Bedah Buku Marhaenisme Dorong Generasi Muda Bangun Diskusi Kritis

Sejarawan dan penulis Bonnie Triyana baru-baru ini menginisiasi sebuah gerakan intelektual yang menyasar anak muda, khususnya Generasi Z, untuk menghidupkan kembali budaya diskusi yang mulai tergerus ...

Sejarawan dan penulis Bonnie Triyana baru-baru ini menginisiasi sebuah gerakan intelektual yang menyasar anak muda, khususnya Generasi Z, untuk menghidupkan kembali budaya diskusi yang mulai tergerus arus digital. Lewat kegiatan bedah buku bertema Marhaenisme, Bonnie mengajak peserta menggali pemikiran Bung Karno tidak sekadar sebagai nostalgia, melainkan sebagai alat analisis terhadap persoalan kontemporer. Acara yang digelar di Lebak, Banten, ini menjadi ruang perjumpaan antara sejarah, ideologi, dan realitas ekonomi digital yang membentuk kesadaran generasi masa kini.

Membedah Marhaenisme di Konteks Kekinian

Buku Marhaenisme yang menjadi bahan diskusi bukan hanya karya historis, melainkan kerangka berpikir yang masih relevan untuk membaca struktur ketimpangan saat ini. Dalam sesi tersebut, Bonnie menekankan bahwa Marhaenisme bukan sekadar label politik, melainkan cara pandang yang menempatkan wong cilik—kaum yang tertindas secara struktural—sebagai subjek utama perjuangan. Peserta diajak memahami bahwa di era digital, kaum Marhaen bisa hadir dalam rupa pekerja lepas, kurir aplikasi, atau buruh pabrik yang teralienasi oleh algoritma.

Diskusi bergulir dengan menelusuri akar pemikiran Soekarno yang mengecam kapitalisme dan imperialisme, lalu memproyeksikannya ke dalam praktik ekonomi platform masa kini. Bonnie memandu anak muda untuk melihat bahwa eksploitasi tenaga kerja tidak lagi melulu berwujud pabrik berasap, tetapi juga dalam bentuk ketidakpastian pendapatan dan kontrol algoritmik yang tak transparan. Dengan demikian, bedah buku ini menjadi jembatan antara warisan intelektual klasik dan kritik sosial modern.

Bayang-Bayang Kudatuli dan Pelajaran Sejarah yang Terlupakan

Untuk mempertajam kesadaran kritis, Bonnie mengangkat peristiwa Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli) 1996 sebagai contoh konkret bagaimana ruang diskusi dan demokrasi bisa direnggut secara paksa. Peristiwa penyerbuan markas PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta, itu menjadi pengingat bahwa kebebasan berpikir dan berorganisasi adalah hal yang mahal dan rentan. Bonnie mengajak peserta tidak melihat sejarah sekadar hafalan tanggal, melainkan sebagai cermin untuk mewaspadai setiap upaya pembungkaman.

Melalui kilas balik ke momen-momen kelam tersebut, peserta diajak merenungkan bahwa budaya berdiskusi adalah benteng demokrasi. Bonnie menekankan, ketika anak muda kehilangan minat pada debat gagasan dan hanya tenggelam dalam konsumsi konten singkat, maka risiko manipulasi informasi dan pengulangan sejarah kelam semakin besar. Kudatuli bukan hanya cerita masa lalu, melainkan peringatan abadi tentang pentingnya mempertahankan ruang publik yang sehat.

Kapitalisme Digital dan Ancaman bagi Kemandirian Berpikir

Bagian paling tajam dari diskusi adalah ketika Bonnie menguliti kapitalisme ekonomi digital yang dinilainya telah menciptakan bentuk penjajahan baru. Platform raksasa teknologi, katanya, membangun ekosistem yang membuat pengguna tidak hanya sebagai konsumen, tetapi juga komoditas. Data pribadi diekstrak, perhatian diperdagangkan, dan algoritma mengarahkan perilaku tanpa disadari. Dalam kerangka Marhaenisme, ini adalah bentuk imperialisme modern yang melemahkan kedaulatan individu.

Bonnie mengajak Generasi Z untuk tidak sekadar fasih menggunakan aplikasi, tetapi juga membongkar logika bisnis di baliknya. Ia mencontohkan bagaimana model gig economy menjanjikan fleksibilitas namun mengaburkan batas eksploitasi. Anak muda sebagai pengguna terbesar media sosial justru menjadi pihak yang paling terekspos risiko adiksi digital dan pembodohan terstruktur. Oleh karena itu, verifikasi dan sikap skeptis yang sehat menjadi fondasi pertahanan diri.

Merawat Berpikir Kritis di Arus Informasi Deras

Lalu bagaimana anak muda bisa menjaga daya kritis? Bonnie menawarkan beberapa strategi yang bisa dipraktikkan. Pertama, biasakan membaca sumber-sumber yang otoritatif dan beragam, jangan terpaku pada satu perspektif. Kedua, aktiflah dalam forum-forum diskusi luring maupun daring; ruang fisik seperti bedah buku ini memberikan kedalaman yang sulit didapat dari sekadar berdebat di kolom komentar. Ketiga, latihlah kemampuan verifikasi fakta, karena hoaks dan disinformasi adalah senjata utama dalam menciptakan masyarakat yang apatis.

Bonnie juga menyoroti perlunya mengembalikan kebiasaan membaca teks panjang di tengah serbuan konten pendek. Buku, katanya, tetap menjadi sumber pengetahuan yang paling lengkap dan mendalam. Dengan membaca dan berdiskusi, anak muda tidak hanya menjadi pintar, tetapi juga memiliki keberanian untuk menyuarakan kebenaran. Ini adalah esensi dari Marhaenisme yang hidup: keberpihakan pada keadilan yang dipandu oleh pengetahuan.

Melalui inisiatif di Lebak ini, Bonnie Triyana menunjukkan bahwa ruang diskusi bukanlah warisan usang. Ia adalah laboratorium gagasan yang bisa melahirkan solusi atas krisis multidimensi yang dihadapi bangsa. Ajakan untuk menghidupkan kembali budaya bedah buku adalah panggilan bagi generasi digital agar tidak tenggelam dalam arus, melainkan menjadi nahkoda yang menentukan arah perubahan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User