Oct 11, 2026
factcheck

Mengapa Rasa Lapar Meningkat Saat Suhu Udara Menurun

Fenomena meningkatnya rasa lapar ketika suhu udara menurun sering dikaitkan dengan kebiasaan semata. Namun, berdasarkan verifikasi terhadap sejumlah literatur fisiologi, klaim bahwa cuaca dingin memic...

Mengapa Rasa Lapar Meningkat Saat Suhu Udara Menurun

Fenomena meningkatnya rasa lapar ketika suhu udara menurun sering dikaitkan dengan kebiasaan semata. Namun, berdasarkan verifikasi terhadap sejumlah literatur fisiologi, klaim bahwa cuaca dingin memicu nafsu makan memiliki dasar biologis yang dapat dijelaskan. Tubuh manusia mempertahankan suhu inti sekitar 36,5 hingga 37 derajat Celsius, dan ketika lingkungan lebih dingin, sistem termoregulasi bekerja lebih keras. Proses ini menuntut pasokan energi tambahan, sehingga sinyal lapar muncul lebih sering.

Mekanisme Termoregulasi dan Kebutuhan Kalori

Data menunjukkan bahwa paparan suhu rendah merangsang aktivitas sistem saraf simpatis. Respons ini memicu proses pembakaran energi, termasuk melalui termogenesis menggigil dan termogenesis tanpa menggigil. Pada kondisi tersebut, tubuh meningkatkan konsumsi oksigen untuk menghasilkan panas. Konsekuensinya, cadangan glikogen dan lemak digunakan lebih cepat. Ketika cadangan energi mulai berkurang, hormon ghrelin — yang berperan mengirim sinyal lapar ke otak — meningkat. Faktanya adalah rasa lapar bukan sekadar reaksi psikologis, melainkan bagian dari mekanisme kompensasi energi.

Berdasarkan verifikasi terhadap kajian fisiologi lingkungan, seseorang yang berada di ruangan bersuhu 15 hingga 18 derajat Celsius dapat membakar kalori lebih banyak dibandingkan kondisi suhu netral. Namun, besaran peningkatan tersebut bervariasi bergantung pada indeks massa tubuh, aktivitas fisik, dan durasi paparan. Klaim bahwa cuaca dingin selalu membuat seseorang makan dua kali lebih banyak tidak akurat karena tidak mempertimbangkan faktor individual tersebut.

Pengaruh Musim Hujan terhadap Pola Makan

Pada musim hujan, suhu udara yang lebih rendah sering disertai kelembapan tinggi. Kombinasi ini memengaruhi persepsi tubuh terhadap kenyamanan termal. Sumber resmi bidang meteorologi mencatat bahwa hujan dapat menurunkan suhu permukaan hingga beberapa derajat, terutama pada pagi dan malam. Kondisi tersebut bertentangan dengan asumsi bahwa rasa lapar hanya dipicu oleh aktivitas fisik berat. Faktanya, perubahan suhu lingkungan saja sudah cukup memicu peningkatan asupan makanan pada sebagian orang.

Selain itu, musim hujan cenderung mengurangi aktivitas luar ruang. Penurunan aktivitas ini bukan penyebab langsung rasa lapar, tetapi dapat memperkuat sinyal lapar melalui perubahan ritme harian dan suasana hati. Verifikasi terhadap beberapa penelitian menunjukkan bahwa makanan hangat seperti sup, wedang, atau minuman berkalori kerap dipilih karena memberi efek menghangatkan. Pilihan ini secara tidak langsung menambah asupan energi total harian.

Klaim yang Menyesatkan dan Bukti Ilmiah

Beredar anggapan bahwa rasa lapar saat cuaca dingin menandakan tubuh kekurangan gizi. Klaim tersebut menyesatkan. Berdasarkan verifikasi, sinyal lapar pada suhu rendah umumnya merupakan respons normal terhadap peningkatan pengeluaran energi, bukan indikator defisiensi nutrisi. Pemeriksaan medis tetap diperlukan bila rasa lapar disertai gejala lain seperti lemas berkepanjangan, penurunan berat badan drastis, atau gangguan metabolik.

Bukti lain menunjukkan bahwa tidak semua orang mengalami peningkatan nafsu makan yang sama. Beberapa studi menemukan bahwa paparan dingin dapat meningkatkan aktivitas jaringan adiposa cokelat, yang justru membakar energi untuk menghasilkan panas. Pada individu dengan jaringan adiposa cokelat aktif, rasa lapar bisa meningkat karena kebutuhan energi naik. Sebaliknya, pada individu dengan respons termoregulasi berbeda, efeknya tidak signifikan. Karena itu, generalisasi bahwa semua orang mudah lapar saat dingin tidak sepenuhnya tepat.

Cara Menghangatkan Tubuh Tanpa Makan Berlebih

Untuk mengelola rasa lapar akibat cuaca dingin, beberapa langkah dapat dilakukan. Pertama, mengenakan pakaian berlapis guna mengurangi kehilangan panas sehingga tubuh tidak perlu membakar energi ekstra. Kedua, mengonsumsi minuman hangat rendah kalori seperti air jahe atau teh tanpa gula. Ketiga, menjaga asupan protein dan serat agar rasa kenyang bertahan lebih lama. Keempat, melakukan aktivitas fisik ringan di dalam ruangan untuk merangsang sirkulasi darah.

Data menunjukkan bahwa makanan berkuah hangat memberi efek psikologis menghangatkan, tetapi kandungan kalorinya perlu diperhatikan. Verifikasi terhadap pola makan musiman menyarankan agar porsi tetap terkendali dan tidak menjadikan cuaca dingin sebagai alasan makan berlebihan. Dengan memahami mekanisme termoregulasi, seseorang dapat membedakan antara lapar fisiologis dan keinginan makan yang dipicu suhu.

Kesimpulannya, klaim bahwa perut mudah lapar saat cuaca dingin dan musim hujan adalah sebagian benar. Peningkatan rasa lapar memiliki dasar fisiologis melalui peningkatan pengeluaran energi dan sinyal hormon ghrelin. Namun, besarannya tidak seragam pada setiap orang dan tidak selalu menandakan masalah kesehatan. Diperlukan penilaian berbasis bukti sebelum menyimpulkan kondisi tubuh hanya dari gejala lapar semata.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sinta-pradana

Fact-Check Editor. Verifikator bersertifikasi IFCN. Memeriksa klaim viral dan disinformasi.

Comments (0)

User