Benyamin Davnie Dorong Kolaborasi Kampus-Industri untuk Tenaga Kerja Global
Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, menegaskan komitmennya untuk memperkuat sinergi antara institusi pendidikan tinggi dan dunia usaha dalam menyiapkan sumber daya manusia lokal agar mampu b...
Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, menegaskan komitmennya untuk memperkuat sinergi antara institusi pendidikan tinggi dan dunia usaha dalam menyiapkan sumber daya manusia lokal agar mampu bersaing dan bekerja di luar negeri. Langkah strategis ini dinilai sebagai respons terhadap dinamika pasar tenaga kerja global yang semakin membutuhkan pekerja terampil dari Indonesia.
Kebutuhan Tenaga Kerja Terampil di Pasar Global
Permintaan terhadap tenaga kerja Indonesia di luar negeri terus meningkat, terutama di sektor perhotelan, perawatan lansia, konstruksi, dan manufaktur. Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa penempatan pekerja migran Indonesia pada tahun lalu naik sekitar 8 persen dibandingkan periode sebelumnya, dengan negara tujuan utama seperti Jepang, Korea Selatan, Jerman, dan Australia. Namun, banyak calon pekerja masih menghadapi kendala bahasa dan kesenjangan keterampilan teknis. Oleh karena itu, pelatihan yang relevan menjadi kunci untuk memenuhi standar internasional. Benyamin melihat bahwa kolaborasi antara kampus dan perusahaan dapat menjadi jembatan efektif untuk mengisi kesenjangan tersebut.
Model Sinergi Kampus dan Industri
Dalam model yang didukung Benyamin, perguruan tinggi di Tangerang Selatan akan menyediakan kurikulum pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik perusahaan mitra di luar negeri. Sementara itu, perusahaan akan memberikan input tentang standar kompetensi, materi praktik, dan bahkan instruktur tamu. Benyamin Davnie menekankan bahwa kerja sama ini bukan sekadar program magang biasa, melainkan pelatihan terstruktur yang berorientasi pada penempatan kerja internasional. “Kita ingin anak muda Tangsel tidak hanya menjadi penonton, tapi menjadi pemain utama di panggung global. Kampus dan industri harus duduk bersama merancang masa depan mereka,” ujarnya dalam sebuah pertemuan yang dihadiri perwakilan beberapa universitas dan perusahaan.
Pelatihan Bahasa dan Keterampilan Khusus
Fokus utama program ini adalah peningkatan kemampuan bahasa asing—terutama Jepang, Korea, dan Inggris—serta keterampilan teknis spesifik sesuai permintaan industri. Misalnya, untuk sektor perawatan lansia di Jepang, peserta akan mendapatkan pelatihan bahasa Jepang level N4, etos kerja, dan teknik perawatan dasar. Sementara itu, untuk pekerjaan di bidang manufaktur Korea Selatan, pelatihan meliputi pengoperasian mesin, keselamatan kerja, dan bahasa Korea untuk komunikasi dasar. Beberapa kampus di Tangsel telah memiliki pusat bahasa dan laboratorium keterampilan yang dapat dioptimalkan. Dengan dukungan pendanaan dari pemerintah daerah dan perusahaan, pelatihan ini diharapkan dapat diakses secara gratis atau dengan biaya terjangkau bagi warga berprestasi namun kurang mampu.
Dampak Ekonomi bagi Tangerang Selatan
Pengiriman tenaga kerja terampil ke luar negeri diproyeksikan akan meningkatkan pendapatan per kapita dan menurunkan tingkat pengangguran di Tangerang Selatan. Remitansi yang dikirim para pekerja migran akan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi lokal, sementara pengalaman internasional mereka dapat ditransfer saat kembali ke tanah air. Benyamin juga menyoroti efek berganda dari program ini: “Ketika SDM kita diakui secara global, citra daerah naik, investasi asing akan semakin tertarik untuk masuk.” Pemerintah kota tengah menyiapkan data base tenaga kerja potensial dan akan memfasilitasi proses sertifikasi kompetensi melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang bekerja sama dengan kampus. Dengan strategi ini, Tangerang Selatan ingin menjadi contoh daerah yang berhasil mengintegrasikan pendidikan, industri, dan pasar kerja global dalam satu ekosistem yang saling menguntungkan.
Comments (0)