Pelayat Ali Khamenei Tuntut Balas Dendam: "Kita Harus Bunuh Trump!"
Laporan dari Teheran, Lurusin.com – Ribuan pelayat memadati prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada Minggu (5/7/2026), melampaui jumlah yang hadir pada hari sebelumnya
Laporan dari Teheran, Lurusin.com – Ribuan pelayat memadati prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada Minggu (5/7/2026), melampaui jumlah yang hadir pada hari sebelumnya. Di tengah lautan manusia berbaju hitam, seruan balas dendam terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggema, mencerminkan ketegangan yang masih membara pasca-kematian tokoh berpengaruh itu.
Berdasarkan pantauan di lapangan, para pelayat tidak hanya membawa bendera Iran dan spanduk bertuliskan penghormatan, tetapi juga meneriakkan yel-yel yang menyerukan pembalasan. Suasana duka mendalam bercampur dengan amarah yang diarahkan kepada Washington, yang dianggap bertanggung jawab atas berbagai tekanan terhadap Iran semasa hidup Khamenei.
Seruan Balas Dendam di Tengah Duka
Di antara kerumunan, terdengar jelas teriakan "Marg bar Trump" (Mati untuk Trump) dan "Balas dendam! Balas dendam!" yang disambut pekik semangat peserta lain. Salah satu pelayat, Gholamreza Sabooni (29), seorang pekerja toko kelontong, mengungkapkan isi hatinya kepada tim Lurusin.com.
"Saya datang ke sini untuk berteriak dan menuntut balas dendam," ujarnya dengan nada penuh emosi.
Sabooni bukan satu-satunya yang menyuarakan kemarahan tersebut. Banyak peserta lain menyampaikan sentimen serupa, menuntut agar pemerintah Iran segera mengambil tindakan tegas terhadap Amerika Serikat yang dituding menjadi dalang di balik berbagai konspirasi yang menimpa Iran.
Meskipun hingga saat ini penyebab pasti kematian Ayatollah Khamenei belum diumumkan secara resmi, spekulasi di kalangan pendukung garis keras Iran mengarah pada dugaan keterlibatan asing. Hal ini semakin memanaskan tensi yang sudah tinggi antara kedua negara, yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Keamanan Diperketat
Pihak berwenang Iran mengerahkan ribuan personel keamanan untuk mengawal prosesi pemakaman yang berlangsung khidmat namun sarat potensi gejolak. Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Gedung Putih terkait seruan balas dendam yang dilontarkan para pelayat di Teheran.
Kehadiran massa yang jauh lebih besar dibanding hari pertama pemakaman menunjukkan betapa besarnya pengaruh Khamenei di mata para pendukungnya. Tak sedikit yang bersumpah akan meneruskan perjuangan sang pemimpin spiritual, termasuk mewujudkan ancaman terhadap figur-figur yang dianggap musuh revolusi Islam Iran.
Situasi di Teheran tetap mencekam namun terkendali. Para analis memperkirakan bahwa retorika kebencian terhadap Trump ini bisa menjadi modal politik baru bagi elite konservatif Iran untuk mengkonsolidasi kekuatan pasca-kepergian Khamenei. Dunia kini menanti langkah selanjutnya dari Teheran, di tengah pusaran ketidakpastian geopolitik kawasan Timur Tengah.
Comments (0)