Jakarta — Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan menyatakan optimisme tinggi terhadap kemampuan Sudaryono dalam memimpin dan membenahi Badan Gizi Nasional (BGN). Pernyataan itu disampaikan menyusul penunjukan Sudaryono sebagai kepala BGN yang baru, menggantikan Nanik yang mengundurkan diri karena alasan kesehatan. Zulkifli Hasan, yang akrab disapa Zulhas, meyakini bahwa dalam kurun satu hingga dua bulan ke depan, lembaga yang bertanggung jawab atas kebijakan pangan dan gizi nasional itu akan menunjukkan perubahan signifikan.
Pergantian pucuk pimpinan BGN terjadi secara mendadak setelah Nanik menyampaikan surat pengunduran diri. Kondisi kesehatannya yang menurun disebut-sebut sebagai alasan utama di balik keputusan tersebut. Pemerintah kemudian menunjuk Sudaryono, yang dikenal memiliki rekam jejak di bidang pangan dan logistik, untuk mengisi kekosongan itu. Penunjukan ini diumumkan dalam rapat koordinasi terbatas yang dipimpin langsung oleh Menteri Koordinator terkait, meskipun detail proses seleksi tidak diungkap secara terbuka.
Transisi Kepemimpinan dan Ekspektasi Tinggi
Zulhas, yang selama ini kerap menyoroti isu ketahanan pangan dan gizi masyarakat, mengungkapkan bahwa Sudaryono memiliki kapasitas untuk segera mengkonsolidasikan internal BGN. “Saya melihat Pak Sudaryono paham betul masalah-masalah mendasar yang dihadapi lembaga ini. Dengan pengalaman yang dimiliki, saya optimistis dalam satu sampai dua bulan pertama akan terlihat langkah-langkah perbaikan,” ujar Zulhas di sela-sela acara diskusi publik di Jakarta. Ia menambahkan bahwa BGN memerlukan figur yang tangguh dan mampu bekerja cepat di tengah target-target strategis nasional, terutama terkait penurunan angka stunting dan peningkatan gizi anak.
Badan Gizi Nasional sendiri merupakan lembaga yang memiliki mandat besar, mulai dari pengawasan distribusi pangan bergizi, penyusunan standar konsumsi, hingga koordinasi program bantuan pangan. Di bawah kepemimpinan Nanik, lembaga ini menghadapi sejumlah tantangan, termasuk alokasi anggaran yang belum optimal dan lambatnya implementasi program di daerah. Pengunduran diri Nanik sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengamat bahwa transisi akan menghambat kinerja BGN. Namun, penunjukkan Sudaryono yang dinilai cepat direspons oleh pemerintah mampu meredam keraguan tersebut.
Tantangan yang Harus Dihadapi Sudaryono
Meski optimisme disuarakan, pekerjaan rumah Sudaryono tidak ringan. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan masih ada sekitar 24 persen balita di Indonesia yang mengalami stunting, sementara target penurunan menjadi 14 persen pada tahun 2025 memerlukan langkah akseleratif. BGN sebagai koordinator program gizi lintas kementerian harus mampu menyelaraskan berbagai kebijakan yang selama ini terkesan tumpang tindih. “Tantangan terbesarnya adalah membangun sinergi dengan kementerian lain, seperti Kesehatan, Sosial, dan Pertanian, agar program bantuan gizi tepat sasaran dan tepat waktu,” jelas pengamat kebijakan publik, Dr. Andi Prasetyo, saat dihubungi terpisah.
Selain itu, Sudaryono harus segera melakukan evaluasi internal, terutama terkait penyerapan anggaran yang pada semester pertama tahun ini tercatat baru mencapai 38 persen. Rendahnya serapan itu berdampak pada distribusi makanan tambahan untuk ibu hamil dan balita di daerah terpencil. Para pegawai BGN pun dikabarkan menanti arahan tegas dari pemimpin baru untuk keluar dari kebiasaan birokratis yang lamban.
Strategi Perbaikan dalam Dua Bulan
Sumber di lingkungan BGN menyebutkan bahwa Sudaryono telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mengejar ketertinggalan. Pertama, ia akan merevisi mekanisme pengadaan dan penyaluran bantuan pangan agar lebih transparan dan efisien. Kedua, membentuk satuan tugas internal yang bertugas mengawasi langsung program di lapangan. Ketiga, membangun sistem pelaporan real-time yang memungkinkan masyarakat turut mengawasi penyaluran bantuan. “Pak Sudaryono ingin ada perubahan budaya kerja. Dua bulan pertama adalah masa transisi yang akan difokuskan pada pembenahan administrasi dan percepatan program yang tertunda,” ujar sumber tersebut yang enggan disebutkan namanya.
Zulhas pun menekankan pentingnya dukungan penuh dari semua pihak. Ia menyatakan bahwa PAN sebagai partai yang memiliki perhatian pada kesejahteraan rakyat siap mendukung kebijakan BGN di parlemen, termasuk dalam pembahasan anggaran. “Kami akan memastikan BGN mendapat ruang fiskal yang memadai. Program gizi tidak bisa ditawar-tawar,” tegasnya. Dukungan politik ini dinilai krusial mengingat proses pengesahan anggaran seringkali menjadi hambatan bagi lembaga-lembaga semacam BGN.
Harapan Publik dan Penutup
Masyarakat dan organisasi peduli gizi berharap pergantian kepemimpinan ini bukan sekadar pergantian figur, melainkan juga momentum perbaikan menyeluruh. Aktivis dari LSM Pangan Sehat Indonesia, Dewi Lestari, menyambut baik penunjukan Sudaryono namun mengingatkan agar janji transparansi benar-benar diwujudkan. “Kami akan mengawal. Jangan sampai setelah dua bulan hanya janji yang kami dengar,” ucapnya.
Dengan kepercayaan yang diberikan Zulhas dan ekspektasi yang tinggi dari berbagai kalangan, Sudaryono kini berada di bawah sorotan. Waktu satu hingga dua bulan memang terbilang singkat, namun jika ia mampu menunjukkan hasil nyata, bukan tidak mungkin BGN akan bertransformasi menjadi lembaga yang lebih responsif dan berdampak langsung pada perbaikan gizi nasional. Langkah pertama di bawah kendali Sudaryono akan menjadi ujian bagi seluruh jajaran BGN untuk membuktikan bahwa optimisme Zulhas bukanlah sekadar retorika politik.
Comments (0)