Penyelenggaraan festival literasi dan seni yang memasuki tahun keempat kembali menawarkan ruang partisipasi bagi warga untuk membaca, berdiskusi, sekaligus menyuarakan kritik terhadap persoalan kenegaraan. Ajang yang dikenal dengan nama JABFEST 2026 ini menempatkan buku, seni, dan literasi sebagai medium utama dalam membangun kesadaran publik terhadap isu-isu sosial dan politik yang tengah berlangsung.
Berbeda dari perhelatan budaya yang bersifat seremonial, festival ini secara eksplisit menyediakan panggung bagi warga untuk mengangkat persoalan negara. Melalui beragam format kegiatan, mulai dari diskusi panel, pameran karya seni, hingga bedah buku, penyelenggara berupaya mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam mengkritisi kebijakan dan kondisi sosial yang dianggap perlu mendapat perhatian.
Literasi sebagai Instrumen Kritik Sosial
Dalam kerangka penyelenggaraannya, festival ini tidak sekadar memosisikan buku sebagai benda konsumsi intelektual semata. Literasi dipahami sebagai alat untuk membaca realitas, termasuk realitas kekuasaan dan kebijakan publik. Kegiatan membaca kolektif, lokakarya penulisan, serta pertemuan komunitas pembaca menjadi bagian dari upaya membangun daya kritis warga terhadap isu-isu yang bersinggungan langsung dengan kehidupan mereka.
Pendekatan semacam ini menempatkan literasi tidak sebagai kemampuan teknis membaca dan menulis, melainkan sebagai kapasitas memahami struktur sosial dan politik yang memengaruhi kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, festival ini berupaya menjembatani antara kegiatan kebudayaan dan kesadaran kewargaan.
Seni sebagai Saluran Ekspresi Politik
Selain literasi, seni menjadi instrumen penting dalam perhelatan ini. Pameran, pertunjukan, dan karya visual dihadirkan sebagai sarana menyampaikan gagasan yang kerap sulit diutarakan melalui jalur formal. Seni dinilai mampu menyampaikan kritik secara lebih terbuka dan reflektif, sekaligus menjangkau khalayak yang mungkin tidak terbiasa dengan diskursus akademik atau politik konvensional.
Penyelenggara menekankan bahwa seni dan buku berfungsi sebagai medium alternatif untuk membahas persoalan negara yang sering kali dianggap berat atau terbatas ruang pembahasannya. Kolaborasi antara seniman, penulis, dan komunitas warga menjadi ciri khas yang dipertahankan sejak penyelenggaraan pertama.
Ruang Partisipasi Warga
Festival ini secara konsisten membuka akses bagi warga dari berbagai latar belakang untuk terlibat, baik sebagai peserta, pembicara, maupun penyumbang karya. Keterlibatan lintas komunitas inilah yang menjadikan ajang ini bukan sekadar tontonan, melainkan ruang kolektif untuk merumuskan gagasan dan menyampaikan aspirasi.
Dengan mengangkat tema kritik terhadap persoalan negara melalui pendekatan budaya, JABFEST 2026 menegaskan posisinya sebagai ruang pertemuan antara ekspresi artistik dan kesadaran publik. Keberlanjutan festival hingga tahun keempat menunjukkan adanya kebutuhan nyata di tengah masyarakat akan ruang semacam ini, tempat gagasan kritis dapat tumbuh tanpa kehilangan dimensi kebudayaannya.
Comments (0)