Wali Kota New York Desak Penangkapan Netanyahu, Bappisus RI Gandeng PTN

Dua peristiwa penting mencuat hampir bersamaan, mencerminkan dinamika global dan nasional yang sedang berlangsung. Dari New York, Wali Kota Zohran Mamdani

Wali Kota New York Desak Penangkapan Netanyahu, Bappisus RI Gandeng PTN

Dua peristiwa penting mencuat hampir bersamaan, mencerminkan dinamika global dan nasional yang sedang berlangsung. Dari New York, Wali Kota Zohran Mamdani melontarkan desakan kontroversial agar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ditangkap. Sementara itu di Jakarta, Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (Bappisus) RI justru memilih jalur kolaborasi dengan menggandeng Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) untuk membahas dan mencari solusi atas berbagai permasalahan strategis bangsa. Kedua langkah ini menunjukkan perbedaan pendekatan kepemimpinan, namun memiliki benang merah yang sama: upaya menegakkan keadilan dan akuntabilitas, baik di panggung internasional maupun di ranah domestik.

Desakan Moral dari New York: Wali Kota Minta Netanyahu Ditangkap

Zohran Mamdani, yang dikenal sebagai wali kota progresif pertama keturunan Asia Selatan di New York, secara terbuka menyampaikan desakan penangkapan terhadap Benjamin Netanyahu. Seruan ini tidak muncul dalam ruang hampa, melainkan merespons dinamika hukum internasional yang tengah berlangsung. Mahkamah Pidana Internasional (ICC) sebelumnya telah mengeluarkan surat perintah penangkapan bagi Netanyahu dan beberapa pejabat tinggi Israel lainnya atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Jalur Gaza. Meskipun Amerika Serikat bukan merupakan pihak dari Statuta Roma yang menjadi dasar yurisdiksi ICC, Mamdani menilai posisi moral kota global seperti New York tidak bisa diam.

“Kami sadar bahwa secara teknis pemerintah kota tidak memiliki wewenang untuk mengeksekusi surat perintah internasional tersebut. Namun, kami memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan bahwa impunitas tidak mendapat tempat di kota ini,” demikian pernyataan Mamdani yang dikutip dari keterangan persnya. Desakan ini sontak memicu perdebatan sengit di kalangan politisi New York. Sejumlah anggota dewan kota dari kubu progresif menyambut baik langkah simbolik ini, sementara pihak oposisi menilainya sebagai tindakan di luar batas kewenangan seorang wali kota dan berpotensi memperkeruh hubungan diplomatik. Meski begitu, Mamdani menegaskan bahwa tekanan dari kota-kota besar global memiliki kekuatan untuk membentuk opini dunia dan mendesak pertanggungjawaban para pemimpin yang diduga melanggar hukum humaniter internasional.

Bappisus RI Libatkan Kampus: Mencari Solusi untuk Masalah Negeri

Di sisi lain, Bappisus sebagai lembaga baru yang dibentuk untuk mengawal efektivitas pembangunan nasional menggelar diskusi kebangsaan bersama MRPTNI. Forum yang digelar di Jakarta ini menjadi wadah dialog strategis antara pengambil kebijakan dan kalangan akademisi. Bappisus memiliki mandat utama untuk melakukan pengendalian dan investigasi khusus terhadap proyek-proyek strategis nasional, guna memastikan pembangunan berjalan tanpa kebocoran dan tepat sasaran. Namun, lembaga ini juga menyadari bahwa pendekatan teknokratis semata tidak akan cukup tanpa dukungan basis keilmuan dan pengawasan partisipatif dari masyarakat sipil serta kampus.

“Kami tidak ingin bekerja dalam silo. Perguruan tinggi memiliki kemandirian riset dan sumber daya intelektual yang dapat menjadi mitra kritis dalam mengawal tata kelola pemerintahan,” ujar perwakilan Bappisus. Diskusi ini menghasilkan beberapa poin penting yang akan ditindaklanjuti dalam waktu dekat:

  • Pengembangan sistem pengawasan terpadu yang memanfaatkan big data dan kecerdasan buatan untuk mendeteksi anomali dalam realisasi proyek pembangunan.
  • Pembentukan satuan tugas bersama antara Bappisus dan perguruan tinggi untuk melakukan audit investigasi di daerah-daerah rawan korupsi.
  • Kolaborasi riset dan publikasi terkait kebijakan publik, sehingga setiap rekomendasi didasarkan pada bukti ilmiah yang kuat.
  • Program magang dan pelatihan bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dalam mekanisme pengawasan dan investigasi khusus.

Pihak MRPTNI menyambut antusias tawaran kolaborasi ini. Menurut mereka, selama ini banyak riset akademis yang hanya berakhir di perpustakaan tanpa menyentuh proses pengambilan kebijakan. Inisiatif Bappisus dianggap sebagai peluang emas untuk menjembatani dunia kampus dengan birokrasi pemerintahan, menciptakan ekosistem pengawasan yang lebih inklusif dan transparan.

Cermin Kepemimpinan: Global versus Domestik

Dua peristiwa yang terjadi di belahan bumi berbeda ini menjadi cerminan bagaimana kepemimpinan dapat dijalankan dengan pendekatan yang beragam namun berbagi semangat akuntabilitas. Di New York, seorang wali kota menggunakan panggung global kotanya untuk menyampaikan tekanan moral terhadap isu pelanggaran HAM dan hukum perang. Sementara di Jakarta, sebuah badan negara memilih untuk memperkuat fondasi dari dalam, merangkul kalangan intelektual guna memastikan bahwa pembangunan nasional tidak melenceng dari rel yang seharusnya.

Kedua langkah ini menegaskan bahwa upaya membangun keadilan memerlukan sinergi lintas sektor dan lintas batas. Jika desakan dari New York dapat memengaruhi opini publik global dan mempercepat proses hukum internasional, maka kolaborasi Bappisus dengan kampus merupakan investasi jangka panjang bagi tata kelola pemerintahan yang bersih di Indonesia. Di tengah kompleksitas tantangan global, Indonesia memilih untuk memperkuat pilar internal sebagai landasan bagi pembangunan berkelanjutan yang berintegritas.