Sampah Makanan Dominasi TPA, Namun Isu Plastik Lebih Vokal
Berbicara tentang krisis sampah, publik hampir selalu membayangkan tumpukan botol plastik, kantong kresek, dan kemasan sekali pakai yang berserakan. Namun, berdasarkan verifikasi terhadap data komposi...
Berbicara tentang krisis sampah, publik hampir selalu membayangkan tumpukan botol plastik, kantong kresek, dan kemasan sekali pakai yang berserakan. Namun, berdasarkan verifikasi terhadap data komposisi sampah nasional, gambaran tersebut hanya merepresentasikan sebagian kecil dari persoalan. Faktanya adalah porsi terbesar sampah yang menggunung di tempat pemrosesan akhir (TPA) justru berasal dari sisa makanan dan bahan organik, jenis sampah yang paling jarang menjadi sorotan. Ketimpangan antara besarnya kontribusi nyata dan besarnya perhatian publik ini menjadi catatan penting, sebab fokus yang tidak seimbang rentan melahirkan kebijakan yang timpang.
Dominasi Sampah Organik di TPA
Data menunjukkan bahwa sisa makanan menyumbang sekitar 40 persen dari total komposisi sampah nasional, sebagaimana tercatat dalam Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) yang dikelola Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Angka ini jauh melampaui kontribusi sampah plastik yang berada pada kisaran belasan persen dari total timbulan sampah. Dengan demikian, klaim bahwa plastik merupakan jenis sampah terbanyak di TPA bertentangan dengan data dari sumber resmi tersebut.
Konsekuensi dari dominasi sampah organik ini tidak sepele. Tumpukan sisa makanan yang membusuk dalam kondisi tanpa oksigen menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca dengan potensi pemanasan global jauh lebih kuat daripada karbon dioksida dalam rentang waktu singkat. Artinya, sampah makanan yang tidak terkelola bukan hanya persoalan estetika atau bau, melainkan kontributor emisi yang berdampak langsung pada perubahan iklim. Ketika metana terus dilepaskan dari timbunan organik yang membusuk, dampak lingkungannya justru lebih besar daripada sampah plastik yang cenderung inert atau lambat terurai.
Perhatian Publik yang Tidak Seimbang
Di sisi lain, isu plastik memperoleh panggung yang jauh lebih besar. Gerakan penolakan kantong plastik sekali pakai, larangan sedotan, hingga kampanye kemasan ramah lingkungan menyebar luas di media sosial dan menjadi bagian dari gaya hidup. Sementara itu, sisa makanan nyaris tak terlihat dalam percakapan sehari-hari. Tidak banyak masyarakat yang menyadari bahwa membuang semangkuk nasi atau sayuran busuk memiliki jejak karbon yang signifikan, terutama karena proses produksi pangan telah mengonsumsi air, energi, dan lahan sebelum akhirnya menjadi sampah.
Ketimpangan perhatian ini menciptakan persepsi yang tidak akurat di ruang publik. Berdasarkan verifikasi terhadap pemberitaan dan kampanye lingkungan yang beredar, porsi pembahasan tentang plastik jauh lebih besar dibandingkan pembahasan tentang pengelolaan sisa makanan, meskipun data komposisi sampah menunjukkan arah yang berkebalikan. Ketika persepsi tidak sejalan dengan fakta, arah kebijakan pun berisiko mengikuti narasi yang menyesatkan alih-alih mengikuti bukti lapangan.
Risiko Kebijakan yang Timpang
Fokus berlebih pada plastik berpotensi menghasilkan regulasi yang hanya menyentuh sebagian kecil persoalan. Pembatasan plastik sekali pakai memang langkah yang patut diapresiasi, tetapi tanpa penanganan serius terhadap sampah organik, beban di TPA tidak akan berkurang secara signifikan. Data menunjukkan bahwa TPA yang kelebihan kapasitas lebih banyak dipenuhi timbunan organik daripada limbah kemasan. Dengan kata lain, menghentikan penggunaan plastik tanpa mengelola sisa makanan sama halnya dengan menambal lubang kecil di kapal yang justru bocor di bagian lain.
Solusi terhadap sampah organik sebenarnya telah tersedia dan relatif sederhana: pemilahan sejak dari sumber, pengomposan, pemanfaatan maggot, hingga pengolahan menjadi energi. Namun, implementasinya masih jauh dari masif karena rendahnya dukungan kebijakan dan infrastruktur. Di banyak kota, fasilitas pengolahan sampah organik masih terbatas, sementara aturan tentang pengurangan sisa makanan belum seketat aturan tentang kemasan plastik. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa prioritas kebijakan belum berpijak pada data komposisi sampah yang sesungguhnya.
Kesimpulan
Berdasarkan verifikasi terhadap data resmi dan praktik pengelolaan yang berjalan, dapat disimpulkan bahwa persoalan sampah nasional tidak bisa direduksi menjadi isu plastik semata. Sampah makanan yang mendominasi TPA membutuhkan perhatian yang setara, bahkan lebih besar, dalam strategi pengurangan, pemilahan, dan pengolahan. Narasi publik dan kebijakan harus kembali berpijak pada fakta: bahwa solusi terhadap sampah organik adalah kunci utama untuk meringankan beban TPA dan menekan emisi gas rumah kaca. Tanpa keseimbangan itu, upaya pengelolaan sampah akan terus berjalan setengah hati, menyelesaikan isu yang paling terlihat tetapi mengabaikan isu yang paling berdampak.
Comments (0)