Mahasiswa Merantau Pilih Tinggal dengan Saudara: Efisien tapi Minim Privasi

Memasuki dunia perkuliahan seringkali mengharuskan anak muda meninggalkan kampung halaman dan menetap di kota asing. Di tengah keterbatasan finansial, opsi tinggal bersama keluarga besar—seperti pam...

Mahasiswa Merantau Pilih Tinggal dengan Saudara: Efisien tapi Minim Privasi

Memasuki dunia perkuliahan seringkali mengharuskan anak muda meninggalkan kampung halaman dan menetap di kota asing. Di tengah keterbatasan finansial, opsi tinggal bersama keluarga besar—seperti paman, bibi, atau sepupu—menjadi solusi yang kerap dipilih. Selain menghemat pengeluaran, mahasiswa pun mendapat dukungan emosional dan logistik yang sulit didapat jika hidup sendiri. Akan tetapi, keuntungan tersebut bukannya tanpa bayaran: batas antara kenyamanan dan kebebasan pribadi kerap menipis. Survei singkat terhadap 150 mahasiswa di Jakarta, Bandung, dan Surabaya menunjukkan bahwa 68% dari mereka yang tinggal bersama saudara melaporkan penghematan biaya hingga 60% dibandingkan dengan menyewa kos. Sementara itu, 43% mengaku jarang atau tidak pernah memiliki waktu sendirian di rumah.

Kenyamanan Finansial dan Logistik Tanpa Tanding

Berdasarkan wawancara dengan puluhan mahasiswa perantau, mayoritas mengakui bahwa tinggal bersama saudara menghilangkan beban besar dalam mengelola keuangan. Mereka tidak perlu mengeluarkan biaya sewa kos yang bisa mencapai jutaan rupiah per bulan di kota-kota besar. Makanan seringkali sudah tersedia tanpa harus keluar uang tambahan, dan fasilitas mencuci pakaian pun turut tercover. “Saya benar-benar tidak perlu khawatir soal urusan remeh seperti belanja sabun atau beras. Semua sudah ditanggung bibi,” ujar Rani (20), mahasiswi semester empat yang tinggal bersama keluarga pamannya di Yogyakarta. Fasilitas ini secara langsung memperbesar ruang tabungan mahasiswa untuk dialokasikan ke kebutuhan akademis, seperti buku, kuota internet, atau kegiatan pengembangan diri. Bahkan, sebagian dari mereka bisa menyisihkan uang saku untuk hiburan ringan tanpa harus mengorbankan nutrisi harian. Keamanan emosional juga menjadi faktor penentu: saat sakit atau mengalami masalah, kehadiran saudara menjadi sandaran yang sulit digantikan oleh teman sekos.

Sisi Lain: Ruang Pribadi yang Terkikis

Namun, kemudahan tersebut tidak datang tanpa konsekuensi. Tinggal di bawah atap saudara seringkali berarti mengikuti aturan main yang tidak kasat mata namun mengikat. Mulai dari jam malam, keharusan ikut dalam acara keluarga, hingga campur tangan dalam urusan pribadi seperti hubungan asmara atau gaya hidup. Seorang mahasiswa bernama Dimas (22) berbagi pengalaman, “Saya harus izin setiap kali keluar malam, padahal saya sudah dewasa. Kadang hal kecil seperti itu membuat saya merasa tidak mandiri.” Privasi menjadi barang langka. Kamar tidur yang dijanjikan ternyata seringkali merupakan ruang multifungsi yang harus dikosongkan saat ada tamu, atau sekadar tak punya kunci dari dalam. Interaksi harian yang terlalu dekat memunculkan rasa diawasi, meskipun tanpa niat buruk dari pemilik rumah. Kondisi ini, jika berlarut-larut, dapat memicu stres psikologis dan konflik terselubung antara kedua belah pihak. “Terkadang saya hanya ingin sendirian untuk mengerjakan tugas atau sekadar melamun, tapi selalu ada yang mengetuk pintu,” tambah Dimas.

Fenomena ini semakin relevan di era di mana biaya pendidikan dan akomodasi terus meroket. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran rumah tangga untuk sewa dan kontrak di perkotaan naik 5,2% per tahun. Bagi mahasiswa dari keluarga berpenghasilan rendah hingga menengah, tinggal bersama saudara bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Namun, pola asuh dan nilai-nilai modern sering kali berbenturan. Mahasiswa yang terbiasa dengan kebebasan di kampus tiba-tiba harus tunduk pada kebiasaan rumah tangga yang mungkin konservatif. Menyeimbangkan dua kutub ini memerlukan fleksibilitas dan empati dari kedua belah pihak.

Menemukan Keseimbangan: Komunikasi adalah Kunci

Psikolog keluarga, Andini Pratiwi, M.Psi., menekankan bahwa kunci sukses hidup serumah dengan kerabat terletak pada komunikasi yang jujur dan eksplisit. “Keduanya harus duduk bersama dan mendiskusikan batasan sejak awal—apa yang boleh dan tidak boleh, bagaimana pembagian biaya, serta kebutuhan akan ruang pribadi,” jelasnya. Tanpa kesepakatan jelas, pihak yang lebih muda cenderung merasa tertekan, sementara pihak yang lebih tua kerap tidak menyadari ketidaknyamanan tersebut. “Mahasiswa harus paham bahwa mereka adalah tamu, tapi tuan rumah juga harus memahami bahwa mereka bukan anak kecil lagi,” tegas Andini. Sebagai bentuk penghargaan, mahasiswa pun disarankan untuk tetap berkontribusi, baik dalam bentuk finansial—meski tak sebanding dengan harga sewa—maupun tenaga, seperti membantu membereskan rumah atau menjaga anak sepupu. Ini bukan sekadar soal sopan santun, melainkan cara membangun resiprositas yang sehat. Di sisi lain, pemilik rumah perlu memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengelola waktu dan pilihannya sendiri, termasuk tidak selalu melontarkan nasihat tanpa diminta.

Pilihan yang Tak Hitam Putih

Tinggal bersama saudara saat merantau ibarat koin bermata dua. Di satu sisi, ia menawarkan jaring pengaman ekonomi dan emosional yang sulit ditandingi. Di sisi lain, ia menggerus kemandirian dan privasi yang sangat dibutuhkan dalam proses pendewasaan. Realitanya, tidak ada rumus baku yang cocok untuk semua orang; semuanya bergantung pada dinamika hubungan, karakter personal, dan keberanian menetapkan batas. Bagi mereka yang berhasil menegosiasikan ruang pribadi dan berkontribusi secara sehat, pengalaman ini bisa menjadi ikatan kekeluargaan yang semakin erat. Namun, bagi yang merasa terjebak antara kewajiban dan hak pribadi, jalan tengah harus terus dicari agar hubungan darah tidak ternoda rasa enggan yang berkepanjangan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User