Oct 09, 2026
factcheck

AI Dinilai Distorsi Komunikasi Prabowo dengan Publik

Komunikasi politik di era digital menghadapi tantangan struktural yang belum pernah ditemui oleh pemimpin generasi sebelumnya. Salah satu isu yang kini mengemuka adalah peran kecerdasan buatan dalam m...

AI Dinilai Distorsi Komunikasi Prabowo dengan Publik

Komunikasi politik di era digital menghadapi tantangan struktural yang belum pernah ditemui oleh pemimpin generasi sebelumnya. Salah satu isu yang kini mengemuka adalah peran kecerdasan buatan dalam membentuk persepsi publik terhadap kepala negara. Seorang pejabat struktural partai menyebut bahwa disrupsi teknologi, khususnya kecerdasan buatan, telah menjadi penghalang paling nyata dalam membangun hubungan langsung antara Presiden Prabowo Subianto dengan warga.

Kecerdasan Buatan sebagai Penghalang Komunikasi

Syahganda Nainggolan, yang menjabat sebagai Kepala Badan Komunikasi Strategis, menyampaikan bahwa teknologi digital telah mengubah cara pesan politik diterima dan ditafsirkan oleh masyarakat. Menurutnya, algoritma yang mengatur aliran informasi di platform daring kerap menyaring, memiringkan, bahkan memanipulasi konten yang seharusnya sampai kepada publik. Akibatnya, apa yang disampaikan kepala negara tidak selalu dipahami sebagaimana mestinya.

Dalam berbagai kesempatan, Syahganda menekankan bahwa masalah ini bukan sekadar soal sarana penyampaiannya, melainkan soal bagaimana otak manusia memproses informasi yang datang dalam jumlah masif dan dalam waktu bersamaan. Ia menggambarkan kondisi tersebut sebagai situasi di mana pikiran masyarakat mengalami distorsi akibat paparan konten yang tidak autentik. Konten sintetis, video hasil manipulasi, dan narasi yang dibangun secara otomatis oleh sistem komputasi membuat warga kesulitan membedakan mana informasi resmi dan mana yang direkayasa.

Faktanya adalah, fenomena ini bukan isu lokal semata. Berbagai negara dengan tingkat penetrasi internet tinggi telah mencatat peningkatan signifikan dalam penyebaran konten hasil generatif yang menyesatkan. Laporan dari institusi riset global menunjukkan bahwa sebagian besar pemilih di banyak negara pernah terpapar setidaknya satu bentuk disinformasi digital selama periode pemilihan umum. Data semulainya menunjukkan bahwa Indonesia, dengan jumlah pengguna internet yang sangat besar, termasuk dalam kategori rawan terhadap dampak serupa.

Tantangan Membangun Kepercayaan Publik

Klaim bahwa hambatan utama komunikasi presiden terletak pada teknologi tentu perlu dilihat dari berbagai sudut. Berdasarkan pola yang teramati di lapangan, kepercayaan publik terhadap pemimpin tidak hanya dibentuk oleh kebijakan, tetapi juga oleh cara informasi tentang kebijakan itu tersebar. Ketika algoritma platform lebih mengutamakan konten yang memancing emosi ketimbang konten yang akurat, pesan pemerintah berpotensi kalah bersaing dengan narasi alternatif yang belum tentu berbasis fakta.

Situasi ini diperparah oleh berkembangnya teknologi yang memungkinkan pembuatan gambar, suara, dan video palsu dengan kualitas tinggi dan biaya rendah. Dalam konteks politik, hal tersebut membuka peluang bagi pihak-pihak yang berkepentingan untuk membangun citra negatif tentang kepala negara secara masif. Warga yang tidak memiliki literasi digital memadai menjadi pihak yang paling rentan terhadap dampak tersebut.

Verifikasi terhadap isu ini juga menunjukkan bahwa pemerintah sendiri telah menyadari urgensi masalah tersebut. Sejumlah regulasi terkait tata kelola data dan penanganan konten ilegal telah dijalankan, meski implementasinya masih menghadapi tantangan teknis dan hukum. Kementerian komunikasi secara rutin melakukan pemantauan terhadap penyebaran berita bohong, namun laju produksi konten sintetis jauh melampaui kapasitas moderasi yang tersedia.

Implikasi bagi Arah Politik Pemerintahan

Apabila distorsi informasi dibiarkan berlanjut, implikasinya tidak terbatas pada penurunan popularitas semata. Faktanya adalah, komunikasi yang buruk dapat mengurangi efektivitas program pemerintah, karena warga tidak memahami manfaat atau tujuan kebijakan yang berjalan. Program bantuan sosial, reformasi birokrasi, maupun strategi ekonomi memerlukan pemahaman publik agar dapat diterima dan didukung secara luas.

Sumber resmi dari kalangan akademik juga mencatat bahwa negara-negara yang berhasil menjaga integritas ruang publik digital biasanya menggabungkan tiga elemen: regulasi yang tegas, pendidikan literasi digital sejak dini, serta kolaborasi dengan platform teknologi. Ketiganya harus berjalan simultan, bukan berdiri sendiri.

Klaim dari kepala badan komunikasi strategis tersebut pada dasarnya mengingatkan bahwa pekerjaan pemerintahan modern tidak lagi hanya soal menyusun kebijakan yang baik, tetapi juga soal memastikan kebijakan itu sampai ke telinga dan pikiran warga tanpa terdistorsi. Dalam arena politik yang semakin kompleks, kemampuan mengelola narasi di ruang digital setara dengan kemampuan mengelola pemerintahan itu sendiri.

Ke depan, pertanyaan yang perlu dijawab adalah apakah seluruh elemen bangsa mampu beradaptasi dengan kecepatan perubahan teknologi. Jika tidak, jarak antara kepala negara dan rakyatnya tidak hanya diukur secara geografis, tetapi juga secara kognitif—jarak yang justru semakin lebar karena campur tangan mesin dalam menentukan apa yang kita lihat, dengar, dan percaya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS ramadiansyah

Editor Investigasi. Pemenang penghargaan jurnalisme investigasi. Spesialisasi: korupsi, kolusi, dan maladministrasi.

Comments (0)

User