Mahasiswi S2 Unpad Raih Juara Lomba Riset Komunikasi Digital
Bandung — Ade Safitri, mahasiswi program magister Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan meraih juara pertama dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional b...
Bandung — Ade Safitri, mahasiswi program magister Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan meraih juara pertama dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional bidang komunikasi dan media digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi. Kemenangan ini mengukuhkan posisinya sebagai peneliti muda yang mampu mengurai tantangan komunikasi kontemporer, khususnya di kalangan generasi muda.
Riset yang Menggali Pola Komunikasi Generasi Z
Dalam kompetisi yang diikuti lebih dari 200 peserta dari berbagai universitas di Indonesia, Ade mengajukan penelitian berjudul “Transformasi Pola Komunikasi Antarpribadi Generasi Z di Era Platform Video Pendek: Studi pada Pengguna TikTok dan Instagram Reels.” Penelitian ini berangkat dari keprihatinan akan bergesernya model komunikasi tatap muka di kalangan anak muda yang semakin terpapar konten singkat dan visual. Ade melakukan riset kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap 30 responden berusia 17-25 tahun di tiga kota besar: Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Temuannya mengungkapkan bahwa meskipun platform video pendek meningkatkan kuantitas interaksi, kedalaman dan kualitas komunikasi emosional justru menurun. “Generasi Z cenderung mengekspresikan diri melalui simbol visual dan tren, tetapi kesulitan membangun percakapan reflektif yang membutuhkan ketahanan atensi,” ujar Ade saat memaparkan hasil risetnya di hadapan dewan juri.
Proses dan Tantangan di Balik Pencapaian
Perjalanan Ade menuju podium juara tidaklah singkat. Sejak memasuki program magister di Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, ia telah mengembangkan minat pada isu literasi digital dan komunikasi antarpribadi. Di bawah bimbingan Dr. Reni Akbar, dosen spesialis komunikasi media baru, Ade menghabiskan hampir empat bulan untuk menyusun proposal, melakukan pengambilan data, hingga menganalisis temuan dengan pendekatan etnografi digital. Salah satu tantangan terbesar adalah merekrut responden yang bersedia diwawancarai secara intensif selama lebih dari satu jam, mengingat kebiasaan generasi tersebut yang lebih memilih komunikasi asinkron. Ade mengaku harus membangun rapport secara bertahap melalui grup diskusi daring sebelum akhirnya mendapatkan data yang otentik. “Saya belajar bahwa mendengarkan generasi ini membutuhkan pendekatan yang berbeda, bukan hanya metode riset konvensional,” katanya. Keuletan ini membuahkan hasil ketika risetnya dinilai memiliki kebaruan metodologis serta relevansi tinggi bagi perumusan kebijakan literasi digital.
Respons Akademisi dan Relevansi Temuan
Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, Dr. Dadang Rahmat Hidayat, menyatakan kebanggaannya atas capaian Ade. “Penelitian ini bukan sekadar tugas akademik, melainkan kontribusi nyata menjawab kegelisahan masyarakat tentang dampak media sosial terhadap relasi personal. Kampus kami mendorong setiap mahasiswa untuk menghasilkan riset yang tidak hanya berhenti di perpustakaan, tetapi berdampak pada kebijakan publik,” tegasnya. Temuan Ade juga disambut positif oleh praktisi komunikasi dan pengamat media. Beberapa rekomendasi risetnya, seperti perlunya modul pendidikan komunikasi empatik di sekolah menengah, telah dipertimbangkan oleh Dinas Pendidikan Jawa Barat untuk diintegrasikan dalam kurikulum muatan lokal. Dengan kemenangan ini, Ade mendapatkan dana pengembangan riset serta kesempatan untuk mempresentasikan karyanya di konferensi internasional komunikasi di Seoul tahun depan. Ia juga berencana melanjutkan studi doktoral dengan topik yang lebih luas tentang kecerdasan buatan dan disrupsi komunikasi manusia.
Pada akhirnya, kisah Ade Safitri membuktikan bahwa mahasiswa Indonesia mampu menghasilkan penelitian berbobot yang menjawab persoalan kekinian. Di tengah arus deras konten dangkal, upaya mendalam seperti ini menjadi oase yang mengingatkan kembali akan urgensi komunikasi bermakna di era digital.
Comments (0)