Verifikasi Klaim Butuh 50 Jam Berteman dan 200 Jam Sahabat Dekat
Sebuah pernyataan tentang waktu yang dibutuhkan manusia untuk membangun pertemanan kembali beredar luas dalam unggahan media sosial dan percakapan daring. Narasi tersebut menyebutkan bahwa seorang ind...
Sebuah pernyataan tentang waktu yang dibutuhkan manusia untuk membangun pertemanan kembali beredar luas dalam unggahan media sosial dan percakapan daring. Narasi tersebut menyebutkan bahwa seorang individu rata-rata memerlukan sekitar lima puluh jam kebersamaan sebelum dua orang yang saling mengenal dapat disebut berteman, dan hampir dua ratus jam agar ikatan di antara mereka menjadi jauh lebih erat. Berdasarkan verifikasi yang dilakukan terhadap literatur ilmiah, angka-angka pada narasi tersebut memiliki dasar pada riset nyata, tetapi penyajiannya mereduksi temuan yang sebenarnya lebih kompleks.
KLAIM
Narasi yang beredar menyatakan bahwa dua orang yang baru saling mengenal membutuhkan sekitar lima puluh jam waktu bersama sebelum dapat disebut berteman, serta hampir dua ratus jam tambahan agar persahabatan mereka tumbuh menjadi jauh lebih dekat.
Klaim bahwa durasi interaksi menjadi penentu utama kedekatan pertemanan menarik untuk diuji karena menyentuh pengalaman sosial sehari-hari. Pertanyaan yang diajukan dalam verifikasi ini sederhana: apakah data menunjukkan adanya ambang waktu seperti itu, dan apakah ambang tersebut berlaku secara universal bagi semua orang?
SUMBER KLAIM
Perlu dicatat bahwa narasi yang beredar tidak menyertakan rujukan berupa nama riset, peneliti, maupun institusi akademik. Ketidakhadiran sumber resmi dalam penyebaran klaim menjadi catatan awal yang mempersulit proses penelusuran. Untuk menguji kebenarannya, verifikasi dilakukan dengan menelusuri basis data jurnal ilmiah dan membandingkan angka pada klaim terhadap temuan studi yang terdokumentasi secara akademik.
VERIFIKASI
Berdasarkan verifikasi penelusuran, angka yang disebutkan memiliki kemiripan kuat dengan hasil studi Jeffrey A. Hall, profesor kajian komunikasi di University of Kansas. Studi tersebut diterbitkan dalam jurnal ilmiah peer-review Journal of Social and Personal Relationships pada 2019 dan dapat ditelusuri melalui basis data jurnal internasional. Riset ini melibatkan 355 orang dewasa yang baru berpindah domisili dalam enam bulan terakhir, lalu menganalisis hubungan-hubungan baru yang terbentuk pada periode tersebut. Studi ini termasuk rujukan yang paling sering dikutip dalam pembahasan mengenai waktu pembentukan pertemanan.
Data menunjukkan bahwa pembentukan pertemanan berlangsung bertingkat, tidak sekaligus. Menurut studi tersebut, transisi dari sekadar kenalan menjadi teman biasa membutuhkan sekitar lima puluh jam kebersamaan; untuk naik menjadi teman secara utuh diperlukan sekitar sembilan puluh jam; sementara untuk menjadi sahabat dekat dibutuhkan lebih dari dua ratus jam. Angka pada klaim — lima puluh jam dan mendekati dua ratus jam — berada dalam rentang temuan tersebut.
FAKTA
Faktanya adalah, klaim tersebut tidak bertentangan dengan temuan inti studi Hall, tetapi terdapat setidaknya tiga hal penting yang dihilangkan. Pertama, angka pada klaim adalah rata-rata dengan rentang yang lebar: sebagian responden menjadi dekat jauh lebih cepat, sebagian lain membutuhkan waktu lebih lama. Kedua, penyebutan bahwa lima puluh jam cukup untuk membentuk pertemanan tidak sepenuhnya akurat, karena dalam studi tersebut ambang lima puluh jam hanya mengantarkan seseorang menjadi teman biasa, bukan teman secara utuh. Ketiga, waktu bukan satu-satunya variabel yang menentukan kedekatan.
Kualitas interaksi memegang peran yang tidak kalah penting. Riset Arthur Aron dan koleganya yang dipublikasikan dalam Personality and Social Psychology Bulletin pada 1997 menunjukkan bahwa percakapan terstruktur dengan saling membuka diri mampu menciptakan kedekatan emosional hanya dalam satu sesi pertemuan — jauh lebih singkat dibandingkan ambang waktu pada klaim. Sebaliknya, studi Hall sendiri menunjukkan bahwa kebersamaan yang dihabiskan untuk aktivitas bersama menjadi prediktor kuat bagi kedekatan, tetapi tetap bukan satu-satunya faktor.
Catatan lain, studi Hall berbasis laporan diri responden dari satu populasi tertentu, sehingga hasilnya tidak dapat digeneralisasi sebagai aturan universal. Penelitian antropolog evolusioner Robin Dunbar dari University of Oxford menunjukkan bahwa pemeliharaan hubungan dekat menuntut interaksi yang rutin, dan lingkaran pertemanan manusia cenderung menyempit seiring bertambahnya usia karena keterbatasan waktu dan energi. Kedua temuan ini memperkuat kesimpulan bahwa jam kebersamaan hanyalah salah satu komponen dalam dinamika pertemanan.
KESIMPULAN
Berdasarkan verifikasi, klaim mengenai ambang lima puluh jam untuk membentuk pertemanan dan hampir dua ratus jam untuk kedekatan yang lebih dalam dinilai SEBAGIAN BENAR. Angka inti klaim selaras dengan temuan studi Jeffrey A. Hall (2019) yang diterbitkan dalam Journal of Social and Personal Relationships, tetapi penyajiannya menyesatkan karena menghilangkan nuansa: jenjang pertemanan yang bertingkat, rentang antarindividu yang lebar, serta peran kualitas interaksi yang tidak dapat diukur hanya dengan jumlah jam. Sumber resmi yang menjadi dasar verifikasi antara lain studi Hall (2019) di Journal of Social and Personal Relationships dan riset Aron dkk. (1997) di Personality and Social Psychology Bulletin.
Comments (0)