Tahun Gajah: Tahun Kelahiran Nabi Muhammad dan Kisah Abrahah

Dalam sistem penanggalan masyarakat Arab sebelum Islam, nama sebuah tahun kerap diambil dari peristiwa besar yang mewarnai masa itu, bukan dari angka seperti yang digunakan sekarang. Salah satu penand...

Tahun Gajah: Tahun Kelahiran Nabi Muhammad dan Kisah Abrahah

Dalam sistem penanggalan masyarakat Arab sebelum Islam, nama sebuah tahun kerap diambil dari peristiwa besar yang mewarnai masa itu, bukan dari angka seperti yang digunakan sekarang. Salah satu penanda waktu yang paling masyhur dalam sejarah Islam adalah Tahun Gajah, tahun yang dipercaya sebagai masa kelahiran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Namun mengapa tahun tersebut dijuluki Tahun Gajah, dan peristiwa apa yang membuatnya begitu dikenang hingga diabadikan sebagai penanda waktu?

Asal Usul Julukan Tahun Gajah

Julukan Tahun Gajah lahir dari sebuah ekspedisi militer yang terjadi pada tahun yang sama dengan kelahiran Nabi Muhammad. Pasukan tersebut dipimpin oleh Abrahah, seorang gubernur Yaman yang bertugas atas nama Kerajaan Aksum dari Habasyah. Keunikan pasukan ini terletak pada kehadiran gajah perang, hewan yang nyaris tidak pernah dijumpai di Jazirah Arab kala itu. Karena kemunculan hewan inilah masyarakat Arab menamai tahun tersebut Tahun Gajah.

Peristiwa ini bukan sekadar cerita rakyat. Ia terekam dalam tradisi Islam, termasuk di dalam Al-Qur'an, tepatnya pada Surah Al-Fil, yang mengisahkan bagaimana kekuatan pasukan bergajah tersebut digagalkan. Sebagian ulama memandang peristiwa ini sebagai pertanda bahwa bangsa Arab akan segera menyaksikan kedatangan sosok pembawa perubahan besar, dan kelahiran Nabi Muhammad pada tahun yang sama semakin menguatkan keyakinan tersebut.

Ambisi Abrahah dan Gereja Al-Qullais

Kisah ini bermula dari ambisi Abrahah untuk mengalihkan pusat peribadatan kaum Arab dari Ka'bah di Mekkah ke bangunan yang ia dirikan sendiri. Ia membangun sebuah gereja megah bernama Al-Qullais di kota Sanaa, Yaman, dengan harapan para peziarah Arab berbondong-bondong datang ke sana. Rencana ini ternyata menuai kemarahan suku-suku Arab yang tetap memuliakan Ka'bah. Bahkan dikisahkan ada seseorang yang menodai bangunan tersebut, sehingga Abrahah murka dan bersumpah akan menghancurkan Ka'bah hingga rata dengan tanah.

Dengan dendam yang membara, Abrahah menyusun pasukan besar dan memimpin sendiri perjalanan menuju Mekkah. Di barisan depan pasukan itu berjalan seekor gajah besar bernama Mahmud yang dijadikan tunggangan sekaligus simbol kekuatan sang penguasa. Sepanjang perjalanan, pasukan ini menjarah harta dan menggiring ternak milik penduduk, termasuk 200 ekor unta milik Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad. Ketika Abdul Muthalib menemui Abrahah, ia hanya meminta kembali unta-untanya, sementara urusan Ka'bah ia serahkan kepada pemiliknya, yakni Allah.

Gajah yang Membangkang dan Burung Ababil

Saat pasukan tiba di dekat Mekkah, terjadilah kejadian yang di luar dugaan. Gajah Mahmud menolak melangkah mendekati Ka'bah. Ia justru berlutut dan enggan bergerak meski dipukul dan dipaksa oleh para pawang. Namun ketika diarahkan kembali ke arah Yaman, gajah tersebut menurut dan berjalan. Para prajurit pun kebingungan menghadapi pembangkangan hewan tunggangan mereka yang sebelumnya selalu patuh.

Berdasarkan riwayat, Allah kemudian mengirimkan burung-burung ababil yang membawa batu-batu kecil dari tanah liat yang terbakar. Batu-batu itu dijatuhkan tepat mengenai pasukan Abrahah, sehingga mereka binasa seperti daun yang dimakan ulat. Peristiwa ini diabadikan dalam Surah Al-Fil ayat 1 hingga 5, yang menegaskan bahwa upaya menghancurkan Ka'bah digagalkan oleh kekuatan dari langit, bukan oleh kekuatan manusia. Setelah kegagalan tersebut, Abrahah sendiri dikabarkan tewas dalam perjalanan pulang ke Yaman akibat luka yang dideritanya, dan pasukan yang tersisa kembali dalam keadaan hancur.

Kelahiran Nabi Muhammad pada Tahun Gajah

Pada tahun yang sama dengan peristiwa penyerangan tersebut, lahirlah seorang bayi yang kelak menjadi rasul terakhir, yaitu Muhammad bin Abdullah. Ia lahir di kota Mekkah dari ibunda Aminah binti Wahb, dan tradisi mencatat kelahirannya pada bulan Rabiul Awal, sekitar 53 hari setelah peristiwa pasukan gajah. Ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib, telah wafat sebelum sang bayi lahir, sehingga Muhammad dibesarkan dalam keadaan yatim sejak awal kehidupannya.

Para sejarawan umumnya memperkirakan kelahiran Nabi Muhammad terjadi pada tahun 571 Masehi, meski sebagian ahli mengajukan angka lain seperti 570 atau 572 Masehi. Selisih pendapat ini wajar karena penanggalan pada masa itu tidak tercatat serapi catatan modern. Yang disepakati para ulama dan sejarawan adalah bahwa kelahiran beliau bertepatan dengan tahun terjadinya peristiwa pasukan gajah, dan itulah sebabnya tahun tersebut disebut Tahun Gajah.

Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran di atas, penamaan Tahun Gajah merujuk pada peristiwa penyerangan Abrahah terhadap Ka'bah yang berakhir dengan kegagalan total. Kehadiran gajah dalam pasukan itulah yang menjadi ciri khas peristiwa tersebut, sehingga namanya melekat pada tahun kelahiran Nabi Muhammad. Kisah ini tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga pengingat bahwa rumah suci itu dilindungi oleh kekuatan yang tidak mampu diganggu oleh kekuatan mana pun, sekaligus menandai lahirnya sosok yang kelak membawa perubahan besar bagi peradaban manusia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
hafiz-rahman

Data Journalist. Mengungkap fakta melalui data. Spesialisasi: analisis forensik digital.

Comments (0)

User