Oct 12, 2026
factcheck

ICAD 16 Mempertemukan 40 Seniman Lintas Negara di Jakarta

Pameran seni kontemporer berskala internasional kembali digelar di Jakarta. Edisi ke-16 dari Indonesian Contemporary Art and Design (ICAD) mempertemukan lebih dari 40 seniman, desainer, dan praktisi k...

ICAD 16 Mempertemukan 40 Seniman Lintas Negara di Jakarta

Pameran seni kontemporer berskala internasional kembali digelar di Jakarta. Edisi ke-16 dari Indonesian Contemporary Art and Design (ICAD) mempertemukan lebih dari 40 seniman, desainer, dan praktisi kreatif yang berasal dari 12 negara berbeda. Ajang ini menjadi salah satu pertemuan lintas disiplin terbesar yang berlangsung di ibu kota pada periode ini, dengan narasi kuratorial yang menyatukan beragam latar belakang budaya dalam satu ruang pamer.

Kehadiran puluhan peserta dari berbagai negara menunjukkan bahwa Jakarta masih diperhitungkan sebagai simpul pertemuan praktik seni dan desain di kawasan Asia Tenggara. Keragaman peserta menjadi fondasi utama penyelenggaraan tahun ini, karena karya yang dipamerkan tidak dibatasi pada satu gaya atau satu medium tertentu. Pengunjung akan menemukan instalasi, objek desain, karya berbasis media digital, hingga eksplorasi material yang bersifat eksperimental.

Tema Besar: Kekuasaan, Memori Budaya, dan Teknologi

Berdasarkan informasi kuratorial yang dihimpun, benang merah pameran tahun ini berpusat pada empat wilayah perhatian. Pertama adalah persoalan kekuasaan, baik dalam pengertian politik, institusi, maupun relasi kuasa yang bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa karya disebut menelaah bagaimana kekuasaan direpresentasikan, dipertanyakan, dan dinegosiasikan melalui bahasa visual.

Kedua adalah memori budaya. Sejumlah praktisi mengangkat warisan tradisi, arsip personal, dan narasi kolektif yang terancam terlupakan. Pendekatan ini tidak sekadar mengangkat nostalgia, melainkan menempatkan memori sebagai bahan kerja yang terus berubah makna setiap kali dibaca ulang oleh generasi berbeda. Memori budaya diposisikan sebagai medan pergulatan, bukan sekadar warisan yang diterima apa adanya.

Ketiga adalah teknologi. Perkembangan perangkat digital, kecerdasan artifisial, dan media baru menjadi konteks kerja yang tak terhindarkan bagi para seniman dan desainer. Karya-karya dalam klaster ini cenderung menyoal batas antara manusia dan mesin, sekaligus mempertanyakan siapa yang mengendalikan teknologi dan untuk kepentingan siapa.

Keempat adalah dimensi personal. Di tengah tema-tema struktural yang besar, sejumlah peserta justru menarik perhatian pada pengalaman intim: tubuh, keluarga, ingatan pribadi, dan kerentanan individu. Pendekatan ini memberi keseimbangan pada pameran, karena persoalan makro kerap hanya bisa dipahami lewat cerita yang sangat spesifik dan personal.

Format Pameran dan Pertemuan Lintas Disiplin

ICAD secara historis dikenal sebagai ruang yang mempertemukan seni rupa dan desain dalam satu ekosistem. Pembagian yang kaku antara seni murni, desain produk, desain grafis, dan praktik kontemporer lain sengaja dicairkan. Konsekuensinya, pengunjung tidak hanya melihat karya sebagai objek estetik, tetapi juga sebagai produk berpikir yang berhubungan dengan industri kreatif, teknologi, dan kehidupan urban.

Dengan peserta yang berasal dari 12 negara, penyelenggaraan ini juga berfungsi sebagai jaringan pertukaran pengetahuan. Para praktisi yang terlibat berkesempatan membandingkan metode kerja, konteks sosial, dan tantangan yang mereka hadapi di negara masing-masing. Pertemuan semacam ini penting karena praktik seni dan desain tidak tumbuh di ruang hampa, melainkan selalu terikat pada situasi politik, ekonomi, dan budaya tempatnya berkembang.

Bagi publik Jakarta, kehadiran pameran ini membuka akses langsung terhadap karya yang biasanya hanya bisa dilihat melalui dokumentasi digital atau liputan media. Kehadiran fisik karya tetap memiliki nilai tersendiri, terutama untuk instalasi yang mengandalkan skala, tekstur, dan pengalaman ruang. Pengalaman langsung di ruang pamer tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh reproduksi gambar.

Yang Perlu Dicatat dari Penyelenggaraan Tahun Ini

Beberapa hal patut menjadi perhatian. Pertama, jumlah peserta yang mencapai lebih dari 40 orang dari 12 negara menempatkan pameran ini pada skala yang cukup besar untuk ukuran penyelenggaraan mandiri di Indonesia. Kedua, pilihan tema menunjukkan bahwa penyelenggara tidak menghindari persoalan yang bersifat struktural dan berpotensi memicu perdebatan.

Ketiga, kombinasi antara seni dan desain memperluas basis penonton. Pameran ini tidak hanya menyasar kolektor dan pengamat seni, tetapi juga pelaku industri kreatif, mahasiswa, dan masyarakat umum yang tertarik pada perkembangan visual culture. Keempat, keterlibatan internasional memberi tekanan pada pentingnya dokumentasi dan pengarsipan yang baik, agar hasil pertemuan lintas negara ini dapat ditelusuri kembali di masa depan.

Meski demikian, penilaian menyeluruh atas kualitas pameran baru dapat dilakukan setelah karya-karya tersebut benar-benar dapat diamati secara langsung. Klaim mengenai keberhasilan sebuah pameran tidak cukup hanya bersandar pada jumlah peserta atau jumlah negara asal. Yang menentukan adalah bagaimana gagasan-gagasan itu diolah, dikomunikasikan, dan diterima oleh publik yang datang.

Sebagai catatan penutup, penyelenggaraan ICAD 16 menegaskan satu hal: Jakarta masih memiliki ruang, penonton, dan energi untuk menjadi tuan rumah percakapan seni dan desain lintas negara. Apakah ruang itu akan terus melebar atau menyempit sangat bergantung pada dukungan ekosistem, mulai dari pendanaan, kebijakan, hingga keberanian para praktisi untuk terus mempertanyakan hal-hal yang dianggap mapan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS dina-aulia

Reporter Investigasi. Meliput isu lingkungan, tambang ilegal, dan deforestasi.

Comments (0)

User