Oct 22, 2026
factcheck

Sultan HB X Tegaskan Komitmen Keistimewaan dan Pembangunan Budaya

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, kembali menegaskan arah kebijakan pembangunan daerah yang berakar pada nilai-nilai luhur budaya. Dalam sebuah forum strategis yang mem...

Sultan HB X Tegaskan Komitmen Keistimewaan dan Pembangunan Budaya

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, kembali menegaskan arah kebijakan pembangunan daerah yang berakar pada nilai-nilai luhur budaya. Dalam sebuah forum strategis yang membahas masa depan Yogyakarta, beliau memaparkan visi besar yang memadukan tradisi, inovasi, dan keberpihakan pada kesejahteraan rakyat. Pidato tersebut menjadi penegas bahwa keistimewaan bukan sekadar status, melainkan tanggung jawab untuk merawat warisan leluhur sambil melangkah ke depan.

Di hadapan para pemangku kepentingan, Sultan menyampaikan bahwa Yogyakarta tidak boleh kehilangan roh budayanya di tengah arus modernisasi. Ia menekankan perlunya keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian identitas. “Pembangunan fisik boleh mengejar ketertinggalan, tetapi jiwa masyarakat harus tetap berpijak pada filosofi hamemayu hayuning bawana,” ujarnya. Prinsip memperindah dunia ini menjadi fondasi setiap kebijakan yang diluncurkan pemerintah daerah.

Menjaga Warisan sebagai Pilar Keistimewaan

Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki posisi unik dalam peta pemerintahan Indonesia. Status keistimewaan yang dijamin undang-undang memberikan kewenangan khusus dalam tata kelola pertanahan, kelembagaan, kebudayaan, dan kepegawaian. Sultan HB X menegaskan bahwa keempat pilar ini harus dikelola dengan integritas tinggi agar manfaatnya benar-benar dirasakan warga.

Dalam konteks kebudayaan, pemerintah daerah terus mendorong revitalisasi situs-situs bersejarah dan penguatan komunitas adat. Program pelestarian tidak hanya menyasar fisik bangunan cagar budaya, tetapi juga menghidupkan kembali praktik-praktik tradisi yang mulai tergerus zaman. Sultan menyoroti pentingnya dokumentasi dan digitalisasi naskah-naskah kuno agar generasi muda dapat mengakses kearifan masa lalu. “Kita tidak ingin anak cucu hanya mengenal Kraton dari foto, tetapi memahami makna filosofis di balik setiap tata ruang dan upacara,” tegasnya.

Langkah konkret telah diambil melalui peningkatan alokasi anggaran untuk Dinas Kebudayaan serta pembentukan dewan pakar yang melibatkan para ahli sejarah, arkeolog, dan budayawan. Sinergi dengan perguruan tinggi juga diperkuat untuk penelitian dan pengembangan warisan budaya tak benda, seperti seni pertunjukan, batik, dan kuliner tradisional. Sultan percaya bahwa budaya bukan beban, melainkan modal strategis pembangunan yang bisa menggerakkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif secara berkelanjutan.

Pembangunan Infrastruktur Berwajah Humanis

Pertumbuhan fisik Yogyakarta kerap memunculkan kekhawatiran akan hilangnya karakter kota. Menjawab hal itu, Gubernur menegaskan bahwa setiap proyek infrastruktur wajib mengikuti prinsip arsitektur kontekstual. Izin pembangunan gedung, jalan, dan fasilitas publik akan ditinjau secara ketat oleh tim penataan kota yang beranggotakan arsitek, seniman, dan perencana wilayah.

“Kami tidak anti-modernisasi. Yang kami tolak adalah pembangunan yang memutus ikatan dengan lingkungan sosial dan alam,” kata Sultan. Ia mencontohkan pengembangan kawasan Malioboro yang mengedepankan pedestrian ramah pejalan kaki, pencahayaan yang menonjolkan nilai estetika, dan pembatasan kendaraan bermotor. Pendekatan ini, menurutnya, mampu meningkatkan kenyamanan wisatawan sekaligus menjaga kualitas hidup warga lokal.

Di sisi pertanahan, Pemerintah DIY terus menyelesaikan administrasi Sultan Ground dan Pakualaman Ground secara transparan agar tidak menimbulkan konflik. Sultan menegaskan bahwa tanah adalah titipan leluhur yang harus dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat, bukan spekulasi. Program sertifikasi partisipatif melibatkan masyarakat dalam pemetaan dan inventarisasi lahan sehingga hak-hak warga terlindungi. Keadilan agraria menjadi komitmen yang tidak bisa ditawar, dan Sultan meminta aparat birokrasi untuk bertindak tegas terhadap penyimpangan.

Pendidikan Karakter dan Pemberdayaan Pemuda

Generasi muda menjadi perhatian utama dalam visi kepemimpinan Sultan HB X. Ia meyakini bahwa tantangan global seperti disrupsi teknologi dan krisis identitas hanya bisa dijawab dengan sumber daya manusia yang tangguh secara intelektual dan berakar pada nilai budaya. Oleh karena itu, pemerintah daerah menggulirkan program sekolah berbasis keistimewaan yang mengintegrasikan kurikulum nasional dengan muatan lokal seperti bahasa Jawa, etika, dan sejarah kerajaan.

Program beasiswa diperluas hingga ke jenjang perguruan tinggi, dengan prioritas pada bidang sains, teknologi, dan seni. Sultan menekankan pentingnya mempersiapkan pemuda agar mampu bersaing di pasar global tanpa kehilangan jati diri. “Kita ingin lahir insinyur, dokter, pengusaha yang tetap njawani—santun, rendah hati, dan menjunjung harmoni,” ujarnya.

Selain pendidikan formal, pemberdayaan ekonomi pemuda digenjot melalui inkubator bisnis kreatif. Fasilitas pendampingan, akses modal, dan jejaring pemasaran disediakan bagi startup lokal. Sultan menyebut potensi besar di sektor fesyen, kerajinan, dan kuliner yang bisa menembus pasar ekspor. Kolaborasi antara pengusaha muda dan seniman tradisional didorong untuk menciptakan produk inovatif berdaya saing tinggi.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Sultan HB X tidak menutup mata terhadap berbagai persoalan yang masih membayangi DIY, mulai dari kesenjangan ekonomi, urbanisasi, hingga tekanan pariwisata massal. Ia menekankan bahwa solusi harus bertumpu pada partisipasi seluruh elemen masyarakat. Forum dialog rutin digelar untuk menyerap aspirasi dan merumuskan kebijakan yang responsif.

“Keistimewaan adalah amanah yang menuntut kerja keras, bukan hak istimewa untuk bersantai,” tutupnya. Dengan perencanaan matang dan eksekusi disiplin, Yogyakarta diharapkan menjadi model daerah istimewa yang modern, sejahtera, namun tetap berpegang pada akar budayanya. Visi itu kini menjadi pedoman bagi seluruh jajaran pemerintahan untuk bergerak serentak menuju masa depan yang lebih baik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User