Krisis asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Sumatera Selatan tidak hanya menjadi persoalan lingkungan dan kesehatan. Di balik kabut tebal yang menyelimuti sejumlah daerah, terdapat persoalan lain yang sama seriusnya: kegagalan komunikasi publik dari para pejabat. Berdasarkan verifikasi terhadap sejumlah pemberitaan dan pernyataan resmi, pola komunikasi yang cenderung teknis dan birokratis justru memperlebar jarak antara pemerintah dan masyarakat yang terdampak.
Data Teknis Tidak Menjawab Kebutuhan Warga
Dalam situasi darurat asap, insting pertama aparat biasanya menyajikan angka. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), jumlah titik panas, luas lahan terbakar, hingga kalkulasi curah hujan. Semua data itu penting secara operasional, tetapi verifikasi terhadap respons warga menunjukkan hal berbeda. Yang dibutuhkan masyarakat bukanlah tabel statistik, melainkan kepastian apakah anak mereka aman, apakah sekolah akan diliburkan, dan di mana mereka bisa mendapatkan masker serta layanan kesehatan.
Klaim bahwa publik cukup dipasok data teknis bertentangan dengan realitas di lapangan. Data menunjukkan bahwa kualitas udara di sejumlah kabupaten dan kota di Sumsel pernah berada pada kategori berbahaya. Namun, kanal komunikasi resmi lebih banyak memuat angka ketimbang instruksi praktis. Faktanya adalah informasi yang bersifat teknis tanpa terjemahan kebijakan konkret hanya menciptakan kebingungan, bukan rasa aman.
Klaim: Masyarakat cukup diberikan penjelasan teknis dan data resmi soal karhutla.
Fakta: Verifikasi terhadap kebutuhan warga menunjukkan prioritas utama adalah rasa didengar, dipahami, dan dilindungi.
Rasa Didengar Lebih Penting dari Sekadar Penjelasan
Komunikasi publik yang efektif dalam keadaan darurat menuntut empati, bukan sekadar penyampaian informasi satu arah. Berdasarkan verifikasi terhadap pola tanggapan pejabat, banyak pernyataan resmi berfokus pada pembelaan institusi, misalnya menegaskan bahwa pemerintah sudah bekerja maksimal atau bahwa asap berasal dari daerah lain. Narasi semacam itu, meski mungkin benar secara administratif, berpotensi menyesatkan karena mengalihkan perhatian dari penderitaan warga.
Sumber resmi menunjukkan bahwa korban ISPA akibat asap karhutla terus bertambah di berbagai fasilitas kesehatan. Fakta ini seharusnya menjadi dasar komunikasi yang berorientasi pada perlindungan, bukan pada pencitraan. Bukti dari berbagai krisis serupa di daerah lain memperlihatkan bahwa kepercayaan publik hanya tumbuh ketika pejabat hadir secara fisik, mendengarkan keluhan, dan memberikan solusi yang bisa langsung dirasakan.
Pernyataan yang bersifat menghibur atau menyepelekan kondisi asap, seperti mengajak warga bersyukur atau menganggap kabut sebagai hal biasa, bertentangan dengan prinsip komunikasi krisis. Verifikasi menunjukkan bahwa pernyataan tersebut tidak hanya tidak akurat secara ilmiah, tetapi juga melukai rasa keadilan masyarakat yang setiap hari menghirup udara tercemar.
Kesenjangan Antara Kebijakan dan Pengalaman Warga
Kebijakan penanggulangan karhutla sebenarnya sudah diatur melalui berbagai regulasi, mulai dari tingkat nasional hingga daerah. Namun, verifikasi terhadap implementasinya menemukan kesenjangan antara apa yang tertulis di dokumen dan apa yang dialami warga. Misalnya, kewajiban menyediakan ruang udara bersih atau masker gratis sering kali tidak terealisasi merata. Data menunjukkan bahwa distribusi bantuan kerap terlambat atau tidak tepat sasaran.
Dalam konteks ini, komunikasi pejabat seharusnya menjadi jembatan, bukan tembok. Klaim bahwa semua sudah berjalan sesuai prosedur tidak cukup ketika warga masih mengeluh kesulitan mendapatkan layanan kesehatan. Faktanya adalah kredibilitas pemerintah diuji bukan oleh banyaknya rapat koordinasi, melainkan oleh cepatnya respons di tingkat akar rumput.
Beberapa langkah perbaikan dapat dirujuk dari praktik terbaik penanganan krisis. Pertama, pejabat perlu menyampaikan informasi dengan bahasa sederhana dan langsung menyentuh kebutuhan harian. Kedua, kanal pengaduan harus benar-benar berfungsi dan ditindaklanjuti. Ketiga, kehadiran simbolik di lokasi terdampak memiliki bobot psikologis yang besar bagi warga yang merasa diabaikan.
Berdasarkan verifikasi, akar persoalan bukan pada kurangnya data, melainkan pada pendekatan komunikasi yang tidak manusiawi. Selama pejabat berbicara kepada publik seperti sedang membaca laporan teknis, selama itu pula jarak emosional akan terus melebar. Masyarakat tidak menuntut kesempurnaan, tetapi mereka berhak merasa dilindungi. Kegagalan memahami hal ini adalah bentuk krisis komunikasi yang sesungguhnya, dan dampaknya jauh lebih lama daripada asap itu sendiri.
Comments (0)