Penggusuran Bangunan Liar di Kapuk Ricuh, El Nino Ancam Air Warga Karawang

Jakarta/Karawang – Dua peristiwa terpisah dalam sepekan terakhir kembali menyorot kerentanan masyarakat terhadap tekanan lingkungan dan tata ruang. Di Jaka

Penggusuran Bangunan Liar di Kapuk Ricuh, El Nino Ancam Air Warga Karawang

Jakarta/Karawang – Dua peristiwa terpisah dalam sepekan terakhir kembali menyorot kerentanan masyarakat terhadap tekanan lingkungan dan tata ruang. Di Jakarta Barat, pembongkaran belasan bangunan liar di kawasan Kapuk diwarnai adu mulut antara warga dan petugas. Sementara di Karawang, dampak El Nino yang memicu kemarau lebih panjang memaksa warga bertahan dengan air sumur yang telah berubah warna. Keduanya menjadi potret lanskap sosial-ekologis yang kian rawan di tengah perubahan iklim.

Kronologi Ricuh Penggusuran di Kapuk

Peristiwa bermula pada Selasa dini hari (15/8/2023) saat tim gabungan Satpol PP Jakarta Barat, didampingi aparat kepolisian dan TNI, mendatangi sebidang lahan di Jalan Kapuk Raya. Di atas lahan tersebut berdiri 14 bangunan semi-permanen yang ditempati belasan kepala keluarga. Pemerintah Kota Jakarta Barat sebelumnya telah mengeluarkan surat peringatan bertahap—SP1, SP2, dan SP3—yang menyatakan bangunan itu berdiri di atas tanah milik negara dan sudah tidak sesuai peruntukan tata ruang.

“Kami sudah diberi tenggat waktu, tapi tidak ada solusi relokasi. Saya lahir di sini, orang tua saya dulu yang bangun. Tiba-tiba disebut liar,” ujar Darso (52), salah seorang warga yang mengaku sebagai ahli waris dengan nada tinggi saat diwawancarai di lokasi.

Sekitar pukul 07.15 WIB, alat berat tiba. Puluhan warga—sebagian besar ibu hamil dan anak-anak—berkumpul di depan bangunan sambil membawa poster penolakan. Negosiasi alot berlangsung selama hampir dua jam. Suasana memanas ketika seorang warga mencoba mendorong pagar pengaman, memicu adu mulut beruntun dengan petugas. Tidak ada korban luka, tetapi tiga orang warga akhirnya diamankan ke kantor kelurahan untuk dimintai keterangan.

  1. Pukul 05.30 WIB — Petugas gabungan tiba di lokasi dan menyisir area.
  2. Pukul 07.15 WIB — Alat berat memasuki area sasaran, warga membentuk barikade manusia.
  3. Pukul 09.00 WIB — Negosiasi terakhir gagal, petugas mulai melakukan pendekatan persuasif dengan pemisahan massa.
  4. Pukul 10.00 WIB — Pengosongan paksa dilakukan, warga dievakuasi sementara ke tenda darurat yang disediakan dinas sosial.

Kepala Satpol PP Jakarta Barat, dalam keterangannya, menyatakan bahwa penertiban ini sudah melalui proses hukum dan mediasi, serta bagian dari penataan kawasan strategis. Ia menegaskan tidak ada ganti rugi finansial, namun warga akan didata untuk program Rusunawa. Beberapa ahli waris menyatakan akan menempuh jalur hukum melalui Pengadilan Tata Usaha Negara.

Jerat El Nino: Air Sumur Menguning, Warga Karawang Bertahan

Bergeser ke timur, fenomena El Nino moderat yang diprediksi BMKG berlangsung hingga awal 2024 mulai menunjukkan dampak nyata. Di Desa Kutawaluya, Kecamatan Tirtajaya, Kabupaten Karawang, kemarau panjang telah memicu penurunan drastis permukaan air tanah. Akibatnya, puluhan sumur gali milik warga menghasilkan air berwarna kuning kecokelatan dengan bau logam menyengat.

Sri Mulyani (38), warga RT 04/RW 02, menunjukkan ember penampungan airnya yang keruh. “Sudah sejak sebulan terakhir air sumur begini. Mau bilang ke siapa? PDAM tidak sampai sini, air galon mahal. Terpaksa kami pakai untuk masak juga, meski rasanya aneh,” keluhnya.

Data dari BPBD Karawang mencatat bahwa 17 dari 30 kecamatan di kabupaten itu sudah mengalami kekeringan ringan hingga sedang. Dinas Kesehatan setempat menemukan bahwa kandungan zat besi (Fe) dan mangan (Mn) pada sampel air sumur di beberapa titik melebihi ambang batas baku mutu, masing-masing di atas 0,3 mg/L dan 0,1 mg/L.

Ahli hidrogeologi dari Universitas Padjadjaran, Dr. Irwan Iskandar, menjelaskan bahwa tingginya mineral terlarut akibat penyusutan akuifer menjadi penyebab perubahan warna dan rasa. “Saat muka air tanah turun tajam, zona jenuh air mendekati lapisan yang kaya mineral Fe dan Mn. Oksidasi membuat ia mengendap dan mengubah warna air. Dampak El Nino mempercepat proses ini secara signifikan,” paparnya.

Warga terpaksa beradaptasi dengan cara-cara sederhana: mengendapkan air selama semalaman, menggunakan filter kain, hingga merebus lebih lama. Namun, Puskesmas setempat mulai menerima laporan peningkatan kasus diare dan gatal-gatal, yang diduga terkait konsumsi air tersebut.

Indikator Kondisi Normal Pasca-El Nino (2023)
Kedalaman Muka Air Tanah (desa terdampak) 8—12 meter 18—22 meter
Kadar Besi (Fe) <0,3 mg/L 0,9—1,5 mg/L
Jumlah Kecamatan Kekeringan 5 17
Pasokan Air Bersih Darurat (liter/Keluarga/hari) 30 liter

Pemerintah Kabupaten Karawang telah mengirimkan bantuan air bersih menggunakan truk tangki ke empat desa prioritas. Namun distribusi belum merata, dan beberapa warga mengaku hanya mendapat jatah 30 liter per keluarga per hari, yang setara dengan 7 galon kecil untuk seluruh kebutuhan mandi, masak, dan minum.

Ruang Kota, Iklim, dan Masa Depan

Peristiwa di Kapuk dan Karawang, meski berbeda pemicu, punya benang merah: keduanya menggambarkan ketidakberdayaan warga miskin kota dan desa ketika berhadapan dengan keputusan struktural dan tekanan iklim. Pakar tata kota dari Universitas Tarumanagara, Dr. Jo Santoso, mengatakan bahwa penggusuran tanpa solusi relokasi yang matang hanya akan memindahkan masalah, sementara krisis air akibat El Nino menuntut adaptasi jangka panjang. “Di satu sisi ada penggusuran tanpa jaminan hunian layak, di sisi lain ada krisis air yang tidak ditangani dengan infrastruktur permanen. Dua-duanya mengorbankan kelompok rentan yang sama,” jelasnya.

Saat ini, warga Kapuk tengah mencari tempat tinggal sementara, sedangkan warga Karawang terus menunggu hujan yang diperkirakan baru turun normal pada November mendatang. Pemerintah di kedua wilayah berjanji akan mencari solusi, namun masyarakat akar rumput hanya bisa bersiap dengan risiko yang ada.

[SOCIAL_TWEET]: Ricuh penggusuran 14 bangunan liar di Kapuk Jakarta Barat, warga tolak relokasi. Di Karawang, kemarau El Nino bikin air sumur menguning. Dua wajah krisis yang sama-sama menekan wong cilik. Baca selengkapnya di sini![SOCIAL_TG]: Penggusuran di Kapuk ricuh, sementara di Karawang El Nino bikin air sumur kuning. Warga terpaksa pakai. Kronologi, data lapangan, dan opini ahli kami baca di sini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User