun tidak memiliki pengalaman langsung di sektor industri BUMN tersebut. Modal pertama adalah kemampuan membawa perspektif baru. Ia mencontohkan pengalamannya sendiri saat pernah menjabat sebagai komisaris di salah satu BUMN. Meskipun latar belakangnya tidak spesifik sesuai inti bisnis perusahaan, Qodari merasa perannya krusial dalam menawarkan sudut pandang alternatif.
"Perusahaan jadi memiliki perspektif yang banyak dalam memandang suatu masalah dan juga mencari solusi," ujar Qodari seperti dikutip Lurusin.com.
Modal dasar kedua, sambungnya, adalah kompetensi memberikan alternatif solusi. Seorang komisaris, menurut Qodari, tidak mutlak harus menguasai teknis operasional. Yang lebih penting adalah kemampuannya membaca situasi, mengidentifikasi hambatan, dan menyodorkan jalan keluar dari perspektif yang berbeda. Pernyataan ini sekaligus menjadi klarifikasi atas kritik yang dialamatkan kepada beberapa komisaris BUMN belakangan. Bakom berpendapat bahwa pengawasan dan pengarahan strategis dari figur dengan latar belakang non-konvensional justru memperkaya dewan komisaris, mencegah cara pandang tunggal yang bisa jadi rentan terhadap keterbatasan wawasan. Lebih lanjut, Qodari menekankan bahwa kolaborasi antara komisaris dengan beragam pengalaman adalah kunci. Dewan komisaris yang homogen dikhawatirkan hanya akan mereproduksi pola lama yang belum tentu sesuai dengan dinamika terkini. Dengan perpaduan perspektif, diharapkan BUMN dapat lebih adaptif dan solutif dalam menghadapi tantangan bisnis serta memenuhi ekspektasi pemerintah sebagai pemegang saham. Meski begitu, publik tetap menanti implementasi konkret dari prinsip ini. Keseimbangan antara keberagaman pandangan dan pemahaman dasar akan sektor industri tetap menjadi aspek yang akan diuji pada kinerja BUMN ke depan. Lurusin.com akan terus memantau perkembangan ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User