PALANGKARAYA — Kabut asap pekat kembali menyelimuti Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Di sebuah pasar tradisional, Senin (12/10/2026), seorang perempuan tampak menutup separuh wajahnya dengan masker sambil memilih sayuran. Udara berbau hangus. Mata perih. Jarak pandang di jalan-jalan utama menyusut hingga menyulitkan pengendara. Pemandangan yang terekam dalam bingkai foto itu sesungguhnya bukan peristiwa sesaat, melainkan potret rutin yang berulang setiap tahun di sejumlah wilayah Indonesia.
Asap tersebut berasal dari kebakaran hutan dan lahan yang melanda banyak titik di Kalimantan dan Sumatra. Selama beberapa pekan terakhir, kabut asap tidak hanya menyelimuti wilayah Indonesia, tetapi juga terbawa angin melintasi batas negara hingga mencapai Malaysia dan Singapura. Dampaknya bersifat lintas sektor: kesehatan, pendidikan, transportasi, hingga denyut ekonomi harian warga.
Ketika Udara Berubah Menjadi Ancaman Harian
Bagi warga yang tinggal di kawasan terdampak, kabut asap bukan sekadar kabar buruk di televisi. Ia hadir dalam setiap tarikan napas. Anak-anak mulai batuk, orang tua mengeluh sesak, dan aktivitas pagi yang biasanya berjalan normal kini dibatasi oleh kualitas udara yang tak lagi layak dihirup.
Pedagang di pasar tempat foto itu diambil mengaku omzetnya menurun karena pembeli enggan beraktivitas di luar ruangan terlalu lama. "Kalau asap seperti ini, orang belanja cepat-cepat lalu pulang. Saya buka pagi, tapi sepi," ujar seorang pedagang yang enggan disebutkan namanya.
"Kami sudah bertahun-tahun pakai masker, tapi tetap saja dada sesak. Yang paling kami takutkan bukan asapnya hari ini, tapi apa yang akan terjadi pada anak-anak kami sepuluh tahun lagi." — seorang warga Palangkaraya, saat ditemui di pasar tradisional, Senin (12/10/2026)
Skala Regional dan Rujukan ISPU
Kabut asap yang terbawa angin lintas wilayah menjadikan persoalan ini bukan lagi urusan satu daerah. Ketika konsentrasi partikel halus meningkat, rujukan utama untuk membaca tingkat bahaya adalah Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
| Kategori ISPU | Rentang | Konsekuensi Umum |
|---|---|---|
| Baik | 0–50 | Aktivitas luar ruangan normal |
| Sedang | 51–100 | Relatif aman bagi kelompok sehat |
| Tidak Sehat | 101–200 | Kelompok rentan mulai terdampak |
| Sangat Tidak Sehat | 201–300 | Aktivitas luar ruangan sebaiknya dibatasi |
| Berbahaya | 301–500 | Seluruh warga diminta menghindari paparan |
Masalahnya, lonjakan ISPU kerap datang lebih cepat daripada kesiapan layanan kesehatan. Rumah sakit dan puskesmas di sejumlah daerah mengaku kewalahan menerima pasien dengan keluhan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kelompok paling rentan adalah anak-anak, ibu hamil, dan lansia.
Dampak Berantai yang Sering Diabaikan
Selain kesehatan, kabut asap memukul sektor lain secara simultan:
- Pendidikan: sekolah terpaksa diliburkan atau mengalihkan kegiatan ke pembelajaran jarak jauh.
- Transportasi: jarak pandang yang rendah memaksa penundaan penerbangan dan memperlambat jalur darat serta sungai.
- Ekonomi: pasar, warung, dan usaha mikro kehilangan pembeli harian.
- Lingkungan: lahan gambut yang terbakar melepas simpanan karbon dalam jumlah besar dan sulit dipadamkan.
Banyak pihak menilai penanganan karhutla masih berjalan reaktif — bergerak cepat ketika asap sudah mengepul, lalu mereda ketika hujan datang. Pendekatan yang hanya mengandalkan pemadaman tanpa menyentuh akar persoalan pembukaan lahan akan terus mengulang bencana yang sama setiap tahun.
Menunggu Hujan, Menanti Kebijakan
Hingga kini, warga di Kalimantan, Sumatra, Malaysia, dan Singapura sama-sama menanggung akibat dari satu persoalan yang sama. Mereka menunggu angin berubah arah dan hujan turun. Namun bagi banyak pengamat, yang sesungguhnya ditunggu adalah konsistensi penegakan hukum, tata kelola lahan gambut, serta sistem peringatan dini yang benar-benar sampai ke tingkat desa.
Tanpa itu, foto perempuan bermasker di pasar tradisional itu bukanlah dokumentasi bencana, melainkan cermin masa depan yang terus berulang. Kabut asap tidak pernah menjadi bencana tunggal; ia adalah rantai persoalan yang bermuara pada cara manusia mengelola lahan dan udaranya.
Comments (0)