Di Balik Tren Memelihara Batu di Korea dan Cina: Verifikasi Fakta

Sebuah klaim yang menyebar di ruang digital menyebutkan bahwa warga Korea Selatan dan Tiongkok kini menekuni kegiatan yang dianggap tidak lazim: menjadikan batu sebagai peliharaan. Batu-batu tersebut ...

Di Balik Tren Memelihara Batu di Korea dan Cina: Verifikasi Fakta

Sebuah klaim yang menyebar di ruang digital menyebutkan bahwa warga Korea Selatan dan Tiongkok kini menekuni kegiatan yang dianggap tidak lazim: menjadikan batu sebagai peliharaan. Batu-batu tersebut dikabarkan diberi nama, dimandikan, diajak berbicara, bahkan disediakan tempat tidur mini. Berdasarkan verifikasi yang dilakukan terhadap klaim ini, fenomena tersebut memang terekam di berbagai platform, tetapi memerlukan konteks sejarah dan psikologis agar tidak dimaknai secara berlebihan.

Asal-usul klaim dan jejak digital

Klaim bahwa memelihara batu menjadi tren di Korea Selatan dan Tiongkok bersumber dari unggahan media sosial yang memperlihatkan pengguna merawat batu layaknya makhluk hidup. Sejumlah pemberitaan internasional turut mengangkat praktik ini, terutama di kalangan mahasiswa yang mengaku memelihara batu sebagai teman saat belajar. Faktanya adalah fenomena serupa juga dijumpai di Jepang, di mana budaya memberi perhatian emosional kepada benda mati telah lama dikenal melalui konsep tsukumogami dalam cerita rakyat, yakni benda yang diyakini memperoleh jiwa setelah berusia tua. Data menunjukkan bahwa skala tren ini sulit diukur secara pasti, karena sebagian besar bukti bersifat anekdot dari unggahan individual, bukan berasal dari survei resmi atau statistik yang dapat diverifikasi secara independen.

Verifikasi: akar sejarah yang dapat ditelusuri

Praktik memelihara batu bukanlah penemuan kontemporer. Sumber resmi berupa catatan sejarah industri pemasaran mencatat bahwa pada 1975, pengusaha Amerika Serikat bernama Gary Dahl meluncurkan produk Pet Rock, yakni batu biasa yang dikemas dalam kotak kardus lengkap dengan panduan perawatan, dan terjual lebih dari satu juta unit dalam beberapa bulan pertama. Fakta ini menunjukkan bahwa gagasan menjadikan batu sebagai peliharaan telah diminati secara massal hampir lima dekade lalu. Bertentangan dengan anggapan bahwa perilaku ini baru muncul belakangan, bukti sejarah justru memperlihatkan siklus pengulangan fenomena serupa dari generasi ke generasi. Dengan demikian, klaim bahwa praktik ini kini muncul kembali di Asia Timur sejalan dengan pola historis tersebut. Namun, klaim yang menyatakan tren ini bersifat masif di Korea Selatan dan Tiongkok belum didukung data kuantitatif yang dapat diverifikasi; jumlah unggahan yang viral tidak serta-merta mencerminkan prevalensi perilaku di tingkat populasi.

Faktor psikologis di balik perilaku memelihara batu

Pertanyaan mengapa manusia memelihara benda mati dapat dijawab melalui lensa psikologi. Para peneliti, termasuk psikolog Nicholas Epley dari University of Chicago, menunjukkan bahwa manusia memiliki kecenderungan antropomorfisme, yaitu menanamkan sifat manusiawi pada benda tak hidup. Kecenderungan ini meningkat ketika seseorang merasa kesepian, kehilangan kendali, atau berada di lingkungan sosial yang minim interaksi. Merawat batu, yang tidak menuntut apa pun, memberikan kepuasan pada insting merawat tanpa risiko gagal, berbeda dengan hewan peliharaan yang membutuhkan makanan, kesehatan, dan perhatian rutin. Data dari sejumlah studi perilaku menunjukkan bahwa keterikatan terhadap benda mati dapat menurunkan tingkat stres pada sebagian individu, meskipun temuan ini masih menjadi perdebatan di kalangan akademisi. Dalam konteks Korea Selatan dan Tiongkok, tekanan akademik, gaya hidup urban yang serba cepat, serta biaya hidup yang meningkat turut memperkuat daya tarik peliharaan berbiaya rendah dan bebas perawatan. Fenomena ini juga mengingatkan pada tren hewan peliharaan digital di Jepang pada era 1990-an, yang memperlihatkan pola kebutuhan emosional serupa lintas generasi dan lintas negara.

Kesimpulan

Berdasarkan verifikasi terhadap klaim bahwa memelihara batu menjadi tren di Korea Selatan dan Tiongkok, faktanya adalah fenomena tersebut terekam dalam unggahan media sosial dan sejumlah pemberitaan, namun belum ada data resmi yang membuktikan skala maupun durasi tren secara menyeluruh. Klaim yang menggambarkan praktik ini sebagai kebiasaan baru yang tidak masuk akal tidak akurat, sebab sejarah mencatat preseden serupa melalui produk Pet Rock pada 1975. Adapun motivasi di balik perilaku tersebut dapat dijelaskan melalui penelitian tentang antropomorfisme serta kebutuhan emosional manusia akan koneksi dan rasa memiliki. Dengan mempertimbangkan seluruh bukti yang tersedia, klaim dinilai SEBAGIAN BENAR: benar bahwa praktik memelihara batu terjadi dan teramati di kedua negara tersebut, tetapi belum terbukti bahwa tren ini bersifat masif, baru, atau mewakili mayoritas masyarakat. Masyarakat disarankan menyikapi informasi ini secara proporsional, tidak menganggapnya sebagai fenomena luar biasa, tetapi juga tidak mengabaikan bahwa kebutuhan akan keterikatan emosional merupakan bagian mendasar dari perilaku manusia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User