Komitmen menjaga kebersihan dan kelestarian alam tidak bisa hanya mengandalkan gerakan sesaat. Safrizal ZA, figur sentral di balik Gerakan Indonesia ASRI, baru-baru ini memberikan penekanan tegas bahwa inisiatif ini harus bertransformasi menjadi sebuah budaya yang melekat dalam keseharian masyarakat. Ia menolak anggapan bahwa gerakan tersebut sekadar program pengelolaan sampah; sebaliknya, ia melihatnya sebagai cetak biru perubahan perilaku yang menyeluruh.
Akar Masalah: Bukan Hanya Tumpukan Sampah
Safrizal ZA mengurai persoalan lingkungan dari sudut pandang yang lebih fundamental. Baginya, gunungan sampah di perkotaan atau pencemaran sungai hanyalah symptom, bukan penyakit utamanya. Penyakit sesungguhnya adalah keterputusan hubungan antara manusia dan alam, yang termanifestasi dalam kebiasaan konsumtif dan minimnya rasa tanggung jawab. Gerakan Indonesia ASRI, menurut dia, lahir untuk menyembuhkan keterputusan itu dengan cara membangun kembali kesadaran bahwa setiap individu adalah penjaga, bukan sekadar pengguna, lingkungan hidup.
Dalam berbagai kesempatan diskusi, Safrizal mengkritik pendekatan lama yang terlalu fokus pada pengangkutan dan pemrosesan akhir sampah. Pendekatan itu, tuturnya, ibarat membersihkan lantai yang terus-menerus digenangi air tanpa menutup keran yang bocor. Oleh karena itu, Gerakan Indonesia ASRI mendorong intervensi di hulu, yaitu dengan menanamkan pola pikir reduce dan reuse sejak dini, bukan hanya mengkampanyekan daur ulang di hilir.
Membangun Budaya Peduli Lingkungan
Upaya membudayakan kepedulian lingkungan bukanlah perkara mudah dalam masyarakat yang telah terbiasa dengan kepraktisan dan budaya pakai-buang. Safrizal ZA menekankan bahwa Gerakan Indonesia ASRI merancang strategi yang menyasar tiga pilar utama: pendidikan, komunitas, dan keteladanan. Di sektor pendidikan, ia mendorong integrasi materi ekologi ke dalam kurikulum sekolah, tidak sekadar sebagai mata pelajaran tersendiri, tetapi sebagai nilai lintas mata pelajaran yang dihidupkan melalui praktik langsung, seperti bank sampah sekolah dan kebun mini kelas.
Pada tingkat komunitas, gerakan ini mengajak para tokoh agama, adat, dan pemuda untuk menjadi motor penggerak. Safrizal percaya bahwa nilai-nilai pelestarian alam sejatinya telah tertanam dalam kearifan lokal dan ajaran spiritual yang menghormati bumi. Gerakan Indonesia ASRI hanya perlu membangkitkannya kembali melalui pelatihan, pendampingan, dan penyediaan infrastruktur sederhana seperti tempat pilah sampah di tingkat RT. Ia juga menyoroti pentingnya keteladanan dari para pemimpin dan figur publik, karena masyarakat akan lebih mudah tergerak ketika melihat contoh nyata, bukan sekadar imbauan.
Tantangan Menuju Transformasi Kolektif
Meski antusiasme terhadap gerakan lingkungan meningkat, Safrizal ZA tidak menutup mata terhadap sejumlah hambatan. Pertama, adalah kesenjangan infrastruktur. Di banyak daerah, fasilitas pengelolaan sampah masih minim, sehingga warga yang sudah sadar memilah seringkali kecewa karena sampah yang terpilah tetap tercampur kembali saat diangkut. Kedua, tantangan ekonomi, di mana produk ramah lingkungan masih dianggap mahal dan tidak terjangkau oleh sebagian besar masyarakat. Gerakan ini, kata Safrizal, harus mendorong insentif ekonomi hijau agar pilihan berkelanjutan menjadi pilihan yang mudah dan murah.
Ketiga, dan ini yang paling krusial, adalah resistensi budaya. Mengubah kebiasaan menggunakan plastik sekali pakai, misalnya, memerlukan waktu dan pendekatan yang persuasif, bukan paksaan. Safrizal menilai bahwa kampanye yang menghakimi justru kontraproduktif. Sebaliknya, Gerakan Indonesia ASRI mengedepankan narasi positif: menjadi asri itu keren, menyehatkan, dan membawa berkah. Oleh karena itu, gerakan ini gencar menggunakan media sosial dan platform digital untuk menyebarkan kisah sukses, tutorial kreatif daur ulang, dan tantangan ramah lingkungan yang melibatkan partisipasi luas.
Dari Gerakan Menjadi Gaya Hidup
Visi besar yang diusung Safrizal ZA adalah saat di mana menjadi bagian dari Gerakan Indonesia ASRI tidak lagi dirasakan sebagai kewajiban tambahan, melainkan sebagai gaya hidup yang alami. Ia membayangkan sebuah Indonesia di mana anak-anak secara naluriah membuang sampah pada tempatnya, ibu rumah tangga dengan bangga membawa tas belanja sendiri, dan kantor-kantor menerapkan kebijakan nol limbah tanpa merasa terbebani. Untuk mencapai itu, ia mengajak semua pihak—pemerintah, swasta, akademisi, media, dan masyarakat sipil—untuk bersinergi dalam satu ekosistem gerakan.
Safrizal menutup dengan seruan bahwa bumi bukanlah warisan nenek moyang, melainkan titipan anak cucu. Gerakan Indonesia ASRI, tegasnya, harus menjadi budaya bangsa, bukan sekadar proyek temporer. Ia optimistis, dengan konsistensi dan kolaborasi, Indonesia dapat menjadi teladan global dalam membangun peradaban yang selaras dengan alam. Perjalanan masih panjang, namun langkah awal telah dimulai dari setiap tangan yang memungut sampah, dan dari setiap hati yang mulai peduli.
Comments (0)