Diabetes Kering dan Basah: Mitos yang Berbahaya bagi Pasien

Di tengah masyarakat Indonesia, istilah “diabetes kering” dan “diabetes basah” telah lama menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Banyak penderita dan keluarga meyakini bahwa penyakit gula...

Diabetes Kering dan Basah: Mitos yang Berbahaya bagi Pasien

Di tengah masyarakat Indonesia, istilah “diabetes kering” dan “diabetes basah” telah lama menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Banyak penderita dan keluarga meyakini bahwa penyakit gula dapat dibedakan menjadi dua golongan berdasarkan kondisi lukanya: luka kering tanpa cairan dan luka basah yang bernanah. Keyakinan ini tidak hanya memengaruhi cara pandang, tetapi juga berpotensi mengubah keputusan pengobatan. Laporan ini menyajikan hasil verifikasi terhadap anggapan tersebut berdasarkan standar medis dan sumber resmi.

Klaim

Klaim yang beredar menyatakan bahwa diabetes mellitus terbagi menjadi dua jenis, yaitu “diabetes kering” dan “diabetes basah”. Menurut anggapan ini, penderita “diabetes kering” memiliki luka yang kering, tidak bernanah, dan cenderung sulit sembuh, sedangkan penderita “diabetes basah” mengalami luka yang mengeluarkan cairan, bernanah, dan berbau. Sebagian masyarakat bahkan meyakini kedua kondisi tersebut memerlukan penanganan yang berbeda secara fundamental.

Sumber Klaim

Berdasarkan penelusuran, istilah ini tidak ditemukan dalam literatur medis resmi mana pun. Penyebarannya terjadi melalui komunikasi lisan, unggahan media sosial, serta sebagian praktik pengobatan tradisional. Sumber klaim umumnya bersifat anekdot, yaitu cerita pengalaman pribadi atau keluarga, tanpa rujukan terhadap dokumen ilmiah. Tidak ada jurnal kedokteran, pedoman klinis, maupun regulasi kesehatan yang menggunakan istilah tersebut sebagai kategori diagnosis.

Verifikasi

Verifikasi dilakukan dengan menelusuri klasifikasi diabetes mellitus pada sumber resmi, antara lain Klasifikasi Internasional Penyakit (ICD-11) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), konsensus penatalaksanaan diabetes dari Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni), pedoman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, serta standar perawatan dari American Diabetes Association (ADA). Bukti utama dari penelusuran ini menunjukkan bahwa seluruh dokumen tersebut tidak mencantumkan istilah “diabetes kering” maupun “diabetes basah” sebagai jenis penyakit. Pemeriksaan juga mencakup materi edukasi kesehatan pemerintah yang secara eksplisit membantah penggolongan tersebut dan menegaskan bahwa seluruh penderita diabetes berisiko mengalami komplikasi luka.

Fakta

Faktanya adalah klasifikasi medis diabetes mellitus hanya terbagi menjadi beberapa tipe utama: diabetes tipe 1 yang disebabkan kerusakan sel beta pankreas, diabetes tipe 2 yang berkaitan dengan resistensi insulin, diabetes gestasional pada masa kehamilan, serta tipe spesifik lain yang dipicu kondisi genetik atau penyakit tertentu. Diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan laboratorium, seperti kadar glukosa darah puasa 126 mg/dL atau lebih, glukosa dua jam setelah tes toleransi 200 mg/dL atau lebih, atau HbA1c 6,5 persen atau lebih.

Istilah “kering” dan “basah” yang selama ini beredar sebenarnya merujuk pada kondisi luka kaki diabetik, atau yang dikenal sebagai ulkus diabetikum, bukan pada jenis diabetes itu sendiri. Luka “basah” yang mengeluarkan cairan atau nanah umumnya menandakan adanya infeksi yang memerlukan penanganan medis segera, sedangkan luka “kering” juga tetap berisiko dan harus dirawat secara profesional. Kedua kondisi tersebut dapat terjadi pada penderita diabetes tipe berapa pun.

Perbedaan antara luka kering dan luka basah memang relevan dalam perawatan luka, tetapi keduanya bukan pembeda jenis penyakit. Pada praktik klinis, luka basah dengan tanda infeksi seperti nanah, bau, dan kemerahan membutuhkan pembersihan jaringan serta antibiotik, sementara luka kering memerlukan perlindungan jaringan dan manajemen tekanan. Keduanya harus ditangani oleh tenaga kesehatan, bukan dengan obat oles tradisional yang justru dapat memperburuk kondisi.

Data menunjukkan bahwa risiko komplikasi kaki pada penderita diabetes sangat nyata. Federasi Diabetes Internasional (IDF) memperkirakan sekitar 15 hingga 25 persen penderita diabetes akan mengalami ulkus kaki selama hidup mereka. Angka amputasi akibat komplikasi ini pun masih tinggi, terutama ketika infeksi tidak ditangani sejak dini. Klasifikasi “kering” dan “basah” tidak memiliki dasar ilmiah dan bertentangan dengan standar diagnosis yang berlaku.

Dampak Salah Kaprah

Kepercayaan terhadap penggolongan ini membawa konsekuensi klinis. Penderita yang menganggap dirinya memiliki “diabetes kering” kerap mengabaikan luka karena mengira kondisinya ringan, padahal luka yang tampak kering dapat berkembang menjadi infeksi dalam. Sebaliknya, sebagian penderita “diabetes basah” menunda ke fasilitas kesehatan karena khawatir diamputasi, sehingga infeksi semakin meluas. Keterlambatan penanganan adalah faktor utama yang meningkatkan risiko amputasi dan kematian. Data menunjukkan bahwa angka kesembuhan ulkus meningkat secara signifikan apabila perawatan dimulai dalam 24 hingga 48 jam setelah luka ditemukan.

Kesimpulan

Berdasarkan verifikasi terhadap dokumen medis dan sumber resmi, klaim bahwa diabetes terbagi menjadi jenis “kering” dan “basah” adalah tidak akurat. Penyebutan tersebut hanyalah istilah awam untuk menggambarkan kondisi luka, bukan pembagian penyakit yang diakui secara ilmiah. Menjadikannya dasar untuk memilih pengobatan dapat menyesatkan dan menunda penanganan yang tepat. Penderita diabetes yang mengalami luka, baik kering maupun basah, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Rating: SALAH.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
hafiz-rahman

Data Journalist. Mengungkap fakta melalui data. Spesialisasi: analisis forensik digital.

Comments (0)

User