Sampah Makanan Mendominasi TPA, Isu Plastik Lebih Ramai: Verifikasi

Beredar anggapan bahwa isu sampah plastik mendapat perhatian publik yang jauh lebih besar dibandingkan persoalan sisa makanan, padahal secara kuantitas sampah organik justru mendominasi timbunan di te...

Sampah Makanan Mendominasi TPA, Isu Plastik Lebih Ramai: Verifikasi

Beredar anggapan bahwa isu sampah plastik mendapat perhatian publik yang jauh lebih besar dibandingkan persoalan sisa makanan, padahal secara kuantitas sampah organik justru mendominasi timbunan di tempat pemrosesan akhir (TPA). Klaim ini menuntut verifikasi karena berpotensi memengaruhi arah kebijakan pengelolaan sampah nasional di masa mendatang.

Klaim yang diperiksa

Klaim yang diperiksa adalah bahwa sisa makanan merupakan komponen terbesar dalam timbunan sampah di TPA, namun isu tersebut kalah populer dibandingkan isu plastik di ruang publik. Konsekuensi dari ketimpangan perhatian ini, menurut klaim, adalah lahirnya kebijakan yang timpang dan tidak proporsional terhadap skala masalah yang sesungguhnya. Dengan kata lain, energi regulasi, kampanye, dan anggaran dinilai lebih banyak tersedot ke penanganan plastik meskipun volumenya lebih kecil.

Sumber klaim

Pernyataan ini merupakan narasi yang banyak dikemukakan dalam diskusi kebijakan lingkungan, seminar akademik, dan pemberitaan media massa dalam beberapa tahun terakhir. Verifikasi dilakukan dengan menelusuri data resmi Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bersama UNDP, serta laporan lembaga internasional seperti panel iklim PBB (IPCC).

Verifikasi terhadap data

Berdasarkan verifikasi terhadap data resmi SIPSN KLHK, komposisi sampah nasional pada beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa sisa makanan menempati porsi terbesar, yakni berkisar antara 39 hingga 41 persen dari total timbunan sampah. Plastik berada di posisi kedua dengan pangsa sekitar 17 hingga 18 persen. Data menunjukkan bahwa secara kuantitatif, klaim bahwa sisa makanan mendominasi sampah di TPA adalah akurat dan didukung oleh sumber resmi yang dapat diakses publik.

Dimensi kedua dari klaim menyangkut perhatian publik. Pengukuran terhadap tingkat popularitas suatu isu memang lebih sulit dilakukan secara kuantitatif, namun sejumlah bukti tidak langsung mendukung tesis tersebut. Liputan media, kampanye global, hingga kebijakan yang berfokus pada plastik — seperti pembatasan kantong plastik sekali pakai dan kewajiban produsen melalui skema extended producer responsibility — jauh lebih menonjol dibandingkan kebijakan serupa yang diarahkan untuk sampah makanan. Perbandingan frekuensi pemberitaan dan jumlah regulasi yang diterbitkan memperkuat kesimpulan bahwa perhatian publik terhadap kedua isu tidak seimbang.

Fakta di lapangan

Faktanya adalah, dominasi sisa makanan di TPA membawa konsekuensi lingkungan yang tidak kalah serius dibandingkan plastik. Sampah organik yang membusuk secara anaerobik menghasilkan metana, gas rumah kaca yang menurut IPCC memiliki potensi pemanasan global sekitar 25 hingga 28 kali lebih kuat daripada karbon dioksida dalam rentang waktu satu abad. Sebagian besar TPA di Indonesia yang masih beroperasi dengan metode open dumping memperburuk emisi ini karena gas metana tidak ditangkap maupun dimanfaatkan.

Kajian Bappenas bersama UNDP yang terbit pada 2021 memperkirakan bahwa timbulan food loss and waste di Indonesia mencapai 115 hingga 184 kilogram per kapita per tahun pada periode 2000 hingga 2019, dengan kerugian ekonomi sekitar Rp 213 triliun hingga Rp 551 triliun per tahun. Angka ini tidak bertentangan dengan narasi bahwa penanganan sampah makanan seharusnya menjadi prioritas yang setara, jika bukan lebih besar, dibandingkan isu plastik.

Namun demikian, perlu dicatat bahwa perbandingan langsung antara kedua isu memiliki keterbatasan. Sampah plastik dinilai lebih berbahaya bagi ekosistem laut dan rantai makanan, memiliki masa urai yang sangat lama, serta berpotensi terurai menjadi mikroplastik yang mencemari tubuh manusia. Artinya, popularitas isu plastik bukan tanpa dasar ilmiah dan tidak dapat disebut sebagai distraksi belaka.

Risiko kebijakan yang timpang

Implikasi utama dari klaim ini adalah peringatan tentang ketimpangan kebijakan. Apabila perhatian publik, anggaran negara, dan desain regulasi terus terkonsentrasi pada plastik sementara sampah makanan yang volumenya jauh lebih besar hanya mendapat penanganan terbatas, maka target pengurangan sampah nasional akan sulit tercapai. Upaya seperti pemilahan sampah di sumber, pengomposan, serta pengolahan sisa makanan menjadi pakan ternak atau energi terbarukan justru lebih berdampak terhadap pengurangan timbunan di TPA.

Di sisi lain, verifikasi menunjukkan bahwa menyebut isu plastik sebagai sesuatu yang menyesatkan publik juga tidak akurat, karena ancaman plastik bersifat nyata dan terdokumentasi dalam berbagai penelitian. Pernyataan yang lebih tepat adalah bahwa fokus berlebih pada satu jenis sampah berisiko mengaburkan urgensi penanganan sampah makanan yang secara kuantitas lebih dominan. Kedua isu tidak perlu dipertentangkan, tetapi porsinya harus proporsional terhadap bukti.

Kesimpulan

Berdasarkan verifikasi di atas, klaim bahwa sisa makanan adalah komponen terbesar sampah di TPA dan kalah populer dibandingkan isu plastik dinyatakan BENAR dengan catatan. Data resmi SIPSN KLHK mendukung aspek kuantitatif, sementara bukti liputan media, kampanye, dan arah regulasi mendukung aspek perhatian publik. Catatan pentingnya adalah bahwa perhatian terhadap plastik tetap memiliki dasar ilmiah yang kuat, sehingga yang menjadi masalah bukanlah popularitas plastik, melainkan ketimpangan respons kebijakan terhadap skala masalah yang sesungguhnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
ramadiansyah

Editor Investigasi. Pemenang penghargaan jurnalisme investigasi. Spesialisasi: korupsi, kolusi, dan maladministrasi.

Comments (0)

User