Kepastian mengenai pengoperasian kembali Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung untuk rute komersial akhirnya menemui titik terang. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengonfirmasi bahwa bandara bersejarah itu akan membuka kembali layanan penerbangan sipil mulai Agustus 2026. Bahkan, Kementerian Perhubungan disebut telah merestui rencana pengaktifan rute internasional dari landas pacu yang berada di bawah kendali TNI Angkatan Udara itu. Pengumuman ini menandai perubahan besar setelah bertahun-tahun Husein dipinggirkan sebagai bandara komersial.
Dari Sepinya Terminal ke Dominasi Kertajati
Sejak diredamnya aktivitas penerbangan berjadwal di Husein Sastranegara pada 2018, seluruh arus komersial dialihkan ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka. Langkah itu ditempuh untuk mengoptimalkan megaproyek yang jaraknya sekitar 120 km dari pusat Kota Bandung. Namun, kenyataannya, banyak calon penumpang yang mengeluhkan akses darat yang panjang dan minimnya konektivitas menuju Kertajati. Bahkan, berbagai rute penerbangan domestik dan internasional yang semula padat justru berkurang karena sepinya peminat. Kota Bandung yang dikenal sebagai pusat bisnis, pendidikan, mode, dan wisata kehilangan gerbang udara yang dulu memudahkan mobilitas ribuan orang setiap hari.
Husein Sastranegara sendiri sebenarnya sudah menjadi bandara bersama (enclave sipil) di atas lahan militer sejak puluhan tahun silam. Sebelum dilarang menerbangkan jet besar seperti Boeing 737-800 NG dan Airbus A320, bandara ini melayani rute ke sejumlah kota besar nasional serta destinasi internasional seperti Kuala Lumpur dan Singapura. Penutupannya sempat menyisakan rasa kehilangan di kalangan pelaku wisata dan pebisnis. Kini, setelah evaluasi panjang, pemerintah provinsi bersama otoritas pusat kembali melihat urgensi menghadirkan penerbangan dari pusat Bandung, sebagai pelengkap, bukan pesaing, bagi Kertajati.
Lampu Hijau dari Pemerintah Pusat
Dalam perkembangan terbaru, Gubernur Dedi Mulyadi menyampaikan bahwa rencana reaktivasi sudah dibicarakan secara intens dengan Menteri Perhubungan. Hasilnya, kementerian memberikan persetujuan awal untuk mengizinkan Husein Sastranegara kembali melayani penerbangan internasional. Meskipun detail rute dan maskapai yang akan beroperasi belum diumumkan, restu ini menjadi kunci pembuka bagi proses teknis selanjutnya, termasuk pengajuan slot penerbangan kepada otoritas penerbangan sipil dan penyesuaian infrastruktur sisi darat. Sebelumnya, wacana serupa sempat muncul beberapa kali, tetapi selalu terganjal regulasi yang menyatakan Kertajati sebagai satu-satunya pintu gerbang utama penerbangan komersial Jawa Barat. Kali ini, sinyal positif jauh lebih kuat karena didukung oleh pemikiran bahwa segmentasi penerbangan dapat dibagi: Husein untuk rute internasional pendek atau penerbangan eksklusif, sementara Kertajati tetap menjadi simpul utama volume besar serta kargo.
Manajemen Lalu Lintas Udara dan Koordinasi Militer
Salah satu tantangan besar yang harus diselesaikan adalah status Husein sebagai pangkalan udara militer aktif. Landasan tersebut digunakan oleh Skuadron Udara 200 TNI AD dan menjadi markas bagi pesawat angkut serta helikopter militer. Setiap pengaturan jadwal sipil harus selaras dengan kebutuhan operasi angkutan bersenjata. Gubernur Dedi Mulyadi, pada kesempatan terpisah, menegaskan bahwa pihaknya akan memfasilitasi komunikasi antara Kementerian Pertahanan, TNI AU, dan Kementerian Perhubungan agar tidak terjadi benturan operasional. Dalam kerangka itu, slot penerbangan sipil kemungkinan besar akan dibatasi pada jam-jam tertentu dan didesain agar tidak mengganggu misi militer. Pengalaman masa lalu ketika Husein masih melayani penerbangan komersial padat dapat menjadi acuan untuk menyusun skema baru yang lebih harmonis.
Implikasi Ekonomi dan Pariwisata
Dibukanya kembali Husein Sastranegara untuk penerbangan internasional diharapkan menjadi katalisator bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Bandung Raya. Dengan kehadiran wisatawan mancanegara yang bisa langsung mendarat di pusat kota, destinasi seperti Lembang, Braga, Dago, hingga kawasan belanja tekstil di Cigondewah bakal lebih cepat diakses. Industri MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition) yang sempat lesu karena tamu harus menempuh perjalanan darat panjang dari Kertajati juga berpotensi bangkit kembali. Di sisi investasi, kemudahan penerbangan langsung akan menjadi daya tarik bagi investor asing yang kerap menimbang faktor logistik sebelum menanamkan modal. Diperkirakan, maskapai bertarif rendah (low-cost carrier) akan menjadi segmen pertama yang melirik rute-rute jarak dekat seperti Kuala Lumpur atau Ho Chi Minh City, disusul oleh maskapai layanan penuh jika volume penumpang menunjukkan tren positif.
Kertajati Tetap Jadi Poros Utama
Meskipun Husein kembali difungsikan, tidak berarti peran Kertajati tereduksi. Pemerintah provinsi menekankan bahwa kebijakan ini untuk mengoptimalkan dua aset strategis sekaligus, bukan untuk saling mematikan. Kertajati akan terus menjadi bandara utama yang menampung penerbangan berbadan lebar, haji dan umrah, serta logistik kargo besar. Terminal kargo dan fasilitas Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) yang tersedia di Kertajati tidak akan terduplikasi di Husein yang terkendala lahan. Dengan pemetaan seperti itu, keduanya bisa saling melengkapi: Husein menangkap pasar premium dan wisatawan bisnis yang sensitif waktu, sementara Kertajati menjadi kerja pukal untuk pergerakan massal. Konsep dual airport seperti ini bukan hal baru, sejumlah kota besar dunia seperti Tokyo dengan bandara Haneda dan Narita telah lebih dulu menerapkannya.
Harapan Publik dan Langkah ke Depan
Warga Bandung dan pelaku usaha menyambut optimistis rencana ini. Kemudahan terbang langsung dari pusat kota menjadi jawaban atas tingginya permintaan pasca pandemi. Namun, mereka juga berharap agar pelaksanaannya tidak lagi tertunda oleh kendala birokrasi atau perdebatan kewenangan. Gubernur Dedi Mulyadi menyebut bahwa tim teknis akan segera dibentuk untuk mengawal proses sertifikasi bandara sesuai standar otoritas penerbangan sipil dan memastikan kesiapan fasilitas seperti garbarata, apron, dan ruang tunggu keberangkatan. “Agustus 2026, target kami Husein sudah bisa digunakan kembali. Ini bukan sekadar wacana,” ujarnya dalam sebuah pertemuan, sebagaimana diinformasikan. Jika semua tahap berjalan lancar, jadwal tersebut bukan mustahil terwujud. Dengan demikian, langit Bandung yang lama sunyi dari deru pesawat komersial berjadwal akan segera kembali semarak, membawa harapan baru bagi ekonomi dan mobilitas masyarakat Jawa Barat.
Comments (0)