Sudaryono Resmi Dilantik Prabowo Pimpin Badan Gizi Nasional
Jakarta — Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah strategis dalam memperkuat tata kelola program gizi nasional dengan melantik Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru. Prose...
Jakarta — Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah strategis dalam memperkuat tata kelola program gizi nasional dengan melantik Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru. Prosesi pelantikan berlangsung khidmat di Istana Negara, menandai awal baru kepemimpinan lembaga yang bertugas mengawal perbaikan gizi masyarakat Indonesia.
Serah Terima Jabatan di Istana Negara
Upacara pengambilan sumpah jabatan digelar secara tertutup namun dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi negara, termasuk Menteri Kesehatan, Menteri Sosial, serta Kepala Staf Kepresidenan. Sudaryono mengucapkan sumpah setia kepada konstitusi di hadapan Presiden Prabowo, yang secara langsung memimpin prosesi tersebut. Dalam sambutan singkat usai pelantikan, Presiden Prabowo menegaskan bahwa posisi Kepala BGN sangat krusial karena menyangkut fondasi kesehatan dan kecerdasan generasi penerus bangsa. “Beliau menekankan bahwa tidak boleh ada lagi ego sektoral dalam penanganan gizi, dan BGN harus menjadi koordinator utama lintas kementerian,” ujar salah satu tamu undangan yang enggan disebut namanya.
Sudaryono Gantikan Nanik yang Mundur
Pengangkatan Sudaryono dilakukan setelah Nanik Sudaryati Deyang menyatakan mundur dari jabatan yang diembannya sejak BGN dibentuk. Pengunduran diri tersebut menimbulkan tanda tanya di kalangan pengamat kebijakan publik, namun pihak Istana belum merilis alasan resmi di balik keputusan Nanik. Sejumlah sumber menyebutkan bahwa Nanik ingin fokus pada pemulihan kesehatan, sementara yang lain menduga adanya perbedaan pandangan terkait strategi intervensi gizi di daerah terpencil. Terlepas dari spekulasi, transisi kepemimpinan berlangsung relatif mulus dan Presiden Prabowo langsung menunjuk Sudaryono yang dinilai memiliki kapasitas manajerial kuat untuk mempercepat program prioritas.
Rekam Jejak Pemimpin Baru
Sudaryono bukanlah sosok asing di lingkaran birokrasi. Sebelum dipercaya memimpin BGN, ia pernah menduduki jabatan strategis di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan turut merancang peta jalan ketahanan pangan 2025–2045. Latar belakang pendidikannya di bidang ilmu gizi masyarakat dan teknologi pangan membuatnya kerap dilibatkan dalam proyek penanggulangan stunting yang didanai lembaga multilateral. Rekan sejawatnya menggambarkan Sudaryono sebagai pribadi pekerja keras, tekun, dan memiliki jaringan luas di tingkat kabupaten/kota. Dalam pidato perdananya sebagai Kepala BGN, ia berjanji akan melanjutkan program yang telah berjalan sambil melakukan evaluasi menyeluruh terhadap efektivitas distribusi bantuan pangan bergizi.
Mandat Besar Badan Gizi Nasional
Badan Gizi Nasional dibentuk untuk mengkonsolidasikan berbagai program gizi yang sebelumnya tersebar di beberapa kementerian, seperti Program Makanan Tambahan (PMT) di Kementerian Kesehatan, Bantuan Pangan Non-Tunai di Kementerian Sosial, serta intervensi gizi spesifik di bawah Kementerian Desa. Dengan anggaran yang mencapai puluhan triliun rupiah per tahun, ekspektasi terhadap BGN sangat tinggi. Data Riset Kesehatan Dasar terbaru menunjukkan bahwa prevalensi stunting masih berada di kisaran 21 persen, jauh dari target 14 persen yang dicanangkan pemerintah. Sudaryono mengaku akan memprioritaskan integrasi data penerima manfaat agar tidak terjadi tumpang tindih dan kebocoran. “Saya ingin memastikan setiap telur, susu, dan biskuit yang dibeli negara benar-benar sampai ke mulut anak-anak yang membutuhkan,” ujarnya menyentuh emosi hadirin.
Harapan di Bawah Komando Baru
Pelantikan ini disambut beragam reaksi dari kalangan akademisi dan pegiat pangan. Sebagian optimistis bahwa latar belakang teknis Sudaryono akan membawa pendekatan berbasis bukti dalam setiap kebijakan BGN. Namun, ada pula yang mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan terletak pada sosok pemimpin, melainkan pada koordinasi dengan pemerintah daerah yang seringkali lamban merespons instruksi pusat. Presiden Prabowo dalam pengarahannya meminta Sudaryono untuk segera menyusun rencana aksi 100 hari pertama yang berisi target terukur, serta rutin melaporkan progres kepada publik secara transparan. Kini, publik menanti gebrakan nyata dari Kepala BGN yang baru—apakah ia mampu mengeksekusi janji perbaikan gizi, atau justru terperangkap dalam labirin birokrasi yang sama.
Comments (0)