Oct 19, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Menanamkan Kejujuran Lewat Biantara Sunda untuk Generasi Muda

Di tengah arus globalisasi yang semakin deras, upaya pelestarian nilai-nilai luhur melalui bahasa daerah menjadi tantangan sekaligus kebutuhan mendesak. Salah satu wahana yang masih bertahan dan relev...

Menanamkan Kejujuran Lewat Biantara Sunda untuk Generasi Muda

Di tengah arus globalisasi yang semakin deras, upaya pelestarian nilai-nilai luhur melalui bahasa daerah menjadi tantangan sekaligus kebutuhan mendesak. Salah satu wahana yang masih bertahan dan relevan adalah biantara atau pidato dalam bahasa Sunda, yang kerap digunakan sebagai media penyampaian pesan moral, termasuk nilai fundamental seperti kejujuran. Tradisi lisan ini bukan sekadar rangkaian kata indah, melainkan cerminan kearifan lokal masyarakat Jawa Barat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Biantara sebagai Wahana Pendidikan Moral

Secara historis, biantara telah mengakar kuat dalam kehidupan sosial masyarakat Sunda. Dalam berbagai acara adat, keagamaan, hingga kegiatan sekolah, pidato berbahasa Sunda menjadi instrumen penting untuk menanamkan budi pekerti. Data dari Dinas Pendidikan Jawa Barat mencatat bahwa lebih dari 3.500 sekolah dasar dan menengah di wilayah Priangan masih mengintegrasikan pembelajaran biantara Sunda dalam kurikulum muatan lokal. Praktik ini menunjukkan bahwa generasi muda terus diperkenalkan pada kekayaan ekspresi lisan sekaligus kandungan etika yang menyertainya.

Berbeda dengan sekadar ceramah, biantara memiliki struktur yang khas: dimulai dengan salam pembuka atau bubuka, dilanjutkan isi pidato yang padat makna, dan ditutup dengan panutup berupa harapan serta penghormatan. Keindahan bahasanya menjadikan pesan moral yang disampaikan terasa lebih membekas di benak pendengar, terutama ketika menyentuh tema kejujuran yang bersifat universal namun tetap dikemas dalam kearifan lokal.

Kejujuran sebagai Pilar Budaya Sunda

Dalam falsafah Sunda, kejujuran bukan sekadar konsep abstrak. Ia terwujud dalam ungkapan "cageur, bageur, bener, pinter"—sehat, baik hati, benar, dan cerdas. Unsur bener atau kebenaran menempati posisi sentral, menegaskan bahwa integritas personal menjadi landasan dari kecerdasan sejati. Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Kebudayaan Sunda Universitas Padjadjaran pada tahun 2025 mengungkapkan bahwa 87 persen responden dari kalangan tokoh adat menempatkan kejujuran sebagai nilai tertinggi dalam hierarki etika Sunda.

Melalui biantara, nilai ini disampaikan dengan pendekatan naratif yang menyentuh. Para penutur biasanya mengangkat kisah-kisah teladan dari tokoh masyarakat, cerita rakyat, atau pengalaman nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Pola ini menciptakan resonansi emosional sekaligus memberikan contoh konkret yang dapat diteladani oleh audiens dari berbagai rentang usia.

Adaptasi Biantara di Ruang Modern

Perkembangan teknologi informasi tidak serta-merta menggerus eksistensi biantara Sunda. Sebaliknya, platform digital justru membuka ruang baru bagi penyebarluasan pidato berbahasa daerah. Komunitas daring penggiat bahasa Sunda aktif membagikan rekaman biantara pendek melalui media sosial dan kanal berbagi video. Berdasarkan data dari Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat, konten berbahasa Sunda di YouTube mengalami peningkatan penayangan hingga 215 persen sepanjang tahun 2025 dibandingkan periode sebelumnya. Fenomena ini menjadi indikasi bahwa generasi digital tetap memiliki ketertarikan terhadap warisan linguistik mereka, selama dikemas secara relevan.

Lomba biantara virtual yang marak diselenggarakan sejak era pandemi juga menjadi katalisator penting. Format kompetisi jarak jauh ini telah menjangkau peserta dari berbagai daerah, bahkan dari kalangan diaspora Sunda di luar negeri. Tema seperti kejujuran sering diangkat karena sifatnya yang lintas zaman dan konteks, memudahkan peserta mengeksplorasi isu-isu aktual seperti integritas akademik, transparansi pemerintahan, hingga etika bermedia sosial dalam balutan bahasa ibu.

Struktur dan Gaya yang Memikat Audiens

Keefektifan sebuah biantara tidak hanya bergantung pada substansi, melainkan juga teknik penyampaian. Penggunaan purwakanti atau persajakan, pemilihan diksi yang puitis namun tetap komunikatif, serta intonasi yang tepat menjadi faktor penentu keberhasilan seorang penutur. Dalam praktiknya, biantara Sunda singkat yang berdurasi lima hingga tujuh menit justru dianggap lebih efektif dalam menyampaikan pesan moral karena mempertahankan konsentrasi audiens tanpa mengurangi kedalaman isi.

Para praktisi komunikasi lisan menekankan pentingnya penguasaan tiga elemen inti: kecap (kata), rengkuh (sikap), dan paroman (ekspresi wajah). Ketiganya membentuk kesatuan yang menghidupkan teks menjadi pengalaman mendengarkan yang berkesan. Inilah yang membedakan biantara dari sekadar membaca naskah; ada sentuhan personal dan karisma penutur yang turut menyampaikan ketulusan pesan, terutama untuk tema sepenting kejujuran.

Peran Lembaga Pendidikan dan Keluarga

Sekolah memiliki tanggung jawab strategis dalam menjaga keberlangsungan tradisi biantara. Ekstrakurikuler seni tutur Sunda, program pasanggiri (lomba) antarsekolah, serta integrasi dalam mata pelajaran bahasa daerah merupakan langkah konkret yang telah dijalankan. Namun, tanpa dukungan lingkungan keluarga, upaya ini berisiko menjadi setengah hati. Penggunaan bahasa Sunda sebagai bahasa komunikasi harian di rumah menjadi fondasi awal bagi anak untuk mengenal dan mencintai bentuk-bentuk ekspresi lisan yang lebih kompleks seperti biantara.

Nilai kejujuran yang menjadi inti dari banyak naskah biantara Sunda pada dasarnya adalah cerminan dari harapan kolektif masyarakat. Dalam setiap bait dan kalimatnya, tersimpan aspirasi agar generasi penerus tidak hanya mahir berbahasa, tetapi juga memiliki integritas. Sebab pada akhirnya, kelestarian bahasa daerah tidak dapat dipisahkan dari pelestarian karakter manusia yang menuturkannya. Biantara Sunda tentang kejujuran hadir sebagai pengingat bahwa kata-kata yang terucap dengan tulus memiliki kekuatan untuk membentuk peradaban yang lebih bermartabat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User